EconomicHeadline News

Bank Digital Zaman Now, Siap ?

Indonesia kian dekat dengan era bank digital atau neobank. Perkembangannya berprospek cerah, tapi tetap memiliki sejumlah tantangan. Indonesia sedang bersiap menghadapi era bank digital atau neobank. Peluangnya cukup besar untuk berkembang seiring pertumbuhan aktivitas masyarakat di ranah daring, tapi sekaligus memiliki sejumlah tantangan.

Neobank memberikan semua layanan secara online dan tidak memiliki kantor cabang fisik. Nasabah cukup menggunakan ponsel dan koneksi internet untuk membuka rekening atau mengakses layanan keuangan lainnya.

Hal ini berbeda dengan digitalisasi bank yang ramai dilakukan saat ini, salah satunya mobile banking, sebab bank masih membuka dan mengandalkan kantor cabang.

Sementara itu, Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital Sukarela Batunanggar mengatakan bank digital hadir melalui dua pola. Pertama, bank melakukan transformasi model, strategi, dan produk bisnis. Kedua, bank yang sejak awal dibentuk sebagai bank digital.

Berdasarkan studi McKinsey, 50% konsumen Indonesia mempertimbangkan migrasi ke bank yang tidak mempunya kantor. Layanan bank seperti ini dinamakan digital banking. Apa maksud dari istilah ini? Selain itu, apa perbedaannya dengan mobile atau internet banking? Bagaimana perkembangannya sejak dulu? Haruskah kamu jadi nasabahnya?

Berkembang pesatnya teknologi sekarang ini tidak dapat dipungkiri. Perkembangan tersebut juga menuntut kita semua untuk bergegas beradaptasi dengan perubahan yang ada. Berkembang pesatnya teknologi memberikan kemudahan bagi setiap orang dalam segala bidang, karena pada prinsipnya setiap orang menginginkan suatu kemudahan dalam segala bidang. Untuk memanfaatkan momentum perkembangan teknologi tersebut kini telah hadir suatu terobosan baru dalam bidang perbankan yaitu layanan perbankan digital.

Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa layanan perbankan digital adalah layanan atau kegiatan perbankan dengan menggunakan sarana elektronik atau digital milik Bank, dan/atau melalui media digital milik calon nasabah dan/atau nasabah Bank, yang dilakukan secara mandiri.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah mengeluarkan peraturan mengenai pelayanan bank digital tersebut dalam Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2018, tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital Oleh Bank Umum. OJK juga telah menerbitkan panduan mengenai pelayanan bank digital dalam Panduan Penyelenggaraan Digital Branch oleh Bank Umum.

Perbankan digital memberikan pelayanan seperti layaknya perbankan konvensional secara umum, akan tetapi memiliki perbedaan yaitu segala urusan pelayanan perbankan dilakukan secara mandiri melalui aplikasi perbankan di smartphone. Perbankan digital memungkinkan nasabah untuk memperoleh layanan perbankan secara mandiri (self service) tanpa harus datang langsung ke bank.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), layanan perbankan digital memungkinkan calon nasabah dan/atau nasabah Bank untuk memperoleh informasi, melakukan komunikasi, registrasi, pembukaan rekening, transaksi perbankan, dan penutupan rekening, termasuk memperoleh informasi lain dan transaksi di luar produk perbankan, antara lain nasihat keuangan (financial advisory), investasi, transaksi sistem perdagangan berbasis elektronik (e-commerce), dan kebutuhan lainnya dari nasabah Bank.

Bank digital memiliki perbedaan dengan m-banking, sms banking, e-banking dan layanan lainnya yang berbasis internet. Perbedaan tersebut yaitu layanan m-banking, sms banking, e-banking merupakan layanan perbankan yang dapat diakses sendiri melalui smartphone dengan fitur mulai dari transaksi pembayaran, pembelian, transfer, hingga penarikan tunai tanpa kartu di mesin ATM. Lebih dari pada hal tersebut bank digital mencakup keseluruhan layanan perbankan dari administrasi rekening, otorisasi transaksi, pengelolaan keuangan; dan/atau pembukaan, penutupan rekening, tranksaksi digital dan pelayanan produk keuangan lain berdasarkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan yang telah dijelaskan diatas.

Layanan perbankan digital dengan berbagai layanan yang ditawarkan memiliki banyak kelebihan, diantaranya yaitu sebagai berikut: (1) Nasabah tidak harus mendatangi bank secara langsung. (2) Hemat waktu dan biaya. (3) Dapat diakses dimana saja. (4) Mudah dan praktis. (5) Memberikan keamanan dan kenyamanan. (6) Mengurangi penggunaan kertas.

Bank di Indonesia sendiri belum banyak yang sudah menerapkan penuh layanan perbankan digital. Dengan kemudahan yang ditawarkan dalam layanan perbankan digital diharapkan bank-bank di Indonesia segera menerapkan layanan perbankan digital untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah-nasabahnya.

BISA MEMBUKA REKENING SAMBIL REBAHAN

Apa Itu Digital Banking? Bank digital adalah aktivitas perbankan yang dilakukan sepenuhnya di internet. Kita tentu sudah akrab dengan mobile banking dan internet banking. Nah, dua istilah dalam perbankan ini punya makna yang berbeda. Mereka memang sama-sama memerlukan dunia digital. Ada yang menggunakan SMS, ada pula yang memanfaatkan dunia internet. Selain itu, fitur di sana sangat terbatas. Keduanya hanya punya layanan deposito, transfer uang, pembayaran dan lain-lain. Sisanya hanya bisa dilakukan di bank offline.

Hal ini berbeda dengan digital banking. Jenis bank ini memberikan layanan pembukaan dan penutupan rekening secara online. Tentu saja, administrasi rekening ini tak bisa terjadi di bank biasanya. Kamu harus pergi ke kantor mereka untuk itu. Terlebih lagi, tak ada satu pun traksaksi yang dilayani di luar jaringan. Semua terjadi melalui internet.

Indonesia sudah memiliki regulasi terkait layanan ini, lho. Semuanya tertuang di Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.03.2018. Peminatnya sendiri tak sedikit, apalagi di masa pandemi Covid-19, transaksi di sana naik hingga 60%.

Bagaimana Awal Mula Digital Banking? Bank digital berkembang bersama dunia fintech. Salah satu akarnya adalah mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Mesin ini muncul pada 1960-an. Untuk pertama kalinya, seorang nasabah tak perlu ke bank untuk mengakses rekeningnya.

Kemunculan internet juga telah mengubah dunia perbankan. Akan tetapi, pada awalnya, dunia digital ini hanya digunakan di balik layar bank. Misalnya, untuk pemantauan rekening atau transfer dana. Jaringan ini baru ditawarkan ke depan nasabah pada tahun 1990-an. Saat itu, transaksi bank seperti transfer dana bisa dilakukan secara online. Perlahan tapi pasti, dunia digital terus berkembang. Penggunaan smartphone juga makin marak. Akhirnya, bank pun punya semakin banyak layanan online. Pada akhirnya, dia bisa berpindah sepenuhnya ke internet.

Haruskah kita menggunakan digital banking? Kita telah memahami pengertian dan sejarah dari jenis bank ini. Lantas, apakah kita harus jadi nasabahnya? Sebelum memutuskan, marilah kita memahami dulu plus minus dari digital banking ini.

  1. Kelebihan bank digital. (1) Layanan rekening online sangat mudah diakses. Di mana pun kamu berada, kapan pun kamu menginginkannya, dia selalu ada. Bahkan, saat rebahan pun, selama ada internet, kita bisa membuka rekening. Semua ini tentu sangat praktis. Hal ini berbeda dengan bank konvensional. Di sana, kita harus menunggu jam buka bank jika ingin punya akses perbankan secara penuh. (2) Layanan online juga mendorong kecepatan transaksi, tak perlu lagi menunggu antrean berjam-jam. Selain itu, perusahaan keuangan digital tidak perlu menyewa kantor, membayar listrik, dan lain-lain. Ternyata, ini punya dampak baik terhadap kita. Ini berarti, bank tak perlu pemasukan lebih. Mereka tak perlu meminta terlalu banyak darimu. Ucapkanlah selamat tinggal kepada biaya administrasi bank yang mahal. (3) Selain itu, bunga simpanan yang kita terima bisa menjadi lebih tinggi.

 

  1. Kekurangan bank digital. Sayangnya, berbagai kelebihan digital banking datang dengan kekurangan pula. (1) Salah satunya adalah internet itu sendiri. Bukan rahasia lagi, kadang kala, koneksi internet terputus karena masalah teknis. (2) Terlebih lagi, internet bukanlah rumah para malaikat. Di sana, bisa saja, ada orang-orang yang tak bertanggung jawab. Bisa-bisa, rekening kita kena bobol. Pencurian berbagai data pribadi juga rawan terjadi di sana. (3) Selain itu, akses terus-menerus ke rekening bisa membuat kita semakin boros. Belum lagi, ada e–commerce yang kerap menghujani kita dengan diskon.

Tentu saja, semua ini bisa kita cegah. Misalnya, dengan memilih lembaga keuangan digital yang terpercaya. Selain itu, kita bisa menaruh sebagian uang kita saja di sana. Taruh sisa dana yang harus kita tabung di rekening nondigital.

SERIUS JAJAKI PASAR BANK DIGITAL

Saat ini, perkembangan teknologi perbankan digital sudah menjadi keharusan. Apalagi, dengan adanya pandemi Covid-19, kebutuhan akan layanan perbankan digital pun kian dipercepat.

Fenomena ini berhasil membuat banyak bank berlomba memperkuat layanan digital. Namun, bukan hanya bank besar saja, bank kecil yang didukung oleh investor kelas kakap pun juga lakukan hal serupa. Tren baru ini pun sudah diendus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak lama. Untuk mendukung inovasi itu, OJK juga sedang menggodok aturan baru sebagai payung hukum bank digital ini.

Salah satu bank yang serius menggarap potensi ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui anak usahanya PT Bank BCA Digital. Bank yang dulu bernama PT Bank Royal Indonesia ini memang sengaja dibeli Bank BCA untuk menggarap secara spesifik kebutuhan pasar akan bank digital.

Bank Digital BCA bertajuk BCA Digital ini rencananya akan diluncurkan tahun ini. Lewat aplikasi super canggih ini, BCA Digital akan menggarap seluruh segmen tanpa membatasi usia kelompok tertentu. Tidak hanya untuk kaum milenial, BCA Digital juga hadir bagi masyarakat yang sudah terbiasa dan lebih memilih bertransaksi dengan teknologi digital (Digital Savvy).

Untuk fase awal peluncuran, BCA Digital akan fokus pada funding service terlebih dahulu yang akan memfasilitasi berbagai transaksi perbankan digital melalui aplikasi digital berbasis smartphone, sekaligus meningkatkan jumlah customer base perusahaan. Akan tetapi, nantinya BCA Digital juga bakal menyalurkan kredit ke masyarakat. Khususnya menyasar pada segmen individual, individual bisnis, UMKM dan juga ritel.

Tapi BCA Digital tidak sendirian, calon pesaingnya yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga bakal menggarap segmen yang serupa. Apalagi, Bank Jago kini telah mendapat investor kuat yaitu Go-Jek penyedia aplikasi layanan on-demand dan pembayaran yang punya nama besar di Tanah Air.

Investasi ini menjadikan Gojek sebagai pemegang 22% saham Bank Jago. Namun transaksi ini tidak mengubah pengendalian saham di Bank Jago. Kolaborasi ini juga membuka potensi kerjasama dengan berbagai institusi keuangan dan perbankan lain untuk mendukung mereka menjangkau lebih banyak konsumen.

Tujuan utama dari kolaborasi strategis ini adalah menyediakan layanan perbankan digital melalui platform Gojek, sehingga jutaan pelanggan Gojek dapat membuka rekening Bank Jago dan mengelola keuangan lebih mudah lewat aplikasi Gojek.

Kerjasama ini akan saling melengkapi karena Bank Jago memiliki pengalaman dalam memahami kebutuhan finansial masyarakat Indonesia. Sebagai bank berbasis teknologi yang dirancang khusus dengan sistem API terbuka, kami juga akan bekerja sama dengan pemain-pemain ekosistem digital lain untuk memperluas akses keuangan.

Di samping dua bank itu, baru-baru ini juga ada aksi korporasi dari PT Bank Net Indonesia Syariah yang bersiap untuk melantai di bursa pada bulan depan.  Proses book-building telah dilakukan dari tanggal 11 Januari 2021 sampai 18 Januari 2021.

Seluruh dana hasil Initial Public Offering (IPO) akan digunakan untuk modal kerja perseroan. Keseluruhan dana hasil IPO akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja seperti biaya pemeliharaan Information and Technology (IT) dan penunjangnya dan modal kerja lainnya, hal ini sejalan dengan rencana strategis bank yang akan bertransformasi menjadi bank digital.

PROSPEK DAN TANTANGAN

Tiga bank digital dengan pola kedua juga tengah bersiap melayani publik. Bank Digital BCA berencana mulai beroperasi pada awal 2021. Dua lainnya adalah Bank Jago dan Bank Neo Commerce yang belum mengumumkan kapan akan beroperasi. Bank Digital BCA terbentuk atas akuisisi Bank BCA atas seluruh saham Bank Royal senilai Rp 988,04 miliar pada akhir tahun lalu.

Lalu, Bank Jago terbentuk setelah mantan Direktur Utama Bank BTPN Jerry Ng dan pendiri Northstar Group Patrick Walujo mengakuisisi 51% saham Bank Artos. Bank Jago telah menerbitkan saham baru atau right issue sekitar Rp 1,34 triliun untuk pengembangan infrastruktur, teknologi informasi, sumber daya manusia, serta perbaikan struktur permodalan.

Wajah digital Bank jago makin terlihat seiring masuknya Gojek. Melalui layanan keuangan digital GoPay, decacorn tersebut telah membeli 22% saham Bank Jago. Ke depan, bank jago akan dimasukkan ke dalam ekosistem digital Grup Gojek.

Bank Neo Commerce terbentuk setelah startup teknologi finansial (fintech) Akulaku sah menjadi pemegang saham terbesar Bank Yudha Bhakti pada pertengahan tahun lalu. Adapun, salah satu pemegang saham Akulaku adalah Alipay, yang merupakan bagian dari raksasa keuangan digital asal Tiongkok, Ant Group Financial.

Perkembangan neobank dalam bentuk kedua di Indonesia boleh dikatakan tertinggal dari negara lain. Di Hong Kong, delapan bank digital telah beroperasi sejak otoritas moneter negara tersebut (HKMA) membuka pendaftaran lisensi pada tahun lalu. Salah satunya adalah ZA Bank yang mampu menawarkan bunga deposito maksimal 6,8% selama tiga bulan untuk simpanan hingga Rp 175 juta.

Bank digital di negara lain yang telah beroperasi, yakni: Volt Bank di Australia, Jibun Bank di Jepang, KakaoBank dan K Bank di Korea Selatan, WeBank dan MYBank di Tiongkok, dan Monzo Bank di Inggris.      

Peluang bisnis bank digital di Indonesia tetap cerah. Pasalnya, jumlah pengguna internet di negeri ini terus tumbuh yang mencerminkan besarnya pasar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet mencapai 196,7 juta jiwa pada 2019. Angka itu naik hampir 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar belum tergarap oleh layanan perbankan digital. APJII mencatat dari 55,8% responden yang membeli barang kebutuhan melalui internet, baru 10,8% yang menggunakan layanan keuangan digital seperti m-banking, i-banking, dan uang elektronik untuk membayar transaksinya.

Padahal, pengguna layanan keuangan digital di Indonesia kian meningkat. AppAnnie, misalnya, mencatat jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user/MAU) mobile banking di dalam negeri sepanjang Januari-September 2020 tumbuh 44% secara tahunan. Persentase itu menjadi ketiga tertinggi di Asia Tenggara. Artinya, potensi neobank menggaet nasabah sangat besar.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan bank digital juga mampu menyaingi bisnis fintech, seperti dikutip dari CNN Indonesia. Menurutnya, bank digital menawarkan layanan yang mudah, cepat, dan serba digital, seperti yang dilakukan fintech saat ini. Meski begitu, bank digital unggul dalam memberikan beragam layanan serupa bank konvensional, bukan hanya pinjaman atau pembayaran saja.

Selain itu, bank digital sudah memiliki ekosistem yang memadai untuk menghimpun dana, berbeda dengan fintech yang perlu berkolaborasi dengan bank untuk menghadirkan ekosistem tersebut. Fintech belum punya ekosistem yang cukup untuk menutup biaya operasional. Dananya pun masih dari bank karena tidak bisa himpun dana dari tabungan, tetapi dari investor.

Namun, bank digital menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, belum ada aturan mengenai neobank. Bank digital saat ini masih mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Layanan Perbankan Digital oleh Bank Umum. Padahal, bank digital memiliki aspek-aspek baru, di antaranya pembukaan rekening secara virtual dan keamanan data pengguna.

Kedua, belum ada regulasi terkait perlindungan data dan sistem keamanan data yang memadai. Hal ini berpotensi mengakibatkan data pengguna disalahgunakan oleh pihak ketiga. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan serangan terhadap situs internet, pengumpulan informasi, dan trojan paling banyak ditemukan pada Januari-Juli 2020. Total serangan siber pun mencapai 189,9 juta selama periode tersebut.

Ketiga, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2019 menyebutkan literasi keuangan nasional sebesar 38%. Jika dilihat berdasarkan sektor jasa keuangan, perbankan punya persentase tertinggi, yakni 36,1%. Meski begitu, masih lebih banyak ruang yang belum terisi dengan pengetahuan dan keyakinan soal layanan keuangan.

Melihat peluang dan tantangan yang ada, bank digital perlu memutar otak untuk mengamankan, bahkan memperbesar porsinya dalam layanan keuangan di Indonesia.

SYARAT PENDIRIAN BANK DIGITAL

Otoritas Jasa Keuangan masih melakukan pembahasan mengenai ketentuan pendirian bank digital. Targetnya, POJK mengenai bank digital dapat dirilis sebelum semester I/2021.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan terkait pendirian bank digital terbagi menjadi dua jenis. Pertama, pendirian bank baru sebagai fully digital bank. Untuk ini, investor menyampaikan proposal kepada OJK untuk mendirikan bank digital. Kedua, transformasi bank existing menjadi bank digital.

OJK dalam rancangan yang saat ini masih dalam pembahasan, (1) untuk pendirian bank baru sebagai bank digital disyaratkan modal minimal sebesar Rp10 triliun. Di samping itu, persyaratan lain yang juga menjadi persyaratan bank existing yang ditransformasi menjadi bank digital, seperti (2) memiliki model bisnis yang realistis dan implementatif dengan penggunaan teknologi yang inovatif dan aman dalam menjawab kebutuhan nasabah.

Kemudian, (3) memiliki kemampuan untuk mengelola bisnis perbankan digital yang prudent dan berkesinambungan, serta paham mitigasi dan kapabilitas dari manajemen risiko untuk mengantisipasi berbagai risiko digital termasuk cyber crime dan lainnya. Ada juga syarat seperti pada bank umum lain yakni (4) perlindungan data nasabah dan memenuhi aspek tata kelola yang baik. (5) Syarat berikutnya untuk pendirian bank baru yang fully digital, yakni memiliki minimal satu kantor pusat dan seluruh layananya dilakukan secara digital.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan bahwa rencananya sebelum pertengahan tahun ini mudah-mudahan akan kita rilis Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 

Data dirangkum dan diolah dari berbagai sumber oleh :

Dr. Andy Kurniawan Bong, SE, MBA. (Dosen Senior.)

 

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close