Badik Lapatau hingga La Maradang Dihadirkan di Pameran Bassi Luwu

0
WhatsApp Image 2026-01-27 at 12.16.16

Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) saat ini adalah YM. Brigjen Pol (Purn) Dr. H. A.A. Mapparessa, M.M., M.Si dan Yang Mulia Paduka Sri Tuanku Datu Luwu H. Andi Maradang Mackulau, SH sedang duduk bersama saat acara pembukaan pameran Bassi Luwu, (Foto: Nanatariana)

El John News, Jakarta – Dentang sejarah kembali bergema di Istana Kedatuan Luwu. Di bawah naungan adat dan warisan leluhur, YM Paduka Sri Tuanku Datu Luwu H. Andi Maradang Mackulau, SH secara resmi membuka Pameran Bassi Luwu, Rabu (21/1/2026), sebuah perhelatan budaya yang menampilkan puluhan badik dan kawali berusia ratusan hingga seribu tahun, saksi bisu kejayaan dan kearifan tanah Luwu.

Badik pertama yang menarik perhatian pengunjung adalah Badik Lapatau, pusaka yang diduga berusia hingga seribu tahun. Saat perlahan dikeluarkan dari sarungnya, banyak pengunjung terperangah. Sarung badik sepanjang kurang lebih 30 sentimeter itu ternyata menyimpan bilah yang hanya sepanjang satu jengkal tangan. Meski berukuran pendek, badik tersebut memancarkan aura tua dan sakral, seolah menyimpan jejak zaman yang jauh melampaui ingatan manusia.

Lingkungan Istana Kedatuan Luwu menyebutkan, usia Badik Lapatau diperkirakan lebih tua dari masa pemerintahan Raja Luwu Simpurusiang, tokoh yang menjadi patokan Hari Jadi Luwu yang kini berusia 758 tahun.

“Masa Lapatau masih jauh di atas Simpurusiang. Jika Simpurusiang 758 tahun, maka usia Lapatau kemungkinan sudah mencapai seribu tahun,” ujar salah seorang tokoh istana.

Badik berikutnya yang diperkenalkan adalah Badik Junjungan Raja, pusaka yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi. Kisah yang menyertainya kerap diceritakan turun-temurun. Konon, saat badik ini pernah dikeluarkan oleh Datu Luwu, dedaunan pohon di atasnya tampak layu. Namun, Datu Luwu menafsirkan peristiwa tersebut bukan semata-mata sebagai kesaktian, melainkan sebagai pesan filosofis mendalam.

“Layu itu bermakna agar manusia tidak sombong, selalu menunduk, sebagaimana daun yang mengarah ke bawah,” tutur Datu Luwu, menegaskan nilai kerendahan hati yang terkandung dalam pusaka tersebut.

Sementara itu, Badik La Maradang memiliki kisah yang tak kalah bermakna. Badik ini merupakan milik pribadi Datu Luwu yang ditempa secara khusus oleh para pandai besi terbaik dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Proses pembuatannya melibatkan keahlian kolektif para empu, menjadikan badik ini bukan sekadar senjata tradisional, melainkan simbol persatuan, kearifan, dan keagungan budaya Sulawesi Selatan.

Melalui Pameran Bassi Luwu, Kedatuan Luwu menegaskan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya, khususnya senjata tradisional yang sarat nilai filosofis, sejarah, dan spiritual. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal, memahami, dan mencintai budaya leluhur.

Pameran yang terbuka untuk umum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi sejarah, tetapi juga wadah refleksi dan penguatan identitas budaya Luwu di tengah arus perkembangan zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *