Di Hadapan Finalis PBI 2023, Badan Pangan Nasional Paparkan Upaya Penyelamatan Pangan

Beberapa daerah yang ada di Indonesia, menyandang status rawan pangan dan gizi. Hal itu disampaikan oleh Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi, Nita Yulianis, saat melakukan pembekalan kepada seluruh finalis Putri Bumi Indonesia di Ibis Budget, Daan Mogot, Jakarta Barat pada Selasa (9/5/2023).
Pangan merupakan kebutuhan primer bagi setiap orang. Namun, belum semua daerah mendapatkan pangan dengan baik.
“Harus tersedia secara merata di seluruh Indonesia. Ini tantangan karena sentra produk tidak sama. Tentunya ini berkaitan dengan para Putri Bumi, bahwa kita harus menjaga pangan ini tersedia dengan kita menjaga bumi, dan tentunya indikator utamanya adalah ketahanan pangan, serta ruhnya adalah berdaulat dan mandiri,” jelas Nita.
Nita menjelaskan bahwa negara tidak bisa mengandalkan pangan dari luar, terlebih adanya kondisi konflik geo politik secara global, potensi krisis, pangan, ekonomi, kemudian inflasi, Oleh karena itu, masyarakat sebisa mungkin harus memprioritaskan makanan yang ditanam di tanah Indonesia.
“Nah para putri memberikan contoh bahwa kalau kita makan, nggak kalah gengsinya yang ada di dalam negeri, cuma promosinya kita harus terus gencarkan, dan mungkin kita juga harus dorong bagaimana citra-citra pangan lokal bisa diterima di masyarakat umum sehingga dapat hidup sehat, aktif, produktif,” ucap Nita.
Nita juga menjelaskan bahwa berdasarkan hasil FSVA tahun 2022, menunjukkan sejumlah daerah rentan rawan pangan sebanyak 74 kabupaten/kota atau sebesar 14%, dan sebanyak 440 kabupaten/kota atau sebesar 86% relatif mempunyai ketahanan pangan yang baik.
Adapun faktor penyebabnya, seperti produksi pangan yang ada di wilayah lebih kecil dibanding kebutuhan, prevalensi balita stunting tinggi, akses air bersih terbatas, dan presentase penduduk hidup miskin tinggi.
Di kehidupan sehari-hari, faktanya 1/3 pangan yang di produksi terbuang atau secara global mencapai 1,3 milyar ton makanan terbuang setiap tahun.
“Ini bisa dilihat kajian BAPENAS bahwa data series 20 tahunan di Indonesia, sebanyak 23-48 juta ton terbuang menjadi sampah dalam setahun. Untuk per orangnya, kalau di rata-rata, satu orang menghasilkan 1-2 kwintal per tahun per orang, yang kalau sehari-hari tanpa sadar kita membuang sekitar 1,5 kilogram pangan,” kata Nita.

Agar pangan tidak terbuang begitu saja, maka Badan Pangan Nasional melakukan gerakan dengan melibatkan food bank.
“Kami menyelamatkan 40 ton hanya di Jabodetabek. Itu komitmen tidak hanya lewat kami, kami hanya fasilitator. Jadi, sebenarnya itu melibatkan retail-retail para industri makanan, kemudian toko-toko makanan, jadi ini tinggal kita gerakan,” jelas Nita.
Dalam presentasinya, Nita menuturkan bahwa gerakan pangan merupakan upaya penyelamatan pangan berlebih oleh pihak-pihak yang bersumber dari penyedia untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan disertai upaya sosialisasi atau promosi.
“Kami melihat di beberapa titik effort-nya sangat unik di tiap-tiap tempat, bahkan ada yang kerja sama dengan tim penggerak PKK setempat, atau memang berkolaborasi untuk mengantarnya dengan aplikasi online,” kata Nita.
Pangan berpotensi food waste, yakni pangan berlebih yang masih dalam kondisi baik dan aman, sehingga memang jika tidak dimanfaatkan, berpotensi terbuang tetapi tidak termasuk life over.
Sinergi dan kolaborasi gerakan selamatkan pangan dalam upaya pencegahan food waste ada tiga pilar, yaitu adanya donator, bank pangan, dan penerima manfaat.
“Tentunya kita juga selalu sosialisasi, salah satunya event Putri Bumi Indonesia, bahwa pentingnya kita berbagi pangan. Kalaupun tidak kita selamatkan, setidaknya berbagilah,” ujar Nita.
Merry berbagi ada 8 tips tidak boros pangan, yaitu:
- Meal planning: Rencanakan apa saja yang akan kita masak, setidaknya dalam seminggu ke depan, sehingga kita bisa perkirakan berapa bahan pangan yang dibutuhkan. Ini juga membantu kita untuk mengatur pengeluaran.
- Meal preparation: Menyimpan masing-masing bahan pangan yang telah kita belanjakan sesuai jenisnya dan bisa juga kita olah agar memudahkan saat akan dimasak atau dikonsumsi.
- Menyimpan bahan makanan sesuai dengan jenisnya dan cek tanggal kedaluwarsa: Tata dan simpan bahan makanan sesuai dengan jenis dan karakteristiknya, contoh kentang dan bawang tidak perlu disimpan di kukas, lebih baik di suhu ruang. Olah pangan yang masa simpannya lebih pendek terlebih dahulu, dan jangan lupa cek tanggal kedaluwarsa.
- Ambil makanan secukupnya dan jangan sisakan: Ambil makanan sesuai kebutuhan kita dan habiskan makanan yang sudah ada di piring kita. Pastikan makan beragam dan bergizi seimbang.
- Bawa pulang makanan (take away) jika tersisa.
- Olah kembali makanan sebaik mungkin menjadi menu masakan baru.
- Manfaatkan bagian bahan pangan yang berpotensi terbuang menjadi menu makanan.
- Donasikan Makanan Berlebih yang kita miliki kepada yang membutuhkan.
