Fenomena Bisnis Hiasan dan Dekorasi Ramadhan di Medan

0
pernak

Meski dagangannya tidak banyak terjual malah terkadang rugi, seorang ibu bernama Susanti tetap mempertahankan usaha penjualan pernak-pernik khas Ramadhan berupa ‘ketupat raksasa’ yang terbuat dari plastik, di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan.

Elvi mengatakan, sudah 3 tahun berjualan di bulan Ramadhan, namun baru di tahun ini ia merasakan tidak adanya peminat yang cukup tinggi.

“Setiap menjelang lebaran saya menjual ini, yah kadang laku, kadang gak tergantung rezeki yang dikasih Allah,” tutur Elvi kepada Eljohnnews.com, pada hari Sabtu (2/6).

Saat ditanya berapa omset yang didapat, ia menjelaskan bahwa yang didapatnya dari hari pertama Ramadhan sampai hari terakhir paling besar adalah Rp2-3 juta.

“Selama sebulan tidak banyak yang saya dapatkan hanya Rp3 juta, itupun kadang hanya balik modal karena ada yang menjualkan tapi ujung-ujungnya tidak seperti yang diharapkan,” keluhnya.

Lebih lanjut dikatakannya, usaha ini digelutinya semata-mata ingin mempertahankan kerajinan yang menjadi tradisi untuk menghiasi rumah umat Muslim di Hari Raya Idul Fitri.

“Untuk ukuran yang besar saya jual Rp25.000 yang sedang Rp15.000, sedangkan yang paling kecil Rp10.000,” jelasnya.

Evi berharap masyarakat tetap melirik dan mempertahankan kerajinan yang telah ada sejak lama itu, jangan sampai hilang dikikis perkembangan zaman.

“Kalau bukan kita dek, siapa lagi yang mempertahankan kerajinan ini,” demikian Elvi.

Beda Nasib Penjual Ketupat Hias dan Bedug Hias

Salah satunya pengrajin dekorasi ketupat dan beduk yang kebanjiran order adalah Alhamdani. Tempat usahanya terletak di Jalan Adi Sucipto, kecamatan Medan Polonia, Medan, Sumatera Utara.

Sejak awal ramadan, permintaan dekorasi ketupat dan beduk yang dibuat di rumah kontrakannya bersama istri dan adiknya, setiap hari terus mendapat pesanan. Khususnya masyarakat umat muslim yang akan merayakan hari Idul Fitri.

Dalam sehari, Alhamdani mampu membuat lebih dari 500 hingga 1.000 buah miniatur pernak-pernik khas Lebaran dengan berbagai jenis. Seperti ketupat, lampion, beduk, Masjid, patung unta dan ucapan selamat hari raya.

Sedangkan, bahan yang digunakan membuat dekorasi khas Lebaran ini adalah berbahan dasar gabus dan Styrofoam. Proses pembuatannya pun relatif mudah hanya membutuhkan waktu dua sampai tiga hari.

“Untuk ketupat terlebih dahulu karet spon dipotong-potong memanjang sesuai ukuran, setelah itu baru dianyam layaknya seperti membuat ketupat, agar terlihat menyerupai aslinya, karet spon terlebih dahulu dicat warna hijau,” ujarnya saat ditemui, pada hari Minggu (10/6).

Sementara itu lanjutnya, untuk membuat miniatur beduk, Masjid dan ucapan selamat hari raya.  Adalah dengan berbahan dasar gabus dan styrofoam. Dia dapat memproduksinya sebanyak lima buah per harinya.
Dia mengatakan permintaan masyarakat paling banyak adalah permintaan pernak pernik seperti ketupat, beduk dan Masjid karena banyak dibeli untuk dipajangkan di perkantoran atau hotel.
Mengenai harga jual yang ditawarkan juga beragam dan tergantung sesuai dari ukuran besar kecilnya untuk harga ketupat mulai dari lima belas ribu hingga ratus ribu rupiah per buah. Sedangkan, harga jual seperti beduk, minatur mesjid dijual dari Rp120 ribu hingga Rp500 ribu per buah.
Setelah 3 tahun terjun dalam bisnis hiasan pernak pernik lebaran. Hasil karya Alhamdani kini banyak pemesanannya. Bahkan, pesanan tidak hanya dari kota Medan, namun kini banyak dari Aceh, Pekan Baru dan Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *