Desa Kete Kesu, Potret Lengkap Tana Toraja

0

Desa Kete Kesu (Resize) (1)

Berkunjung ke Tana Toraja tidaklah lengkap apabila Anda belum menginjakkan kaki ke Desa Kete Kesu. Untuk menuju tempat ini Anda hanya perlu melanjutkan perjalanan sekira 5 kilometer dari pusat Kota Rantepao atau 14 kilometer dari sebelah utara Kota Makale. Kawasan Kete Kesu tepatnya berada di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Kete Kesu adalah tempat yang tepat bagi Anda untuk menyaksikan potret lengkap kehidupan masyarakat Tana Toraja yang masih menjunjung tinggi adat dan istiadat warisan leluhur mereka. Wisata alam, budaya, dan sejarah adalah beberapa suguhan yang dapat Anda temukan di tempat ini. Kete Kesu juga terkenal dengan seni ukiran bambu, seni pahat, dan kerajinan tradisionalnya. Selain itu, daya tarik lain dari Kete Kesu adalah terdapatnya tongkonan asli dan hanya ada di sini; Tongkonan ini memiliki pintu yang dibuka ke atas.

Disebut-sebut bahwa Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik yang paling lengkap di Tana Toraja. Keindahan alamnya dikepung pegunungan, hamparan sawah yang luas terbentang, serta barisan rumah adat yang usianya mencapai lebih dari 300 tahun. Setiap rumah adat di sini berhadap-hadapan dengan lumbung padi yang berukuran lebih kecil. Ada juga makam-makam tua yang menyimpan pesona mistis tersendiri, menilik berbagai kerajinan pahatan yang unik dan rumit tapi indah. Nikmati juga serangkaian ritual dan upacara adat yang masih dipertahankan sebagai pesona wisata di Kete Kesu.

Kete Kesu telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya dan merupakan pusat dari berbagai perayaan atau upacara adat Toraja. Beberapa upacara tersebut diantaranya adalah pemakaman secara adat yang dirayakan secara besar-besaran dan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka), serta berbagai ritual atau atraksi yang menyertainya.

Untuk memasuki kawasan cagar budaya Kete Kesu, Anda hanya perlu membayar biaya sebesar Rp5000,- (wisatawan lokal) dan Rp10.000,- (wisatawan asing). Harga yang sangat murah untuk sebuah perjalanan wisata lintas budaya dan masa. Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman wisata budaya secara lengkap, bulan Juni hingga Desember adalah saat yang tepat mengunjungi Kete Kesu. Pada bulan-bulan tersebut, biasanya diadakan upacara Rambu Solo, yaitu upacara pemakaman adat yang meriah dan merupakan salah satu upacara paling penting bagi masyarakat Toraja.

Puluhan hingga ratusan kerbau disembelih pada upacara Rambu Solo. Masyarakat Toraja percaya bahwa roh binatang dapat menjadi kendaraan bagi jenazah untuk mencapai nirwana. Kerbau juga menjadi simbol status (kekayaan dan kekuatan) bagi masyarakat Toraja. Jumlah kerbau yang harus dipenuhi dalam upacara Rambu Solo berkisar 24 hingga 100 ekor bagi keluarga bangsawan. Sedangkan bagi golongan menengah, cukup 8 kerbau ditambah 50 ekor babi. Sebelum jumlah itu mencukupi maka biasanya jenazah disimpan di rumah adat dan tidak boleh dikuburkan di bukit atau di tempat tinggi.

Begitu menjejakkan kaki di Kete Kesu, deretan rumah adat (Tongkonan) tampak berbaris rapi berhadap-hadapan dengan lumbung beras (alang). Alang ini mirip dengan Tongkonan, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. Bentuk Tongkonan sangat khas mengingat bangunan ini memiliki atap yang besar dan tinggi menjulang, berbentuk seperti tanduk kerbau atau perahu. Atap-atapnya terbuat dari bambu belah yang disusun bertumpuk mengadopsi konsep lego. Akan tetapi, beberapa Tongkonan juga beratapkan seng. Ukiran indah khas Toraja menghiasi dinding Tongkonan berpadu bersama tumpukan tanduk kerbau yang menjadi penanda status pemilik rumah.

Hamparan sawah dan langit biru menjadi latar yang sempurna bagi Tongkonan dimana konon ada yang sudah berusia ratusan tahun. Beberapa Tongkonan yang berusia tua bahkan sudah ditutupi lumut dan tanaman liar. Tumbuhan atau lumut tersebut tidak dihilangkan karena dianggap dapat membantu meredam rembesan air hujan sehingga bisa mencegah kebocoran. Salah satu Tongkonan di tempa ini sudah dialihfungsikan menjadi museum. Di dalamnya Anda dapat melihat-lihat benda adat kuno berusia puluhan hingga ratusan tahun. Benda-benda tersebut berupa senjata tajam berupa keris atau parang, keramik Cina, patung, benda-benda ukiran, kain dari Cina, bahkan ada bendera Merah Putih yang konon pertama kali dikibarkan di Toraja. Di museum ini juga diadakan workshop membuat kerajinan dari bambu yang dapat Anda ikuti. (arf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *