Jeruk Pamelo Ikon Kabupaten Pangkep yang Disukai Gubernur Sulsel
Sulawesi Selatan (Sulsel) menyimpan begitu banyak sumber daya alam, baik itu berupa pertanian dan perikanan. Sejumlah daerah, bahkan menjadi sentra penghasil komoditi utama. Salah satunya, jeruk jumbo atau jeruk pamelo di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Jeruk berukuran besar berwarna hijau kekuning-kuningan ini juga telah menjadi ikon Pangkep, dengan berat 1-2,5 Kg perbuah ini bahkan sudah dibudidayakan secara turun temurun.
Di Pangkep tidak sulit menemukannya. Apalagi pada saat musim panen, jeruk ini dipasarkan di pinggir jalan, berjejer rapi, berundak-undak dan tinggi di jalan, letaknya cukup strategis, sebab menjadi jalan lintas dari Kabupaten Maros menuju kabupaten lain seperti Barru dan Pare-Pare. Dari Makassar pun dapat ditempuh sekitar 1-2 jam.
Penjabat Gubernur Sulsel saat melintas usai meninjau pembangunan rel kereta api Trans Sulawesi di Barru, langsung menghentikan kendaraannya dan singgah di salah satu kios membeli jeruk yang kulitnya dapat dijadikan mobil-mobilan.
“Bu ini bedanya apa?” tanya Sumarsono kepada pemilik kios, sembari menunjuk ke arah jeruk yang dijual yang memiliki tampilan luar hampir sama.
“Ini jeruk gula-gula Pak, paling manis, yang lainnya jeruk merah dan jeruk putih,” kata Handra pemilik kios berbeda Mega Buana Nomor 14, yang terletak di Kampung Mangkaca, Kelurahan Bontomatene, Kecamatan Segeri.
Ditemani isteri, Tri Rachayu, mereka membeli sebanyak 30 buah jeruk dan dibagikan ke rombongan yang ikut. Jeruk tersebut dijual seharga Rp 10 ribu perbuah.
