BRIN Dorong Teknologi Tepat Guna untuk Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengakselerasi pengembangan teknologi tepat guna (TTG) di bidang pertanian dan pangan guna mendukung program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya ini difokuskan pada peningkatan daya simpan bahan pangan dan peningkatan nilai tambah produk lokal, dengan orientasi kuat pada pemberdayaan masyarakat desa dan pelaku UMKM.
Kepala Pusat Riset Teknologi Tepat Guna (PRTTG) BRIN, Achmat Sarifudin, menyatakan bahwa inovasi TTG diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, bukan hanya berorientasi pada teknologi canggih, tetapi yang juga mudah diterapkan oleh petani, pelaku UMKM, serta masyarakat di daerah.
“Salah satu inovasi kami adalah teknologi drum dryer, alat pengering berbentuk silinder yang dapat digunakan untuk memproduksi tepung telur instan sebagai sumber protein hewani, serta tepung ubi jalar ungu yang kaya akan antosianin, senyawa bioaktif dengan sifat antioksidan tinggi,” ujarnya dalam kegiatan Rapat Kerja dan Silaturahmi Sivitas PRTTG dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong.
Inovasi teknologi tersebut telah diterapkan di Desa Sembawa, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di mana UMKM lokal berhasil memproduksi tepung ubi jalar ungu sebagai bahan baku berbagai produk makanan. Achmat mengungkapkan, permintaan pasar terhadap produk ini cukup tinggi, bahkan telah ada permintaan ekspor sebesar dua ton per bulan dari luar negeri—angka yang saat ini belum bisa sepenuhnya dipenuhi.
Tak hanya drum dryer, BRIN juga mengembangkan spray dryer, peralatan untuk menghasilkan susu bubuk instan yang bergizi dan praktis. Teknologi ini sangat relevan dalam konteks program MBG, yang membutuhkan distribusi pangan berkualitas dalam bentuk mudah dan tahan lama.
Menurut Achmat, keberadaan teknologi tepat guna ini merupakan bagian dari strategi besar nasional dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Implementasi teknologi selalu dilandaskan pada indikator dampak, baik sebelum maupun sesudah diterapkan di komunitas target. Hal ini mencakup peningkatan produksi, efisiensi, pendapatan, hingga perluasan pasar.
Lebih lanjut, pendekatan yang digunakan oleh BRIN sejalan dengan Asta Cita ke-5, yaitu hilirisasi dan industrialisasi untuk nilai tambah ekonomi, serta Asta Cita ke-6, yaitu pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi nasional.
“Filosofi dari TTG adalah teknologi yang bermanfaat nyata, mudah digunakan, dan tidak memberatkan masyarakat. Prinsip ini menjadi pegangan kami selama hampir empat tahun dalam melakukan riset dan inovasi,” tegas Achmat.
Dengan pendekatan riset yang aplikatif dan memberdayakan, BRIN berharap teknologi-teknologi tersebut bisa menjadi solusi nyata bagi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.
