BNI Siap Tambah Porsi Kredit Untuk Industri Perhotelan dan Restoran
PT Bank Negara Indonesia (BNI) Persero. Tbk pergeseran pola konsumsi masyarakat dari barang ke jasa pariwisata. Masyarakat, khususnya generasi milenial lebih cenderung memilih berwisata bersama teman dibandingkan harus membeli produk seperti barang atau minuman dan makanan. Mereka rela menyimpan uangnya untuk mengejar keinginan berwisata ke destinasi menarik. Selain untuk membeli tiket moda transportasi, uang yang disimpan tersebut juga dialokasikan untuk menyewa tempat penginapan seperti hotel dan makan di restauran yang berada di sekitar destinasi wisata.
Melihat fakta itu, BNI siap membantu industri hotel dan restauran dengan cara menambah porsi penyaluran kredit. Direktur Bisnis Menengah BNI Putratama Wahju Setyawan mengatakan kredit ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku bisnis perhotelan dan restauran untuk mengembangkan bisnisnya mengingat kunjungan wisatawan ke Indonesia terus meningkat. Apalagi Presiden Jokowi telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector atau sektor unggulan penyumbang devisa.
“Saat ini, spending (pengeluaran) lebih banyak ke leisure. Sehingga, beberapa spending yang tadinya ke barang beralih ke experience (pengalaman). Ini yang membuat kami ingin ke sektor leisure, dan experience itu,” ujarnya di kantornya, Rabu, 8 November 2017.
Meski demikian,BNI akan selektif dalam menyalurkan kredit. Menurut Putratama memberikan kredit kepada debitur yang kerap melakukan jual beli hotel dikarenakan potensi risikonya. Saat ini, penyaluran kredit ke sektor perhotelan dan restoran telah mencapai Rp8 triliun atau sekitar 32 persen dari total seluruh kredit segmen bisnis menengah.
“Kalau biayai hotel, kami lihat lokasi dan kelas hotelnya. Lalu, yang kami biayai yang greenfield, yang sudah ada, sudah beroperasi. Jadi, kami hanya re-financing,” katanya.
Sedangkan, penyaluran kredit perhotelan dan restoran segmen korporat telah mencapai Rp17 triliun dengan rasio kredit bermasalah sebesar 1,2 persen.
Sementara, untuk penyaluran kredit ke segmen bisnis menengah yang merupakan sektor perdagangan diberikan BNI dengan sangat selektif. Khususnya, perdagangan komoditas, misalnya batu bara.
Tercatat, penyaluran kredit ke sektor perdagangan sebesar Rp4 triliun atau sekitar 19 persen dari total kredit segmen bisnis menengah. NPL-nya sebesar 4 persen.
