Diproyeksikan Kedepan, Wisatawan Milenial Bakal Kuasai Pasar Pariwisata
Generasi Milenial kini menjadi raja dalam setiap aktivitas kehidupan, termasuk untuk sektor pariwisata. Generasi ini kedepan, bakal menguasai pasar pariwisata dunia. Di Asia saja, diproyeksikan pada tahun 2030 generasi ini, dapat mendominasi pasar pariwisata Asia. Presentasenya bisa mencapai 57 persen, yang kebanyakan berusia 15-34 tahun.
Data-data tersebut terpapar saat FGD (Focus Group Discusstion) Milenial Tourism yang digelar Kemenpar, di Jakarta, Kamis, 18 Oktober 2018.
Negara di Asia yang paling menyumbang banyak generasi milenial berwisata diantaranya adalah China. Negeri tirai bambu ini, bisa menggerakkan wisatawan milenialnya mencapai 333 juta. Setelah China, ada Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta.
“50 persen dari tiap pasar itu membuat kebiasaan-kebiasaan mereka berbeda. Seperti China sekarang spending-nya tinggi, Singapura mulai banyak memanfaatkan promo, Eropa juga menggunakan lebih banyak channel informasi,” kata seorang praktisi terkemuka Profesor Rhenald Kasali yang menjadi pembicara dalam FGD tersebut.
Apa yang disampaikan Profesor Rhenald Kasali, diamini oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Rizki Handayani. Rizki mengatakan beberapa negara sudah mulai intens menyasar pasar milenials ini. Antara lain negara Korea, Jepang, dan Thailand. Harapannya di 2019 Indonesia tidak kecolongan untuk mengantisipasi potensi wisatawan milennial. Menurutnya Korea dan Jepang sudah mencontohkan gaya promosi dan iklan yang sangat menyasar millennials, dari segi iklan visual, promosi kebudayaan, kuliner, dan lainnya.
“Target wisatawan 2019 memang tidak mementingkan generasi-generasi mana saja, tetapi nyatanya pasar sudah bergeser, ketika kita terlewat mengambil pasar yang berkembang itu, maka akan tidak banyak juga kita dapatnya nanti,” tutup Rizki.
Sementara, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pernah mengatakan bahwa millennials memiliki peran besar dalam sektor pariwisata. “Marketnya adalah para millennials. Anak-anak muda mobile, digital dan interaktif. Mereka membutuhkan pengakuan, esteem needs, terutama melalui media sosial,” ujar Menpar.