8.000 Pasukan Indonesia ke ISF, Menlu Tegaskan: Bukan untuk Operasi Militer

0
Untitled

Menlu RI Sugiono memberikan keterangan pers di Washington DC, Amerika Serikat, 21 Februari 2026 (Foto: tangkapan layar Youtube Sekretrariat Presiden)

El John News, Jakarta-Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono memastikan bahwa ribuan personel Indonesia yang direncanakan bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) tidak akan terlibat dalam operasi tempur di Gaza. Pemerintah, kata dia, telah menetapkan batasan tegas atau national caveats terkait mandat yang dijalankan.

Hal tersebut disampaikan Sugiono di di Washington DC, Amerika Serikat, melalui YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (21/2/2025).

Sebanyak 8.000 personel yang diproyeksikan ambil bagian hanya bertugas dalam koridor perlindungan sipil dan stabilisasi, bukan operasi ofensif. Indonesia juga menegaskan tidak akan ikut dalam agenda pelucutan senjata maupun demiliterisasi.

“National caveats kita juga sudah kita sampaikan ke ISF, bahwa kita tidak melakukan operasi militer. Kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata. Kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi. Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil kedua belah pihak”

Sugiono (Menteri Luar Negeri RI)

Menurut Sugiono, kehadiran Indonesia dalam misi tersebut semata-mata untuk mendukung stabilitas kawasan dan memperkuat agenda kemanusiaan internasional. Ia menegaskan, partisipasi ini bukan bagian dari dinamika hubungan diplomatik dengan pihak tertentu.

“Ini adalah pasukan yang ditugaskan untuk yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi,” jelas dia.

Dalam skema yang dipaparkan, pasukan ISF akan dibagi ke dalam beberapa sektor operasi sesuai rancangan komprehensif Dewan Perdamaian (Board of Peace). Total kekuatan gabungan diperkirakan mencapai 20.000 personel dari berbagai negara.

Sugiono juga menyampaikan bahwa Indonesia dipercaya menempati posisi Deputy Commander Operasi dalam struktur ISF. Penunjukan tersebut dinilai sebagai pengakuan atas rekam jejak prajurit Indonesia dalam misi perdamaian di berbagai belahan dunia.

“Deputy commander operasi juga merupakan sesuatu yang penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia, kemudian reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan menjaga perdamaian dan saya kira kedudukan ini juga akan bisa memfasilitasi apa yang menjadi tujuan dan niatan kita mengirimkan pasukan ke ISF,” tandasnya.

Dengan batasan yang telah ditetapkan, pemerintah memastikan pengerahan pasukan tetap berada dalam kerangka defensif, yakni hanya untuk mempertahankan diri apabila menghadapi ancaman langsung di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *