Bos BI Pede Kuartal I 2026 Tetap Tinggi Karena Libur Imlek dan Lebaran
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sedang diwawancarai sejumlah awak media (Foto: Instagram resmi Perry Warjiyo)
El John News, Jakarta-Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 akan tetap kuat. Momentum sejumlah hari besar keagamaan dan libur panjang dinilai menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga di awal tahun.
Dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/2/2026), Perry menuturkan bahwa perayaan Tahun Baru Imlek, Idulfitri, hingga Waisak akan mendorong aktivitas ekonomi, terutama dari sisi belanja masyarakat.
“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal 1 itu masih akan tetap tinggi. Karena di kuartal 1 ini, ada Tahun Baru Cina, Imlek, ada juga kemudian Idul Fitri, demikian juga ada Waisak dan ini akan mendorong peningkatan konsumsi”
Perry Warjiyo (Gubernur Bank Indonesia)
Meski tidak merinci proyeksi khusus kuartal pertama, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 dapat mencapai kisaran 5,7 persen. Angka tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang solid serta peningkatan investasi.
Dari sisi penanaman modal, bank sentral melihat tren yang lebih positif pada semester pertama tahun ini. Investasi pemerintah, termasuk proyek hilirisasi sumber daya alam (SDA), menjadi salah satu motor penggerak. Di saat yang sama, kepercayaan pelaku usaha disebut terus membaik.
Perry memastikan kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk mendukung ekspansi ekonomi, terutama melalui dorongan pembiayaan kredit ke sektor riil dan sektor prioritas pemerintah.
Bank Indonesia, lanjutnya, juga terus memperkuat stimulus melalui instrumen suku bunga dan ekspansi likuiditas. Sinergi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, menjadi kunci menjaga stabilitas pasar keuangan.
“Sebagaimana diketahui kami sinergi dengan Pak Menteri Keuangan, Kementerian Keuangan, sama-sama bagaimana memastikan likuiditas itu ada di pasar keuangan dan perbankan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari strategi pelonggaran likuiditas, BI menurunkan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun per 18 Februari 2026.
Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) juga terus dilakukan. Hingga 18 Februari 2026, total pembelian SBN mencapai Rp39,92 triliun, termasuk Rp20,23 triliun melalui pasar sekunder.
“Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter,” terang Perry.
Dengan kombinasi konsumsi yang terdorong momentum liburan, investasi yang meningkat, serta dukungan kebijakan moneter yang akomodatif, Bank Indonesia menilai fondasi pertumbuhan ekonomi di awal 2026 tetap terjaga kuat.
