IHSG Kembali Tumbang, Baru Dibuka Sudah Anjlok ke Level 7.900

0
82fd85af-7153-4fad-980c-7c541555cfb8

Ilustrasi IHSG merosot ke level 7.900 (Foto: Generated AI)

El John News, Jakarta-Pasar saham Indonesia kembali dilanda tekanan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok tajam sesaat setelah perdagangan dibuka pada Senin pagi (2/2). Dalam waktu kurang dari 20 menit, indeks anjlok lebih dari 5 persen dan menembus level psikologis 7.900.

Berdasarkan data RTI Infokom, pada pukul 09.18 WIB IHSG melemah 5,08 persen ke posisi 7.906. Tekanan jual terjadi secara merata di hampir seluruh papan perdagangan. Tercatat sebanyak 596 saham bergerak di zona merah, sementara hanya 53 saham yang menguat dan 59 saham lainnya stagnan.

Sejak bel pembukaan perdagangan dibunyikan, IHSG tidak pernah beranjak dari zona negatif. Padahal, indeks sempat dibuka melemah relatif tipis, turun 33,45 poin atau 0,40 persen ke level 8.306. Pada awal sesi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 8.313 sebelum akhirnya meluncur deras hingga ke titik terendah 7.909.

Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi sudah mencapai Rp7,11 triliun dengan volume 12,10 miliar saham yang diperdagangkan dalam 754.028 kali transaksi hingga pukul 09.17 WIB. Seiring dengan derasnya aksi jual, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turut menyusut menjadi Rp14.283,85 triliun.

Kepercayaan investor tampaknya masih rapuh setelah guncangan besar yang terjadi pada pekan lalu. Pasar modal Indonesia sebelumnya diguncang kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.

Kebijakan MSCI tersebut mencakup penghentian seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, tidak adanya penambahan emiten baru ke dalam indeks, serta penundaan kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks MSCI. Langkah itu langsung memicu kepanikan di pasar.

Dampak IHSG, Pimpinan Otoritas Pasar Modal Mundur

Dampaknya sangat terasa. IHSG anjlok hingga 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), yang berujung pada penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Tekanan ekstrem tersebut bahkan berimbas ke pucuk pimpinan otoritas pasar modal.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, memilih mengundurkan diri di tengah gejolak pasar. Tak lama berselang, empat pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyatakan mundur secara bersamaan, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara.

Pemerintah Siapkan Demutualisasi BEI untuk Pulihkan Kepercayaan

Sementara itu, untuk mengatasi IHSG yang terus anjlok, pemerintah akan mempercepat  demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemerintah menargetkan Peraturan Pemerintah (PP) terkait demutualisasi dapat diselesaikan pada kuartal pertama 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan transformasi ini dinilai penting untuk memperkuat independensi, profesionalisme, serta tata kelola bursa. Selain itu, langkah tersebut juga bertujuan meminimalkan potensi benturan kepentingan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

“Demutualisasi merupakan langkah struktural untuk memperkuat integritas pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun globa,” ujar Airlangga di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Selain reformasi kelembagaan, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI juga akan memperkuat tata kelola serta keterbukaan informasi di pasar modal. Salah satu kebijakan yang tengah disiapkan adalah peningkatan batas minimum free float bagi emiten berkapitalisasi besar dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong penguatan basis investor domestik. Salah satu langkahnya adalah meningkatkan batas investasi saham oleh dana pensiun dan perusahaan asuransi dari 10 persen menjadi 20 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *