DestinationEco TourismHeadline NewsTourism

Hindari Konflik Gajah-Manusia, Warga Disarankan Tanam Komoditas Lain

World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menyadari peliknya persoalan Gajah yang terjadi di Sumatera. Konflik Gajah dengan manusia seakan  yang  tidak ada habisnya. Di lain sisi Gajah Sumatera perlu dilestarikan dan dilindungi mengingat jumlahnya yang kini semakin mengkhawatirkan. Di sisi lain, warga juga butuh melindungi komoditas yang ditanam agar tidak dirusak oleh sekelompok hewan berbelalai itu.

Contoh kasus seperti yang terjadi pada tanggal 15 Oktober 2017, dua  ekor gajah mati diduga akibat tersengat listrik oleh kawat pagar yang dialiri listrik.Fenomena kematian gajah akibat tersengat listrik terutama dari instalasi kawat berarus listrik yang disebut electric fence untuk satwa liar adalah nomor ke-4 penyebab kematian gajah tertinggi setelah teknik peracunan, perburuan dengan senjata dan penyakit, dalam tiga tahun terakhir.

Penggunaan electric fence ini dijamin aman dari serangan  gajah ke perkebunan warga. Namun disisi lain alat itu memiliki tegangan yang cukup tinggi sebesar 220 volt. Tegangan ini bukan hanya membayahkan bagi gajah,   namun juga membahayakan keselamatan manusia. Selain itu alat itu juga cukup merogoh kocek yang lebih dalam.

Para pemangku kepentingan terutama yang berkaitan dengan upaya mitigasi konflik satwa liar memang perlu menerapkan panduan mengenai instalasi dan penggunaan alat ini bagi masyarakat. Tujuannya agar masyarakat tidak salah arah terhadap penggunaan alat mitigasi ini. Sosialisasi alat ini dilakukan untuk perusahaan dan masyarakat pekebun yang ingin menerapkan alat ini di lapangan.

Yang terpenting pula adalah penyiapan masyarakat terhadap alternatif komoditas yang tidak disukai gajah yang bernilai  ekonomi dan dapat ditanam oleh dikelola masyarakat. Di Aceh, komoditas kemiri,sereh, singkong pait atau kopi menjadi target komoditas yang direkomendasikan di tanam di wilayah-wilayah yang memang menjadi jalur jelajah gajah. Komoditas ini bernilai ekonomi tetapi tidak  disukai  gajah. Beberapa lokasi misalnya di Duri, Riau.

Masyarakat tidak perlu lagi menggunakan parit gajah dan electric fencesebagai alat menghindari gajah masuk kebun dan merusak tanaman. Mereka menanam komoditas yang tidak disukai gajah dan mereka tetap membiarkan gajah masuk kebun, dan ternyata gajah tidak memakan komoditas tersebut sehingga kerugian terhindarkan. (Sumber WWF Indonesia)

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button