IHSG Siap Terbang ke 10.000? Simak Analisisnya!
Herditya Wicaksana (Head of Research Retail MNC Sekuritas) menjadi narasumber dalam program Flash Report El John News (Foto: tangkapan layar Youtube El John News)
El John News, Jakarta-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka tahun 2026 dengan kinerja impresif setelah menembus level psikologis 9.000. Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, menilai pencapaian ini menjadi indikator kepercayaan diri investor yang mulai pulih, meski pasar masih bergerak volatil.
“Area 9.000 menjadi level optimisme pertama yang sudah tercapai. Meski IHSG bergerak cenderung fluktuatif, level ini menunjukkan kepercayaan diri investor. Target 10.000 bukan hal yang mustahil, namun untuk skenario moderat, MNC Sekuritas memperkirakan penguatan IHSG hingga akhir 2026 berada di kisaran 9.100–9.400”
Menurut Herditya, penguatan IHSG kali ini terutama didorong oleh sektor tambang dan energi. Sektor consumer cyclical dan infrastruktur juga memberikan kontribusi signifikan. “IHSG sempat mencapai level tertinggi intraday Rp 9.046, disertai volume pembelian yang masih dominan,” jelasnya.
Dari sisi EMITEN, Herditya menyoroti lima saham dengan transaksi terbesar yang mendorong penguatan IHSG, yaitu Bumi, GOTO, Arci, dan ANTM. Selain itu, saham-saham konglomerasi yang sebelumnya cenderung stagnan kini mulai bergerak naik, ikut mendorong penguatan indeks.
Herditya juga memaparkan saham-saham yang menjadi incaran investor asing. “Top 5 saham yang paling diburu asing adalah Arci, ANTM, Inco, BRMS, dan PSAB. Kelimanya bergerak di sektor logam dan basic material. Kenaikan harga emas yang masih mencatatkan rekor tertingginya serta tren naik harga nikel membuat emiten berbasis logam dasar, termasuk timah, nikel, dan emas, tetap menjadi buruan investor domestik maupun asing,” ujarnya.
Pergerakan IHSG yang menguat ini tidak lepas dari sentimen harga komoditas global. Herditya menekankan, meski ada tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan ketegangan geopolitik global, termasuk Amerika Serikat dengan Venezuela dan Iran, dampaknya terhadap pasar domestik relatif kecil. “Investor cenderung menggeser sebagian aset berisiko ke safe haven mengingat kondisi geopolitik yang tidak menentu,” tambahnya.
Dengan pencapaian level 9.000, Herditya menilai IHSG memulai tahun 2026 dengan tren positif, sekaligus menunjukkan bahwa investor mulai kembali percaya diri dalam menghadapi kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian. Ia optimistis, penguatan yang moderat namun konsisten bisa terus terjadi sepanjang tahun, terutama ditopang oleh sektor energi dan basic material yang menjadi primadona investor.
