Sambut Peserta Perjalanan Thudong, Puluhan Umat Buddha di Jakarta Lakukan Berdana Pindapata Kepada Bhante

0
IMG_0046

Puluhan warga Budha di Jakarta melakukan berdana pindapata kepada  34 Bhikkhu Sangha atau Bhante dari empat negara yakni Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia,  di Vihara Cetiya Panna Sikkha, Taman Palem Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (10/05/2023).

Berdana Pindapata adalah ajaran  Buddha yang menyerukan agar umat Budha berbuat kebajikan dengan bersedekah kepada Bhante yang sedang melakukan perjalanan. Sedekah dilakukan pada dua sesi , yakni sesi memberikan makan pagi pada pukul 06.30 WIB dan pukul 11.00 WIB untuk sesi pemberian makan siang kepada para Bhante. 

Selain makanan, umat yang datang juga memberikan jubah Kaṭhina dan dana. Kehadiran ke-34 Bhante di Vihara Cetiya Panna Sikkha ini, untuk bersinggah, sebelum melakukan perjalanan Thudong lintas negara dan berakhir di  Candi Borobudur saat perayaan Waisak 2567 BE Tahun 2023.  

Perjalanan Thudong merupakan perjalanan  ritual para Bhante  yang dilakukan dengan berjalan kaki ribuan kilometer.  Mereka mulai menjalani perjalanan ini pada tanggal 23 Maret 2023 dari Nakhon Si Thammarat, Thailand melewati Malaysia, Singapura dan tiba Batam pada tanggal 8 Mei 2023. Total jarak tempuh yang dilintasi para Bhante mencapai 1.660 Kilometer dan perjalanan Thudong di tahun ini merupakan pertama kali dilakukan di dunia. Para Bhante ini, akan melanjutkan perjalanannya dari Kementerian Agama pada Kamis (11/05/2023).

Sebelumnya lebih dari 32 Bhante yang ikut perjalanan Thudong, namun ditengah perjalanan,  beberapa Bhante tidak dapat melanjutkan perjalanan karena sakit.

Dalam acara pindapata ini, Vice President Association of Buddhist Tour Operators (ABTO) Efendi Hansen berkesempatan memberikan replika  Candi Borobudur dan buatan dana  kepada perwakilan Bhante. Hansen mengatakan bantuan yang diberikan ini merupakan bentuk apresiasi kepada para Bhante yang telah menempuh perjalanan panjang antar negara

“Pada hari ini kami memberikan sedikit bantuan dana kepada para Bhikkhu Sangha dan juga sebagai apresiasi kita berikan replika Candi Borobudur untuk mereka. Tentu ini menjadi kenangan indah karena perjalanan ini memakan cukup banyak waktu, total hampir 1.700 kilometer dan satu hari mereka berjalan hampir 40 kilometer,” kata Hansen saat diwawancarai tim liputan EL JOHN Media.

Hansen berharap kehadiran para Bhante di Candi Borobudur pada tanggal 4 Juni 2023 atau tepat hari raya Waisak merupakan momentum untuk memperkenalkan Candi Borobudur sebagai pusat religi umat Budha di dunia, apalagi kedatangan para Bhante ini ditempuh dengan berjalan kaki dari Thailand. Oleh karena itu, Hansen mengajak umat Buddha di Indonesia untuk menyambut gembira perjalan spiritual yang dilakukan 34 Bhante ini.  

“Mereka akan mengikuti prosesi Waisak di Borobudur tentu ini luar biasa., karena mereka datang ke Candi Borobudur dengan berjalan kaki. Makanya mari masyarakat Indonesia kita sambut gembira karena ini merupakan promosi negara kita yang luar biasa,” ujar  Hansen.

Bhante Kantadhammo atau akrab disapa dengan Bhante Wawan mengatakan perjalanan Thudong ini pernah dilakukan sang Buddha saat beliau masih hidup.  Semasa hidupnya sang Buddha selalu melakukan perjalan dari satu daerah ke daerah lain dengan berjalan kaki yang jaraknya cukup jauh.

“Dulu waktu sang Buddha masih ada, sang Buddha dan murid-muridnya melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tanpa memakai kendaraan memakai kesaktian dia untuk pergi ke salah satu tempat dan sebagai bhikkhu kamatana kita tetap melakukan praktek dari ajaran dari sang Buddha,” kata Bhante Wawan.

Menurut Bhante Wawan, perjalanan Thudong merupakan perjalanan yang memiliki  banyak manfaat bagi para Bhante yang menjalaninya dan manfaat yang didapat seperti melakukan meditasi.

“Perjalanan Thudong menjadi salah satu praktek untuk meditasi, melatih kesabaran, melatih mental dan memancarkan cinta kasih kita kepada umat. Kalau seorang bhikkhu dukangga melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain apalagi di hutan ada derita yang kita hadapi, seperti banyak makhluk buas atau makhluk halus dan segala macam, makanya kita selalu memancarkan doa agar tidak diganggu dan di situlah kita dilatih kesabaran” terang Bhante Wawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *