Hotel di Bali Banjir Pesanan Kamar dari Wisman di Lombok
Akhir-akhir ini, industri perhotelan di Bali mendapat borongan pesanan hunian kamar oleh wisatawan, baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Para wisatawan itu, adalah wisatawan yang dievakuasi dari Lombok, akibat gempa yang mengguncang Lombok Utara, pada Minggu Malam, 5 Agustus 2018.
Pesanan kamar ini, didominasi oleh ribuan wisman yang jadwal liburannya belum habis di Indonesia. Setibanya di Bali. para wisman itu langsung memesan kamar. Namun, ada juga yang memesan kamar dari Lombok, itupun karena koneksi internetnya tidak putus.
“Untuk jangka pendek kami memang dapat limpahan, banyak pesanan hotel, ramai wisatawan,” ungkap Alit Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anak Agung Ngurah Alit Wir belum lama ini.
Alit berharap gempa yang terjadi di Lombok, tidak mengganggu pariwisata di Bali, pasalnya Bali ikut merasakan guncangan hebat saat gempa terjadi. Selain itu, kondisi pariwisata di Bali sedang ramai.
Menurut Alit, para wisman, khususnya dari Singapura dan Jepang yang akan mengunjungi Bali, terus memantau informasi dari Indonesia perihal kemungkinan terjadinya gempa susulan. Namun hingga saat ini, belum ada wisman yang menunda atau membatalkan kunjungannya ke Pulau Dewata.
“Mereka ragu-ragu, belum batal ya. Mereka masih melihat bagaimana kondisi satu minggu ini,” ungkap Alit.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali, I Ketut Ardana memastikan seluruh operasional hotel dan pariwisata di Bali berjalan normal hari ini.
Ia juga belum mendapatkan kabar jika ada wisatawan lokal maupun asing yang membatalkan kunjungannya ke Bali. Menurutnya, selama penerbangan tetap beroperasi, maka tak akan ada masalah dengan wisatawan.
“Tapi ya tidak tahu informasinya nanti seperti apa, tapi sejauh ini tidak ada pembatalan,” terang Ketut.
Meski begitu, ia tetap cemas dampak pascabencana alam ini menimpa Lombok dan Bali Saat ini, Bali bergantung pada sektor pariwisata. Jika sektor itu terancam, maka pendapatan usaha pengusaha pariwisata pun berpotensi menipis.
“Makanya kami informasikan mitra bisnis di luar tentang kondisi di Bali baik-baik saja dan harus benar-benar meyakinkan,” ujar Ketut.
Pihaknya, menurut dia, akan merekomendasikan tempat yang memang tak layak untuk dikunjungi oleh wisatawan. Ia pun menegaskan akan berupaya memberikan informasi sebenar-benarnya pada mitranya di luar negeri.
“Misalnya ke Gili Trawangan di Lombok ya itu tidak dulu lah, arahkan ke destinasi lain misalnya ke Bali nya, Bali kan aman,” pungkas Ketut. (Sumber CNN Indonesia)
