Presiden Belarus Jadi Tamu Negara Pertama Yang Menginap di Istana Negara

0
2227IMG-20260702-WA0035

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko jalan bersama menuju pintu masuk Istana (Foto: BPMI Setpres)

El John News, Jakarta-Presiden Belarus Alexander Lukashenko mencatat sejarah sebagai kepala negara pertama yang menginap di Istana Negara dalam rangka kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Keputusan tersebut menjadi bagian dari penghormatan yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada tamu negara.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, pada umumnya para kepala negara yang berkunjung ke Indonesia memilih bermalam di hotel. Namun, Presiden Lukashenko secara khusus menyampaikan keinginan untuk menginap di lingkungan Istana Kepresidenan.

“(Presiden Belarus menginap) di Istana Negara,” kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.

Menurut Sugiono, awalnya pemerintah menyiapkan Wisma Negara sebagai tempat menginap Presiden Belarus. Namun, Presiden Prabowo Subianto memutuskan Istana Negara dinilai lebih representatif untuk menerima tamu negara tersebut.

“Saya kira kita memberikan penghormatan karena biasanya juga kalau kunjungan kenegaraan presiden yang lain berkehendak di hotel, tapi beliau kali ini berkehendak untuk bisa di istana. Tadinya di Wisma Negara, tapi Pak Presiden (Prabowo) menilai yang lebih representatif ya di Istana,” ujarnya.

Sugiono memastikan belum pernah ada kepala negara yang menginap di Istana Negara sebelumnya. Ia menyebut tamu kenegaraan terakhir yang bermalam di kawasan Istana adalah Perdana Menteri Kamboja Hun Sen yang saat itu menginap di Wisma Negara.

“Presiden yang pertama (yang menginap) di Istana Negara. Kalau di Wisma Negara terakhir itu Perdana Menteri Kamboja Hun Sen,” kata Sugiono.

Kunjungan Presiden Lukashenko ke Indonesia merupakan kunjungan balasan setelah Presiden Prabowo lebih dahulu berkunjung ke Belarus. Pertemuan kedua pemimpin negara menjadi momentum untuk mempererat hubungan bilateral yang dinilai semakin berkembang.

Pemerintah Indonesia dan Belarus juga akan meluncurkan peta jalan kerja sama bilateral yang mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, pertanian, hingga penyediaan bahan baku pupuk.

Selain agenda kenegaraan, hubungan ekonomi kedua negara juga menunjukkan perkembangan positif. Forum bisnis Indonesia-Belarus yang telah digelar sebelumnya menghasilkan potensi kerja sama senilai sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp8,9 triliun.

“Kalau saya tidak salah laporannya itu US$500 juta. Dan saya kira ini juga kedua presiden sepakat bahwa angka-angka yang ada, baik di bidang perdagangan maupun investasi, merupakan angka-angka yang perlu peningkatan untuk kemajuan kedua negara,” ujarnya.

Belarus sendiri merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Eurasia. Hubungan ekonomi kedua negara diperkirakan akan semakin kuat setelah Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) menandatangani perjanjian perdagangan bebas pada akhir 2025, yang membuka peluang lebih besar bagi peningkatan perdagangan, investasi, dan kerja sama di berbagai sektor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *