Benahi Organisasi dan Perkuat Kemitraan Jadi Program Moeldoko Bangun HKTI
Tak hanya mumpuni dalam memimpin di pemerintahan, namun Moeldoko juga piawai dalam memimpin keorganisasian yakni menahkodai Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Sebagai Ketua Umum HKTI, Moeldoko memiliki program untuk membawa HKTI sebagai organisasi bermartabat, dapat beperan lebih besar lagi untuk memakmurkan petani serta menjadi mitra yang baik untuk pemerintah.
Program tersebut, di antaranya membenahi dualisme kepemimpinan di tubuh HKTI. HKTI yang dipimpin dirinya dengan HKTI yang diketuai Fadly Zon untuk bersatu. Ini merupakan langkah yang baik untuk memperkuat HKTI dalam mencapai visi dan misinya. Bahkan pihak-pihak diantara dua kubu sudah menyetujui adanya rekonsiliasi.
Kemudian upaya lain, Moeldoko akan membangun mitra strategis antara HKTI dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian atau Kementerian terkait lainnya di bidang pertanian. Namun meskipun bermitra, HKTI akan pada posisi jika ada kebijakan Pemerintah yang merugikan petani.
“Saya juga walaupun di Kepala Staf Presiden, tetapi sekalu Ketua HKTI , saya kan beteriak keras, kalau impor beras tidak tepat pada waktu. Dua tahun yang lalu, Indonesia mengimpor beras tidak tepat pada waktunya, saya teriak keras, di saat panen raya justru impor masuk,” kata Moeldoko saat diwawancarai oleh CEO EL JOHN Media Martinus Johnnie Sugiarto di Kantor Staf Presiden, kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/7/2020). Wawancara ini juga ditayangkan di EL JOHN TV dan EL JOHN Radio.
“Kita tidak menolak impor, karena saya sendiri tau bagaimana grafik antara panen dengan kondisi cuaca itu ada gap yang cukup serius pada bulan-bulan tertentu, tambahnya
Upaya lainnya adalah memperkuat kerja sama dengan Menteri Pertanian maupun Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kerja sama yang diperkuat itu dalam kontek intensifikasi maupun ekstensifikasi.
“Sebagai contoh yang direspon oleh Pemerintah adalah ada peringatan yang cukup kuat dari FHO tentang krisis pangan kedepan maka kita akan menempatkan satu intensifikasi yang ada di Kalteng yah, ada 30.000 hektar yang perlu ditingkatkan produktivitasnya. Berikutnya ada 144 ribu hektar yang perlu di ekstensifikasi sebagai pengganti lahan baku yang sudah banyak berkurang di Indonesia ini. Saya pikir langkah-langkah positif itu harus diback-up penuh agar Indonesia menuju swasembada pangan betul-betul bisa terwujud dengan baik,” tutup Moeldoko.


