DestinationHeadline NewsMarine TourismTourism

Fremantle-Bali Yacht Race 2017 Dongkrak Perekonomian Industri Pariwisata

Benar-benar dahsyat dampak  ekonomi dari Ajang Fremantle-Bali Yacht Race 2017.  Iindustri  pariwisata yang ada di sekitar area Fremantle-Bali Yacht Race merasakan adanya dampak ekonomi yang menguntungkan dari Kompetisi para Yatch tersebut.  Tercatat ada 70 peserta race yang banyak membelanjakan uangnya di destinasi wisata terbaik dunia 2017 pilihan TripAdvisor itu. Itu pun belum termasuk 52 anggota keluarga mereka yang ikut diboyong ke Pulau Dewata Bali.

Mereka seakan menumpahkan segalanya dengan besenang-senang  di Bali, setelah menjalani lomba yang melelahkan  dengan menempuh  jarak  yang sangat jauh dengan mengunakan Yatch. Para peserrta Menempuh rute sejauh 1.440 nautical mile atau sekitar 2.600 kilometer, peserta berangkat dari Fremantle, Australia, ke Pelabuhan Benoa, Bali dengan memakan waktu 6 sampai 10 hari. Mereka tiba di pelabuhan Benoa Bali secara bergantian ada yang tanggal 13 Mei, 16 Mei dan 19 Mei 2017.  Sementara untuk keluarga peserta race  datang ke Bali dengan mengunakan pesawat.

“Total kru dan skipper ada 70 orang. Dan mereka masih membawa 52 orang anggota keluarga untuk berlibur ke Bali,” kata Raymond T Lesmana, di sela Welcome Dinner Fremantle-Bali Yacht Race 2017 di Prama Sanur Beach Hotel, Sabtu 20 Mei 2017.

Pria yang sudah puluhan tahun mengurus organizer yacht rally internasional itu sangat yakin kegiatan ini memberi dampak ekonomi yang tidak sedikit bagi Bali. Marina, hotel, rental mobil, restoran, bar dan pub, semua ikut terkena imbas positif dari Fremantle-Bali Yacht Race 2017.

“Tipikal yacht racer adalah spending uang yang lebih besar dari rally yachter. Mereka maunya menginap di hotel berbintang. Makannya di restoran berbintang. Satu kapal yang terdiri dari satu awak dan dua skipper biasanya mengeluarkan uang US$ 123 per hari. Keluarga yang ikut terbang dari Australia ke Bali rata-rata juga segitu. Silakan estimasi sendiri, berapa perputaran uang dari race ini,” katanya.

 Rayamond mengaku  pengeluaran para peserta bisa bertambah karena perhitungan tadi belum termasuk  membeli bahan bakar, air bersih, perbaikan kapal, kebersihan dan kebutuhan dasar lainnya. Bahkan Raymond mendengar langsung ada peserta yang ingin berlama-lama di Bali.

“Dan kemarin ada beberapa yachter yang ingin menetap tiga hingga enam bulan. Ada yang ingin ke Labuan Bajo, Tual, Anambas. Coba bayangkan berapa potensi uang yang akan beredar di masyarakat bila Indonesia disinggahi yachter-yachter Australia ini? Angkanya pasti lumayan,” katanya.

Penilaian Raymond adanya dampak  ekonomi yang positif saat Fremantle-Bali Yacht Race 2017 digelar,  didukung  Ketua Tim Percepatan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Indroyono Soesilo. Melihat besarnya dampak ekonomi dari wisata yacht, mantan Menko Kemaritiman itu berjanji untuk mengintensifkan perbaikan layanan bagi yacht internasional yang mengunjungi nusantara.

“Dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 105/2015 tentang pengelolaan kunjungan kapal pesiar asing adalah tonggak penting dalam upaya pemerintah untuk merampingkan sektor ini. Berdasarkan peraturan tersebut, kapal pesiar asing dan penumpang serta awak kapal dapat mengakses dukungan administratif dan imigrasi saat memasuki salah satu dari 18 pelabuhan yang dipilih, seperti Pelabuhan Benoa di Bali, Pelabuhan Sabang di Aceh dan Pelabuhan Belawan di Medan,” ujarnya.

Dan bagi yang ingin memperpanjang masa liburannya, sekarang sudah ada sosio culture visa yang bisa diperpanjang selama enam bulan. “Setelah yacht, ke depannya kami akan merayu super yacht yang berukuran lebih dari 24 meter untuk berwisata ke Indonesia,” ucapnya.

Peningkatan pelayanan memang menjadi nyawa dari wisata yacht. Clearance in and out, custom, immigation stamp passport, karantina dan Syahbandar harus all out memback up ini. Hal itu, bila ingin wisata yacht Indonesia berkompetisi dengan global player lainnya. Dan hal ini ikut diamini Bernie Kaaks, Principal Race Officer.

“Saya lihat pelayanan sudah jauh lebih bagus. Tinggal klik http://yachters-indonesia.id dan mengisi form yang tersedia, yachter sudah bisa masuk ke Indonesia. Sudah jauh lebih simpel,” katanya.

Tapi, itu saja rupanya belum cukup. Setelah sandar, yachter butuh layanan satu atap. Custom, Imigrasi, karantina dan Syahbandar, harus ada di satu marina untuk mempermudah mobilisasi yachter saat ingin berwisata di darat. “Sekarang itu belum ada. Kantor pelayanan masih terpisah-pisah. Tidak dalam satu lokasi. Kami jadi harus mengeluarkan ekstra cost untuk mengurus perizinan setelah sandar di marina,” ungkapnya.

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button