ASITA Janji Sumbang 14 Juta Wisman Pada Tahun 2019
Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of The Indonesian Tours and Travel (ASITA) bertekad untuk terus mendukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam memenuhi target jumlah kunjungan wisatawan mancangera (wisman) ke Indonesia. Seperti diketahui target yang ditetapkan Kemenpar untuk wisman yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 15 juta wisman untuk tahun ini dan untuk tahun 2019 mendatang kemenpar menetapkan 20 juta wisman yang menyambangi Indonesia.
Melihat target tersebut, ASITA menjanjikan mampu mendatangkan hingga 14 juta wistawan mancanegara (wisman) pada 2019, atau 70% dari target kujungan wisman ke Indonesia yang ditetapkan pemerintah sebanyak 20 juta kunjungan.
“Sampai saat ini, kontribusi kami masih dominan dalam mendatangkan wisatawan asing. Kami yakin bisa mendatangkan minimal 70% dari target 20 juta wisman, asalkan mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” kata Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Asnawi Bahar seperti yang dilansir Investor Daily di Jakarta, Senin, 5 Juni 2017.
Asnawi pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas dukungannya yang diberikan kepada ASITA. Menurut Asnawi dukungan ini dapat mendorong industri tour & travel lokal untuk bisa menjual produknya lebih baik lagi. “Kalau kita dibantu juga saat promosi di berbagai negara, kami optimistis bisa mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan asing,” ujar Asnawi.
Asnawi pun mencotohkan untuk kunjungan wisatawa Tiongkok, pemerintah telah menargetkan sebanyak 2,4 juta wisatawan Tiongkok yang berwisata di Indonesia. Dari jumlah itu, ASITA akan membantu mendatangkan wisatawan Tiongkok sebanyak 1,4 juta wisatawan. Ini berarti tinggal satu juta wisatawan Tiongkok yang tinggal didibidk Pemerintah untuk tahun ini.
“Kalau kami didukung untuk berpromosi secara langsung, minimal kami bisa mendatangkan 2 juta wisatawan asal Tiongkok,” kata dia.
DI kesempatan ini, Asnawi juga mengatakan ada tantangan yang cukup berat yang di harus dihadapai ASITA. Tantangn itu kehadiran situs penyedia tiket wisata berbasis internet (online). Keberadaan situs-situs tersebut cukup menggerus porsi penjualan industri tour & travel, terutama di bisnis ticketing.
Selain itu, lanjut dia, tantangan berat juga datang dari industri asing yang beroperasi tanpa izin di Indonesia. Keberadaan agen asing tersebut umumnya banyak ditemui di lokasi-lokasi wisata di dalam negeri yang berstandar nasional dan internasional.
“Sudah banyak yang kena tipu juga. Karena itu regulasi harus diperketat. Jangan hanya kami yang dijadikan ujung tombak, tapi yang tidak berizin tetap dibiarkan beroperasi,” ujar dia.