Indonesia Membanggakan di Ajang Arsitektur Dunia

0
180598-indonesia-membanggakan-di-ajang-arsitektur-dunia

Paviliun Indonesia di Venice Architecture Biennale (VAB) 2018 baru saja diresmikan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 25 Mei lalu. Pemotongan tumpeng menandai peresmian Paviliun yang bertajuk “Sunyata : The Poetics of Emptiness”.

Tidak disangka, satu hari kemudian salah satu majalah arsitektur dan desain terkenal, metropolismag.com, menetapkan Paviliun Indonesia sebagai salah satu Paviliun terbaik di VAB 2018. Selain Indonesia ada sembilan negara lainnya yang masuk ke dalam 10 besar yaitu Irlandia, Brazil, Jepang, Bahrain, Belanda, Skotlandia, Argentina dan Yunani.

Dalam penjelasan metropolismag.com di websitenya tentang Paviliun Indonesia menuliskan bahwa Paviliun Indonesia memesona dalam kesederhanaannya. Mereka menilai potongan kertas menggantung dari bingkai membentuk lengkungan panjang di paviliun Indonesia di Arsenale ini memecah arsitektur menjadi dasar-dasarnya, mengatur ruang dan orang-orang di sekitarnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Bekraf Triawan Munaf mengaku bangga, “semoga potensi, kemampuan, bakat, dan kreativitas para arsitek Indonesia bisa lebih dikenal lagi dan berdiri sejajar dengan koleganya dari berbagai negara lainnya,” ujar Triawan.

Karya itu berbahan dasar kertas yang dibuat oleh para kurator Paviliun Indonesia yang terdiri dari Ary Indrajanto, David Hutama Setiadi, Adwitya Dimas Satria, Ardy Hartono Kurnaiwan, Jonathan Aditya Gahari dan Johanes Aditya Gahari. Karya yang mereka tampilkan merupakan terjemahan dari tema utama VAB 2018 yaitu Free Space.

Dalam kesempatan ini Triawan juga mengaku bangga atas “special mention” yang diterima oleh Isandra Matin Ahmad atau lebih dikenal dengan nama Andra Matin atau Aang, adalah satu-satunya arsitektur Indonesia yang diundang secara khusus oleh pihak La Biennale untuk melakukan pameran secara individu selama VAB 2018 berlangsung.

Sementara itu, Andra Matin tidak menyangka akan menerima penghargaan atas karyanya yang berjudul “Elevation”, “saya tidak menyangka mendapat penghargaan ini, diundang saja sudah senang sekali dan diberi kesempatan hadir disini,” katanya.

Ide “Elevation” sendiri berasal dari rumah tinggal beberapa suku di Indonesia, “agar pengunjung bisa merasakan bagaimana living architecture Indonesia,” ujar Andra yang akrab disapa Aang itu. Melalui karyanya Andra mengenalkan bangunan rumah suku Dani, Jawa, Bali, Waerebo, Nias, Toraja dan Koroway. (Sumber Bekraf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *