Batik Fashion Fair 2018 di Surabaya Targetkan Transaksi Rp5 Miliar

0
da2fab3fae8ccd84e02d62953b739c02

Bagi anda yang suka dengan batik, tidak salah untuk mencatat pameran  batik di Surabaya, meski penyelengaraannya akan dimulai 4 bulan lagi. Event itu bertajuk Batik Fashion Fair 2018 yang akan selengarakan pada 5-9 Desember 2018 di Grand City Convex Surabaya.

Tahun ini merupakan tahun ke-tiga digelarnya Batik Fashion Fair. Pameran ini diselenggarai oleh  PT Debindo Mitra Tama. Jumlah booth yang sudah mendaftar di pameran ini lebih besar dibandingkan tahun lalu. Untuk saat ini saja,  sudah ada 230 booth dengan target jumlah pengunjung mencapai 30.000 orang.

Untuk transaksi, oleh PT Debindo Mitra Tama menargetkan pendapatan sekitar Rp5 miliar selama pameran berlangsung. Bahkan  Direktur PT Debindo Mitra Tama, Dadan M. Kushendarman optimis target transaksi tercapai mengingat pameran tahun lalu pendapatan yang diraih sudah mendekati Rp5 miliar.

“Jumlah itu meningkat atau lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 4,54 miliar,” kata Dadan melalui keterangan resmi, Selasa, 17 Juli 2018.

Dadan menjelaskan,saat ini banyak perajin batik yang kesulitan untuk memperkenalkan produknya. Karena itu dengan kehadiran pameran ini, para perajin wastra Indonesia dapat mempromosikan batik-nya kepada masyarakat. Pasalnya pameran diperkirakan akan banyak dikunjungi masyarakat, khususnya mereka yang suka dengan batik.

“Selain itu, pameran tersebut juga sebagai langkah yang ditempuh pemerintah untuk peningkatan produksi dan penyerapan pasar secara optimal bagi para pengrajin atau industri batik dan bordir,” ujarnya.

Sebab menurutnya, batik merupakan warisan budaya bangsa yang harus tetap dilestarikan dan dikembangkan baik di dalam negeri maupun mancanegara.

“Dengan adanya pameran ini, ke depannya bisa menciptakan ajang promosi berskala nasional bagi produk unggulan batik, bordir dan aksesoris pendukung,” katanya.

Tak hanya itu, adanya pameran juga diharapkan dapat meningkatkan peluang pasar domestik, mengembangkan potensi pasar internasional, desain terbaru, meningkatkan kecintaan pemakaian produk dalam negeri, hingga memberi pengetahuan dan edukasi tentang industri batik.

“Dan pastinya bisa mempertemukan dan menjalin hubungan stakeholder industri batik, yang akhirnya bisa mempertemukan pasar offline dan online dalam satu tempat,” kata Dadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *