Picture1

Gambar Ilustrasi BEI Berlakukan Trading Halt (Ilustrasi Generated by AI)

Jakarta, El John News – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas pada perdagangan Rabu (28/1/2026). IHSG anjlok 718,44 poin atau 8% ke level 8.261,78, memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (trading halt).

Pembekuan perdagangan dilakukan pada pukul 13:43:13 WIB setelah penurunan IHSG menembus ambang batas baru sesuai Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta SK Direksi BEI Kep-00002/BEI/04-2025. Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyampaikan bahwa trading halt diberlakukan selama 30 menit demi menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien.

“Perdagangan akan dilanjutkan kembali pada pukul 14:13:13 WIB tanpa perubahan jadwal,”

~ Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad

    MSCI Jadi Pemicu Utama Kejatuhan IHSG

    Tekanan pasar semakin terasa sejak sesi I. IHSG sudah melemah 7,34% ke level 8.321, dipicu kabar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengguncang kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia.

    Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi korban utama:

    • BREN anjlok 14,5%
    • AMMN turun 10,9%
    • BBCA terkoreksi 4,3%

    Seluruh indeks sektoral tertekan, dengan koreksi terdalam terjadi pada IDX Infrastructure dan IDX Energy.

    Secara keseluruhan, pasar mencatat:

    • 28 saham menguat
    • 768 saham melemah
    • 8 saham stagnan
      Volume transaksi mencapai 45,39 miliar saham dengan nilai Rp31,9 triliun.

    Asia Bervariasi, Indonesia Tertekan

    Di tengah tekanan domestik, bursa Asia bergerak bervariasi. Shanghai dan Hong Kong menguat, sementara Tokyo melemah, menandakan tekanan IHSG lebih bersifat spesifik Indonesia.

    MSCI Soroti Transparansi dan Free Float Saham Indonesia

    MSCI menilai masih terdapat persoalan serius dalam transparansi data kepemilikan dan penilaian free float saham Indonesia, meskipun BEI telah melakukan perbaikan minor.

    Kekhawatiran investor global mencakup:

    • Keandalan data kepemilikan saham
    • Penggunaan Monthly Holding Composition Report KSEI yang dinilai belum cukup kuat
    • Transparansi struktur kepemilikan
    • Potensi perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar

    Sebagai respons, MSCI menerapkan perlakuan sementara (interim treatment) yang berlaku segera, antara lain:

    • Membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF)
    • Menghentikan penambahan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI)
    • Menahan migrasi naik antar segmen ukuran saham
      Bahkan, terbuka peluang penurunan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets hingga potensi reklasifikasi menjadi Frontier Market.

    BEI Janji Koordinasi Intensif

    Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan BEI akan bergerak cepat.
    “Kami akan melakukan segala upaya dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder pasar modal untuk menindaklanjuti kebijakan MSCI yang berdampak pada pasar Indonesia,” ujarnya.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *