Headline News

Antisipasi Kebakaran Hutan, IPB Bentuk Pusat Data Pengendalian Kebakaran Hutan

Institut Pertanian Bogor (IPB) turun tangan dalam mengantisipasi kasus-kasus kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia.  Antisipasi yang dilakukan IPB dengan membentuk  Pusat Data Pengendalian Kebakaran Hutan regional Asia Tenggara (RFMRC-SEA) untuk memberikan informasi dan data secara akurat dalam rangka pengendalian kebakaran hutan.

Profesor Bambang Hero Saharjo dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor selaku kepala lembaga independen tersebut mengatakan RFMRC-SEA  akan memberikan data dan informasi  secara akurat untuk digunakan sebagai upaya pengendalian kebakaran hutan kawasan Asia Tenggara. Namun informasi tersebut baru dapat disebarluaskan jika sudah ada hasil penelitian yang akurat.

“Hasil penelitian kami, salah satu kurang berhasilnya upaya pengendalian kebakaran hutan adalah sedikitnya informasi yang terkait scientific base,” kata Bambang di Jakarta.

Bambang mengakui  ada penurunan jumlah kasus kebakaran hutan di Indonesia  di tahun 2016 dibandingkan tahun 2017. Menurut Bambang dari penurunan tersebut sudah bisa diteliti apa saja faktor -faktor yang menyebabkan penurunan kebakaran hutan sehingga ke depannya bisa dilakukan untuk upaya pengendalian dan pencegahannya.

“Seperti tahun kemarin kita berhasil nih turunkan kebakaran hutan sekian persen. Sebetulnya itu kenapa sih, apakah karena semata-mata tugas pemerintah berhasil, atau berapa persen kebakaran di lapangan, atau ditambah juga ada La Nina,” jelas Bambang.

Bambang  mengapresiasi ada banyak informasi tentang kebakaran hutan yang dapat dijadikan bahan untuk pembelajaran namun sakin banyaknya informasi-informasi tersebut terkadang simpang siur sehingga publik menjadi bingung. Karena itu kehadiran  RFMRC-SEA ini,  juga dapat dijadikan bukti ilmiah dari apa yang sebenarnya terjadi pada kasus kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

RFMRC-SEA juga bisa menjadi sumber informasi baru bagi dampak-dampak yang disebabkan oleh kasus kebakaran hutan yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik.

“Contoh tim kami, terbukti ternyata asap dari kebakaran hutan itu di Kalimantan Tengah terdiri dari 90 gas, di dalamnya ada 50 gas beracun, ada hidrogen sianida, ada furan dan sebagainya. Itu tidak tersosialisasikan dengan baik,” papar Bambang.
Tidak hanya melakukan penelitian, lembaga tersebut juga akan menggandeng negara-negara di Asia Tenggara untuk melakukan penelitian secara bersama, mengingat kasus kebakaran bukan hanya terjadi di Indonesia namun negara di Asia Tenggara juga pernah mengalami kasus yang serupa.

Bambang mengatakan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mendukung RFMRC-SEA terbentuk untuk membantu pemerintah mengupayakan pengendalian kebakaran hutan dengan hasil kebijakan yang berdasarkan data ilmiah.

Selain itu lembaga tersebut juga mendapat dukungan dari Global Fire Monitoring Center (GFMC), dan mendapat sokongan dana dari Jerman hingga 2019.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close