APAI Gelar Munas Ke-III 2017 Untuk Mantapkan Sinergitas Kementerian dan Swasta

0
20170524_095504

Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APAI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-III di Ruang Sono Keling, Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,  Rabu, 24 Mei 2017. Selain menyusun kepengurusan 2017-2021, Munas juga membahas tentang pengelolaan 100 kawasan konservasi oleh pihak swasta yang diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 36 Tahun 2010 tentang pengusahaan pariwisata alam di Suaka Marga Satwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam.

Untuk membahas hal tersebut disiapkan beberapa narasumber yakni Ketua APAI David Makes, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hidup dan Konservasi KLHK Ismugiono dan Plt. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Bambang Hendroyono.  Selain itu, munas juga dihadiri oleh Kepala-kepala Balai (UPT) di lingkungan KLHK selaku undangan.

Dalam  jumpa persnya, Ketua APAI yang juga Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) David Makes  mengatakan  sesuai dengan Undang-undang yang ditetapkan Kemenpar, pariwisata alam berkontribusi menyumbang kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 35 persen dari 15 juta wisman yang ditetapkan pemerintah untuk tahun 2017. Jumlah tersebut sudah termasuk skala nasional.

“Pariwisata alam itu dapat porsi 35 persen. Berarti 35 persen dari 15 juta itu merupakan porsi pariwisata alam secara nasional.  Yang kita tau,  pada tahun 2019 itu adalah 20 juta,  nah inilah para stakeholder pariwisata alam harus bahu membahu untuk bisa memastikan kunjungan ini,” ujar David.

Menurut David,  kontribusi pariwisata alam dalam menyumbang wisman menjadi isu yang dibahas dalam Munas APAI ke-III. David menilai Munas memilki peran strategis  dalam memantapkan sinergitas Pemerintah dan Swasta dalam mengembangkan pariwisata alam. Selain  menyumbang  kunjungan wisman, sinergitas juga dapat mendongkrak peringkat pariwisata alam Indonesia di dunia.

“Pariwisata alam Indonesia ini harus menjadi  champion di kawasan, setidak-tidaknya asia pacific. Untuk itu tidak salah  kalo munas ini mempunyai arti yang strategis, karena munas ini menyangkut daripada anggota pariwisata alam yang tadi pertama 35 persen harus memberikan kontribusi kunjungan turis manca dan  yang kedua mempunyai competitive index paling tinggi,” ungkap David.

Hal senada juga disampaikan  Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hidup dan Konservasi KLHK Ismugiono,   yang mengatakan pembagian tugas antara pemerintah dan swasta  yang mengacu  pada konsep tiga A (AtraksiAmenitas, dan Aksesibilitas) harus berjalan optimal agar target kunjungan wisman dapat terwujud.

“Bagaimana daya tarik  yang di kunjungi 10 orang itu bisa  bertambah menjadi 20 orang.  Berarti harus ada aksesibilitas yang bagus. Nahh  siapa yang harus melengkapi aksesibilitas itu, Kementerian Perhubungan dan  Kementerian PU dan PR. Namun bisa juga seperti ini, aksesnya sudah bagus tapi sarananya kurang tapi saranannya itu dari  luar,  misalnya diluar taman nasionalnya kan itu bukan kami tapi institusi yang lain.  InsyaALlah semuanya akan tercapai dan hasilnya akan bagus,” kata Ismugiono.

Munas APAI berdasarkan ADART diselenggarakan setiap 4 tahun sekali, dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan kepengurusan periode 2013-2017, menyusun kepengurusan 2017-2021, menyusun program kerja serta menyusun rekomendasi APAI dalam masa kepengurusan berikutnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *