Lifestyle

Gangguan tidur yang menyeramkan, NIGHT TEROR

Teror malam

Teror malam (night terror), juga dikenal sebagai teror tidur atau nokturnus pavor, adalah gangguan tidur parasomnia yang ditandai oleh teror yang ekstrim dan ketidakmampuan sementara untuk mendapatkan kembali kesadaran penuh. Penderitanya bangun tiba-tiba dari tahap keempat tidur, biasanya disertai dengan nafas terengah-engah, merintih, atau berteriak. Seringkali mustahil untuk membangunkan orang tersebut, dan setelah episode dia biasanya kembali tertidur tanpa terbangun. Teror malam jauh lebih intens daripada kebanyakan mimpi buruk. Gangguan tidur ini paling umum terjadi pada anak-anak dan menyebabkan rasa takut yang berlebihan. Teror malam secara teknis bukanlah mimpi, tetapi reaksi yang kuat dari satu fase tidur ke fase tidur yang lain pada anak-anak dan biasanya terjadi 2 sampai 3 jam setelah tidur dimulai.

Cara terbaik untuk mengatasi teror malam adalah dengan tidak membangunkan anak Anda karena hal ini akan membuatnya bingung. Sebaliknya, duduk tenang dan pastikan anak Anda tidak melukai dirinya sendiri. Kemudian kurangi stres di lingkungan anak, membuat rutinitas, dan memastikan anak dapat tidur dengan keadaan yang tenang. Sebagai informasi, ada empat stadium tidur. Stadium 1 disebut ’inisiasi tidur’ atau ’masa emas tidur’. Pada saat inilah tidur diawali. Sedangkan stadium ke-3 dan 4 adalah bagian tidur terdalam. Setelah itu, beranjak pada tahap REM, saat seseorang tidur, tetapi kedua matanya bergerak-gerak. Inisiasi tidur atau stadium satu ini sangat penting bagi seseorang. Kesulitan pada tahap inilah yang berkaitan erat dengan gangguan susah tidur.

Pasalnya, pada tahap inilah orang menuju proses mengantuk. Jika inisiasi tidak berhasil, otomatis kita jadi susah tidur. Tetapi, jika gangguan tidur terdapat pada kedalaman tidur seseorang (kualitas), biasanya hal itu menyerang di stadium 3 dan 4, pada bagian tidur terdalam. Teror malam biasanya terjadi di stadium ini (sepertiga malam). Gejalanya, penderita bisa sewaktu-waktu bangun dalam keadaan panik hebat, berkeringat dingin, dan berteriak. Penderita kadang melakukan gerakan tertentu, misal bangun atau berdiri dalam keadaan panik dan berlari seperti ingin melarikan diri. Penderita biasanya masih berada di kamarnya.

Jarang ada yang bisa sampai keluar kamar seperti pada somnambolisme. Dia hanya panik, kemudian dia akan kembali tertidur. Kondisi ini tentu membuat ngeri teman tidur atau orang di sekitar si penderita. Tetapi, berusaha meredakan si penderita juga bukan ide baik. Si penderita kadang jadi bertambah panik. Begitu juga orang yang berusaha membangunkan. Keduanya jadi sama-sama takut.

Orang awam sering mengira penderita sedang ’kesurupan’. Padahal, si penderita sedang mengalami disorientasi. Dia tidak tahu sedang berada di mana dan tidak sadar. Ia akan bertambah panik jika ada ’gangguan’ dari luar. Dalam keadaan panik ini bisa terjadi hal berbahaya. Apalagi, jika ruang tidurnya tidak kondusif. Misalnya penderita menabrak tembok, menabrak kaca, lampu, hingga jatuh, pecah, dan sebagainya. Saat bangun, penderita tidak sadar dengan apa yang telah terjadi. Tidak hanya terjadi pada orang dewasa loh karena gangguan ini juga bisa terjadi kepada anak – anak.

Selama teror malam anak Anda akan terbangun tiba-tiba dan bisa menjerit atau menangis. Matanya akan terbuka, tapi dia tidak akan melihat. Dia mungkin hiperventilasi, mengamuk atau berbicara tak jelas. Dia mungkin akan berkeringat dan memerah. Dia mungkin tampak takut, tapi anak Anda tidak benar-benar takut, tidak terjaga, dan tidak bermimpi. Dia tertidur, dan di berada zona antara siklus tidur. Seorang anak memiliki teror malam tidak menyadari apa yang terjadi, dan tidak akan dapat mengingatnya di pagi hari.

Selama teror malam Anda mungkin mencoba untuk menggendong anak Anda, tetapi sering hal ini akan mengakibatkannya untuk mendorong Anda menjauh atau melawan Anda. Respon terbaik adalah tepukan lembut, bersama dengan kata-kata menghibur. Jika anak Anda beranjak dari tempat tidur, bawa dia kembali ketempat tidurnya. Jika dia duduk, bimbing dia untuk berbaring kembali. Awasi sampai ia kembali tidur.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button