Indonesia dan Tiongkok Perkuat Sinergi Budaya dan Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Obat Tradisional
Kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok di bidang pengembangan obat tradisional dan ilmu pengobatan integratif memasuki babak baru. Melalui pertemuan bilateral yang digelar di Beijing, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) memperkuat hubungan dengan berbagai institusi akademik dan lembaga riset traditional Chinese medicine (TCM) atau pengobatan tradisional Tiongkok.
Delegasi BPOM dipimpin langsung oleh Kepala BPOM, Prof. Taruna Ikrar, yang didampingi Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1), William Adi Teja, serta Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Lynda Kurnia Wardhani.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah akademisi dan praktisi TCM ternama, seperti Zhao Changlong dan Tong Xiaoying dari China Academy of Chinese Medical Sciences, Wang Heping dari Beijing Yuanmei Manual Bone Setting and Orthopedics Center, Liu Ying dari Center for Integrative Medicine, Beijing University of Chinese Medicine, serta Wang Xing dari Zhongyu Pharmaceutical Economics Development and Application Center.
Pertemuan ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengalaman antara kedua negara mengenai pengembangan obat tradisional sebagai warisan budaya sekaligus sumber inovasi ilmiah.
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menekankan bahwa kolaborasi di bidang pengobatan tradisional harus dibangun di atas fondasi keilmuan, keamanan, dan manfaat bagi masyarakat global.
“Kami sangat mengapresiasi kontribusi para ahli dan institusi di Tiongkok dalam memajukan TCM melalui penelitian, inovasi klinis, dan kolaborasi internasional hingga pengobatan ini diakui sebagai warisan budaya dan ilmu pengetahuan dunia,” ujar Taruna.
Menurut Taruna, pengembangan TCM di Tiongkok menunjukkan bagaimana kebijakan negara mampu memadukan warisan budaya, ilmu pengetahuan modern, dan teknologi kesehatan. Pendekatan integratif seperti akupunktur, terapi herbal, hingga pengobatan tulang tradisional menjadi contoh nyata bahwa kearifan lokal bisa berkembang sejajar dengan sains modern.
Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar juga menjelaskan strategi Indonesia dalam mengembangkan obat tradisional nusantara, yang dikenal luas sebagai jamu. Sejak ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada Desember 2023, jamu mendapat perhatian lebih besar dalam upaya modernisasi dan standardisasi oleh BPOM.
“BPOM memiliki mandat memastikan setiap produk obat tradisional yang beredar aman, berkhasiat, dan bermutu, baik melalui pengawasan pra-pasar maupun pascapasar,” terang Taruna.
Visi BPOM, lanjutnya, adalah menjadikan jamu tidak hanya sebagai bagian dari budaya, tetapi juga sebagai produk ilmiah yang dapat bersaing di pasar global melalui transformasi menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Langkah ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru di sektor bioteknologi herbal, serta mendorong pelestarian biodiversitas Indonesia yang menjadi sumber utama bahan baku obat alami.
Pertemuan bilateral tersebut menghasilkan sejumlah kesepahaman awal terkait potensi kolaborasi konkret antara Indonesia dan Tiongkok. Kedua pihak sepakat menjajaki kerja sama dalam penelitian klinis, pengembangan teknologi akupunktur, integrative medicine, serta pelatihan tenaga profesional di bidang herbal dan farmasi tradisional.
Selain itu, BPOM juga terbuka untuk melakukan pertukaran pengetahuan tentang regulasi dan standardisasi produk obat tradisional, agar dapat saling memperkuat sistem pengawasan antara kedua negara.
“Kami yakin kolaborasi ini sangat relevan untuk mengembangkan pengobatan tradisional sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan warisan budaya dari kedua bangsa,” ungkap Taruna Ikrar.

Taruna menambahkan, kerja sama ini akan membuka peluang luas bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas penelitian dan inovasi, sekaligus mendorong integrasi jamu ke dalam sistem kesehatan nasional.
Ajakan kolaborasi tersebut disambut antusias oleh pihak akademisi Tiongkok. Liu Ying dari Beijing University of Chinese Medicine menyampaikan optimismenya terhadap kerja sama ini.
“Kolaborasi ini dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap manfaat obat tradisional. Lebih dari itu, pengembangan TCM dan jamu dapat menjadi jembatan antara budaya dan ilmu pengetahuan untuk mewujudkan kesehatan masyarakat global,” ujar Liu Ying.
Para pakar Tiongkok menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan obat tradisional karena kekayaan alam tropis dan keragaman hayati yang luar biasa. Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah dan inovatif, jamu Indonesia dapat menjadi kekuatan baru di pasar kesehatan dunia.
