Dukung Wisata Pilgrim, Museum dan Cagar Budaya Lakukan Pembenahan Candi Borobudur

0
WhatsApp Image 2023-09-09 at 08.19.36 (1)

Bapak Rony Dari Museum dan Cagar Budaya Warisan Borobudur Memberikan Kata Sambutan Pada Acara Welcome Dinner di Manohara Resto Magelang

Balai Konservasi Peninggalan Borobudur  telah berubah nama menjadi Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Dengan pergantian nama tersebut, maka Candi Borobudur  bukan hanya untuk pelestarian, namun juga sebagai pengembangan dan pemanfaatan.

Perwakilan dari Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur Rony mengatakan perubahan nama tersebut merupakan bentuk dukungan Kemendikbudristek terhadap kegiatan famtrip Pilgrim yang diselenggarakan Taman Wisata Candi (TWC) dan Association of Buddhist Tour Operators Indonesia (ABTO). Hal tersebut disampaikan Ronny saat memberikan sambutan pada acara Welcome Dinner bagi peserta famtrip wisata pilgrim  di Manohara Resto Borobudur, Magelang, Selasa malam (05/09/2023).

“Untuk mendukung ini Kemendikbudristek perlu melakukan reorganisasi sehingga kami yang ada di Borobudur ini menjadi Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur, sehingga fungsi kami yang semula untuk pelestarian candinya sekarang bisa berkembang lagi dengan adanya pengembangan dan pemanfaatan, sehingga kami mendukung secara langsung kegiatan famtrip ini,” kata Rony.

Ibu Hetty Herawati Menerima Cinderamata dari Peserta Famtrip Spiritual Borobudur, Melalui Bapak Efendi Hansen

Kendati demikian,  Rony menyebut ada beberapa hal yang harus dibenahi baik yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan, di antaranya pembatasan pengunjung ke Candi Borobudur.

Ronny menjelaskan, sebelumnya dibatasi, pengunjung Candi Borobudur terus membludak terutama di akhir pekan. Karena pengunjung yang terus berdatangan, maka muncul pelanggaran, seperti vandalisme.

“Mohon maaf sering sekali teman kita itu sampai buang kotoran karena orang-orang banyak sekali yang berkunjung beraneka macam. Bukan hanya orang Indonesia yang berbuat seperti itu, banyak juga warga negara asing. Kemudian juga banyak ditemukan vandalisme kebetulan ada beberapa yang pernah kami tangani oleh satuan keamanan kami, dan di beberapa titik bangunan candi ada yang rusak” terang Ronny.

Kemudian Ronny melanjutkan, Museum dan Cagar Budaya mewajibkan pengunjung yang ingin naik di atas Candi untuk mengenakan sandal upanat. Sandal ini dibuat dari daun pandan sehingga aman untuk bebatuan candi. Dihadirkannya sandal tersebut juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar candi.

Bapak Efendi Hansen Berbincang Dengan Ibu Handini Rahayu Saat Acara Welcome Dinner Famtrip Spiritual Borobudur di Manohara Resto, Magelang

Upaya lain untuk mengatasi masalah yang terjadi di Borobudur adalah mengganti lantai halaman candi dengan rumput yang difungsikan untuk mencegah debu. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, rumput yang ditanam rusak akibat membludaknya pengunjung sebelum adanya pembatasan.

“Di tahun ini, kita sudah merencanakan untuk tahun 2024 itu kita akan memperbaiki halaman dengan kombinasi ada semacam alat atau semacam conblock tapi itu tidak dengan pembatas-pembatas, kita akan pakai batu kerikil yang kecil sehingga masih bisa dilewati dan diharapkan tidak berdebu dan juga tidak licin,”  ujar Ronny.

Selanjutnya Museum dan Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur akan menambah lampu penerangan yang difungsikan untuk kegiatan di malam hari. Terkait masukan ditambahkan jam untuk naik ke atas Candi Borobudur bagi peserta famtrip, Ronny mengatakan sebagai pelaksana di lapangan dirinya siap, namun hal tersebut masih dalam pembahasan di level atas.

Para Peserta Wisata Pilgrim Sedang Menyaksikan Diskusi di Acara Welcome Dinner di Manohara Resto Borobudur, Magelang

“Kami sudah sampaikan ke pusat juga saya tidak tahu apakah nanti akan ada pembicaraan lebih lanjut dengan empat Kementerian itu, yang akan memberikan kepastian kami kan hanya pelaksana di lapangan,” tutur Ronny.

Ronny berharap kegiatan famtrip pilgrim ini dapat berkelanjutan sehingga dapat berdampak pada perekonomian masyarakat di sekitar Candi Borobudur maupun masyarakat Magelang yang berada di sekitar candi.

“Dan kami berharap di negara-negara yang banyak memeluk agama Buddha juga bisa berkunjung ke Borobudur dan mendapatkan support dari warga sekitar Borobudur, Magelang pada umumnya dan khususnya di area sekitar Borobudur dan semoga ini bisa berkelanjutan dan diwujudkan menjadi destinasi wisata religi umat Buddha,” tutup Ronny.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *