46ffdfa0bfd679145e6ced3c01b4bd71

Wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) kedepan akan semakin mudah mengunjungi Raja Ampat, Papua Barat, setelah Kementerian Perhubungan merestukan pengembangan Bandara Marinda. Restu dari Kemenhub ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu Pemerintah Kabupaten Raja Ampat untuk mendulang jumlah wisatawan datang ke Raja Ampat.

Direstukannya pengembangan Bandara Marinda ini, setelah Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan bertemu dengan Menhub Budi Karya Sumadi untuk menambah panjang lintasan bandara, dua pekan lalu. Menhub mengizinkan Pemkab Raja Ampat untuk memperbaiki infrastruktur bandara dan menjadi bandara Marinda sebagai bandara International.

Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati sudah memiliki road map untuk  memperpanjang lintasan bandara. Rencanannya lintasan akan diperpanjang dari 1.200 meter menjadi 2.500 meter agar pesawat berbadan lebar bisa terbang dan mendarat di Marinda. Bila terealisasi, Bandara Marinda semakin memanjakan turis asing dan domestik untuk mengakses Raja Ampat.

Bandara Marinda diresmikan oleh Menteri Perhubungan E. E. Mangindaan pada 9 Mei 2012. Bandara ini memiliki landasan pacu dengan panjang 1.200 meter dengan lebar 30 meter. Memiliki 1 apron dengan luas 80 meter kali 60 meter dan satu terminal dengan luas 120 meter. Namun seiring bandara itu berjalan, kebutuhan akan penerbangan ke Raja Ampat terus meningkat. Karena itu kondisi bandara yang ada sekarang ini perlu dikembangkan.

“Perpanjangan lintasan Bandara Marinda sudah mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. Saya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur atas komunikasi intensif dengan Menhub. Bandara Marina bakal menjadi pintu masuk utama turis, terutama turis mancanegara ke Raja Ampat,” papar Abdul Faris.

Selama ini, pembangunan Bandara Marinda masih terkendala teknis, pembebasan lahan. Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan meminta Bupati Raja Ampat untuk bergerak cepat, agar pekerjaan konstruksi bisa berjalan. “Ini menjadi urusan Bupati, saya sudah membuka komunikasi dengan Bapak Menteri,” kata Dominggus di sela-sela peresmian Festival Bahari Raja Ampat, Rabu, 18 Oktober 2017.

Bandara Marinda beroperasi mulai pukul 08.00 WIT hingga 14.00 WIT dengan maskapai Susi Air dan WINGS Air .Sebagai maskapai perintis ke Raja Ampat, Susi Air menggunakan pesawat Cessna Grand Caravan dan terbang sekali dalam sepekan. Namun frekuensi penerbangan Susi Air ke Raja Ampat semakin bertambah seiring permintaan wisatawan lokal dan asing.

Selain Susi Air, Wings Air meramaikan penerbangan ke Raja Ampat. Wings Air mulai beroperasi sejak Januari 2017. Wings Air melayani penerbangan dari Manado-Raja Ampat-Sorong-Manokwari satu kali penerbangan per hari menggunakan pesawat ATR 72-600.

Setelah Susi Air dan WINGS Air melayani rute ke Raja Ampat, penerbangan ke Bandara Marinda semakin ramai. Mulai 21 Oktober pekan depan, Sriwijaya Air Group, Sriwijaya Air dan NAM Air bakal membuka rute penerbangan baru ke Raja Ampat dari kota -kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan Makassar.

Lalu lalang turis asing dan domestik ke dan keberanian maskapai besar membuka rute baru ke Raja Ampat menjadi bukti, Bandara Marinda menjadi infrastruktur vital untuk menunjang kunjungan turis. Wisatawan membutuhkan waktu cukup lama, sekitar 2 jam untuk ke Raja Ampat dari Sorong via jalur laut dengan kapal cepat.

Bagi Menteri Pariwisata, Arief Yahya, bandara memegang peranan penting untuk menggenjot kunjungan wisatawan ke Indonesia. “Hampir 80% wisman masuk ke Indonesia melalui transportasi udara. Sisanya melalui laut ke Kepri, dan cross-border land, sehingga aksesibilitas udara menjadi key success factor (KSF) bagi pencapaian target kunjungan wisman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *