Hujan Ekstrem Guyur Jakarta, 1.200 Pompa Dikerahkan Tangani Banjir

0
1728621496_6708abb80dd98 (1) ok

Rumah Pompa di Pantai Muara Baru, Jakarta Utara (Foto: Diskominfotik DKI Jakarta)

El John News, Jakarta-Pemprov DKI Jakarta mempercepat penanganan banjir yang melanda sejumlah wilayah ibu kota setelah hujan dengan intensitas sangat tinggi mengguyur Jakarta sejak Sabtu malam hingga Minggu (8/3/2026). Ribuan petugas dikerahkan ke lapangan, sementara ratusan pompa air dioperasikan untuk mempercepat penyedotan air di titik-titik genangan.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta hingga pukul 11.00 WIB, banjir tercatat merendam 147 rukun tetangga (RT) dan menggenangi 19 ruas jalan di berbagai wilayah Jakarta. Tinggi genangan bervariasi, mulai dari sekitar 20 sentimeter hingga mencapai 1,7 meter di beberapa lokasi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama terjadinya banjir di sejumlah wilayah. Dalam kurun waktu satu hari, intensitas hujan di Jakarta tercatat mencapai 264 milimeter, angka yang jauh melampaui rata-rata curah hujan harian.

“Hari ini di Jakarta dan sekitarnya, curah hujan mencapai 264 milimeter per hari. Itu termasuk curah hujan yang sangat tinggi,” ujar Pramono di Jakarta, Minggu (8/3/2026).

Data BMKG menunjukkan curah hujan ekstrem terjadi di dua titik pengamatan, yakni Sunter Hulu di Cilangkap, Jakarta Timur, serta kawasan Pompa Arcadia di Kalibata, Jakarta Selatan.

Mengantisipasi dampak banjir, Pemprov DKI langsung mengoordinasikan langkah penanganan sejak Sabtu malam. Salah satu langkah utama adalah mengaktifkan sistem pemompaan di sejumlah lokasi rawan genangan untuk mempercepat surutnya air.

“Sejak semalam saya sudah berkoordinasi dengan jajaran, terutama Dinas Sumber Daya Air. Bahkan di beberapa titik pemompaan sudah dilakukan sejak malam,” ungkap Pramono.

Secara keseluruhan, Pemprov DKI mengoperasikan sekitar 1.200 unit pompa pengendali banjir. Rinciannya terdiri dari 668 pompa stasioner yang tersebar di 243 lokasi serta 536 pompa mobile yang ditempatkan di berbagai titik rawan genangan.

Pompa-pompa tersebut bekerja menyedot air di sejumlah kawasan yang terdampak, termasuk Jalan Daan Mogot di Jakarta Barat serta beberapa ruas jalan utama lain yang mengalami genangan.

Selain hujan lebat yang mengguyur wilayah Jakarta, pemerintah juga mewaspadai tambahan debit air dari daerah penyangga seperti Bogor dan Tangerang yang turut mengalami curah hujan tinggi.

Pemantauan terhadap tinggi muka air (TMA) di sejumlah sungai yang mengalir ke Jakarta menunjukkan adanya peningkatan signifikan sejak Sabtu sore hingga Minggu dini hari.

Di Pintu Air Manggarai, misalnya, aliran Kali Ciliwung sempat berstatus Waspada dengan ketinggian lebih dari 750 cm pada pukul 02.00 WIB. Ketinggian air kemudian meningkat hingga 845 cm pada pukul 07.00 WIB, mendekati status Siaga. Kondisi ini berangsur menurun hingga kembali normal sekitar pukul 13.00 WIB di angka 715 cm.

Sementara itu, di Angke Hulu, ketinggian air mulai meningkat pada Sabtu sore hingga mencapai 200 cm pada pukul 16.00 WIB (Waspada). Kondisi ini terus meningkat menjadi 250 cm (Siaga) pada pukul 18.00 WIB, lalu mencapai lebih dari 300 cm (Bahaya) pada Minggu pukul 01.00 WIB. Bahkan ketinggian air sempat menyentuh 400 cm pada pukul 07.00 WIB.

Kenaikan serupa juga terjadi di Cengkareng Drain, yang mulai berstatus Waspada sejak Sabtu pukul 14.00 WIB dengan ketinggian 206 cm. Pada pukul 16.00 WIB, status meningkat menjadi Siaga dengan ketinggian 276 cm, lalu terus naik hingga mencapai 314 cm (Bahaya) pada Minggu pukul 01.00 WIB. Puncaknya, tinggi muka air tercatat 380 cm pada pukul 08.00 WIB.

Di Kali Sunter Hulu, kenaikan TMA mulai terlihat sejak Sabtu pukul 16.00 WIB dengan ketinggian 150 cm (Waspada). Kondisi kemudian meningkat menjadi Siaga dengan ketinggian 250 cm pada Minggu pukul 01.00 WIB, dan sempat mencapai status Bahaya pada pukul 02.00 hingga 03.00 WIB, sebelum berangsur turun pada sekitar pukul 08.00 WIB.

Pramono mengingatkan bahwa curah hujan tinggi di wilayah hulu turut berkontribusi terhadap peningkatan debit air yang mengalir ke Jakarta.

“Karena di wilayah atas, baik di Bogor maupun Tangerang, curah hujan juga tinggi, pasti ada air yang mengalir ke Jakarta,” tuturnya.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan terus memantau informasi resmi terkait kondisi cuaca serta potensi banjir di wilayah masing-masing.

Dalam jangka menengah, Pemprov DKI juga terus memperkuat strategi pengendalian banjir melalui program normalisasi sungai. Saat ini, upaya tersebut dilakukan di tiga aliran sungai utama, yaitu Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut.

Salah satu proyek yang tengah berjalan adalah normalisasi Kali Cakung Lama yang ditargetkan rampung pada 2027. Program tersebut diharapkan mampu menekan risiko banjir di sejumlah kawasan Jakarta secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *