EconomicHeadline News

Investor Milenial Penggerak Bursa

Investor saham dari kalangan Generasi Z dan Generasi Milenial akan menjadi penggerak bursa tahun ini. Fenomena lonjakan jumlah investor ritel dari kalangan Generasi Z dan Milenial tahun lalu akan berlanjut pada 2021. Kondisi itu bakal membawa angin segar bagi pasar saham domestik di tengah ketidakpastian pasar finansial global akibat pandemi Covid-19.

Meski demikian, Generasi Z yang lahir pada tahun 1997 hingga tahun 2012 dan Generasi Milenial yang lahir pada tahun 1981 hingga tahun 1996 harus diberi pemahaman yang benar tentang berinvestasi di pasar saham. Jangan sampai mereka sekadar mengikuti tren semata. Jika Generasi Z dan Milenial dibekali ilmu yang cukup, mereka bisa menjadi penyeimbang bagi dominasi para pemodal besar (hedge funds), sehingga pasar saham Indonesia akan lebih berkembang, kuat, sehat, adil, wajar dan teratur.

Bila Generasi Z dan Milenial punya dasar pengetahuan yang cukup tentang pasar saham, pengaruh yang datang dari luar akan berdampak positif terhadap pasar modal domestik, termasuk jika seandainya fenomena perlawanan investor ritel terhadap para hedge fund di Wall Street (fenomena GameStop) menjalar ke pasar saham Indonesia.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah single investor identification (SID) pada akhir 2020 bertambah 1,39 juta di pasar modal, melonjak 61% dibandingkan akhir 2019. Alhasil, jumlah single investor identification (SID) meningkat dari 2,4 juta orang menjadi 3,88 juta orang. Bahkan per 4 Februari 2021, jumlah single investor identification (SID) di pasar modal sudah melampaui 4,1 juta orang. Adapun single investor identification (SID) di pasar saham bertambah 590.658 orang, meningkat 134% menjadi 1,7 juta orang dari 1,1 juta orang.

Penambahan single investor identification (SID) domestik ritel di pasar modal dan saham memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Begitu pula rata-rata transaksi harian investor domestik ritel. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, jumlah investor baru berusia 18 tahun hingga 25 tahun bertambah 280.569 orang atau 48,7% dari total investor baru. Kenaikan itu diikuti investor di bawah usia 30 tahun dan 40 tahun, namun tidak sepesat jumlah investor Generasi Milenial.

KEBANGKITAN INVESTOR
Dari segi jumlah, Generasi Z dan Milenial sudah menjadi pemain dominan di pasar modal Indonesia. Dari tahun ke tahun jumlah mereka terus meningkat. Bahkan, di tengah pembatasan mobilitas masyarakat akibat Covid-19, Generasi Z menjadi pendorong kebangkitan investor ritel domestik di pasar saham.

Persentase aktivitas transaksi harian investor ritel kita sudah hampir 50%. Jadi, betul sekarang kekuatan terbesar di market kita tidak hanya pemilik dana besar, tapi juga investor ritel yang sudah hampir 50%-nya dan trennya terus naik. Bisa jadi tahun ini bakal di atas 50%-nya.

Pasar modal Indonesia memberi kesempatan besar kepada Generasi Z dan Milenial untuk tampil. Tetapi otoritas mengharapkan investor tampil dengan pengetahuan yang baik, sekaligus bisa menjadi penyeimbang bagi pemain-pemain lama.

Seperti yang terjadi di Wall Street, saat para hedge fund merajalela, begitu ada komunitas ritel yang tangguh, para investor ritel itulah yang menjadi penyeimbang, sehingga pasar bisa menjadi lebih teratur dan fair.

Bursa Efek Indonesia (BEI) berharap jumlah investor ritel di pasar modal terus meningkat. Namun, ada tantangan yang harus dibenahi, khususnya di bidang edukasi. Menyadari itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengadakan sosialisasi dan edukasi pasar modal ke berbagai daerah, termasuk pendirian pojok bursa di perguruan tinggi.

Di tengah pandemi, Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengadakan kelas pasar modal secara online. Para investor mendapatkan edukasi tentang investasi pasar modal melalui video, audio, bahkan tertulis.Bursa Efek Indonesia (BEI) berkomitmen untuk terus mengedukasi para investor dan masyarakat. Hal itu juga sejalan dengan komitmen seluruh pemangku kepentingan di pasar modal, khususnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organization (SRO) serta para anggota bursa dan manajer investasi (MI).

 

Para investor, khususnya investor Generasi Z dan Milenial, harus punya pemahaman yang cukup dalam berinvestasi di pasar modal. Sebab pasar modal, terutama pasar saham, juga memiliki sejumlah risiko. Jika tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang risiko-risiko tersebut, investor bisa jera setelah berinvestasi di pasar modal.

Pada prinsipnya do on your research buat para investor muda kita. It’s your money, its your decision. Ini uang Anda. Tanpa paksaan siapa pun, Anda memiliki hak penuh untuk memutuskan apakah membeli, meng-hold, atau menjual saham tertentu.

Karena itu, para investor harus punya pengetahuan yang cukup agar keputusan-keputusan investasinya tidak salah. Tidak pas kalau akhirnya menyalahkan orang lain. Kalau sudah telanjur akan susah.

Saham dianggap sebagai instrumen investasi yang bisa menghasilkan keuntungan tinggi. Keuntungan dari saham sering membuat orang tergiur. Namun, sama seperti investasi pada umumnya, potensi keuntungan yang tinggi dari investasi saham juga dibarengi risiko yang tinggi. Itu sebabnya, investasi saham sering disebut sebagai instrumen yang high risk, high return.

Berinvestasi di pasar modal bukan berarti langsung terjun ke saham. Para investor harus menyesuaikan instrumen atau produk investasi di pasar modal dengan karakteristik atau profil dirinya. Selain itu, ada tahapan tertentu yang harus dilalui, misalnya memahami aspek fundamental dan teknikal. Kesimpulannya adalah tidak langsung pandai.

Contohnya saja, investor yang memiliki karakteristik atau profil pengambil risiko (risk taker) bisa berinvestasi di saham. Sedangkan yang berkarakter konservatif sebaikya berinvestasi di reksa dana atau surat berharga negara (SBN).

KOMUNITAS RITEL
Di sisi lain, fenomena GameStop di bursa Wall Street, AS. Wall Street terguncang saat para investor ritel yang tergabung dalam grup online WallStreetBeat di Reddit (situs media sosial hiburan) berhasil mendongkrak harga saham GameStop yang sedang ditekan para hedge fund lewat transaksi short selling. Berkat perlawanan investor ritel, saham GameStop, emiten ritel video game, sepanjang Januari melonjak 1.625%.

Bisa saja fenomena itu juga terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Apalagi fenomena GameStop sudah merambah bursa saham Malaysia. Namun, jika terjadi, harusnya hal itu dilandasi pemahaman yang benar terhadap prospek suatu saham.

Fenomena Reddit yang menggerakkan harga saham ke satu arah bukan tidak mungkin akan terjadi. Kami berharap jika terjadi, itu hanya dengan didasari pemahaman yang baik. Kemudian aspek fundamental yang bergerak betul-betul konfirmasi atas apresiasi harga atau penurunan harga yang tercermin sebagai dampak langsung dari kinerja dan prospek emiten dimaksud.

EDUKASI INVESTOR
Perusahaan transaksi saham, Emtrade, mengaku prihatin terhadap aksi pompom atau ‘goreng-menggoreng’ saham yang marak terjadi di bursa. Fenomena GameStop juga diduga sebagai buntut dari aksi pompom di lantai bursa.

Emtrade tidak menampik bahwa aksi pompom pun terjadi di bursa saham domestik. Emtrade pun terus memberikan edukasi kepada para investor agar mau belajar secara fundamental dan teknikal jika ingin menjadi investor saham.

Pesan Emtrade kepada para investor hanya satu, belajarlah. Kalau ingin menjadi dokter tentunya harus belajar. Mau menjadi pebisnis, juga perlu belajar. Jadi, jangan menganggap untung terus setiap hari. Semua ada prosesnya. Kita harus mengelola expectation between profit and loss.

Dia mencontohkan, jika ada saham yang sekiranya ‘dikerek’ oleh pihak-pihak tertentu, lalu diikuti, kemudian harganya turun, berarti salah investor sendiri. Salah sendiri kenapa tidak belajar, kenapa mudah percaya terhadap omongan orang.

Emtrade mengakui, tidak semua Generasi Z dan Milenial punya pemahaman yang baik tentang berinvestasi saham. Mereka memiliki dua karakter. Pertama adalah para anak muda yang haus ilmu, haus belajar dan memiliki keingintahuan yang tinggi. Mereka akan tanya sampai detail tentang saham dan produk-produk pasar modal lainnya. Mereka adalah anak-anak muda yang haus ilmu. Belajarnya sangat cepat.

Peran anak-anak muda tersebut, sangat positif terhadap perkembangan pasar modal domestik. Dengan memiliki pemahaman yang cukup, mereka akan turut berkontribusi terhadap perkembangan pasar modal yang sehat, kuat, dan berkelanjutan. Sebab, mereka akan ikut mendorong terciptanya harga saham yang transparan, wajar, dan adil, sesuai fundamental emiten.

UANG SPP DAN PINJOL
Tetapi, ada pula Generasi Z dan Milenial yang punya sisi karakter lain. Mereka ingin investasi di pasar saham dengan menambil jalan pintas. Misalnya menggunakan uang sekolah atau uang kuliah untuk investasi saham secara harian (trading).

Bahkan, ada yang sampai meminjam ke fintech atau pinjol (pinjaman online) untuk membeli saham secara trading. Begitu harga sahamnya jatuh atau nyangkut, mereka menyalahkan sekuritas, emiten atau para influencer.

Generasi Z dan Milenial yang punya karekter ‘jalan pintas’ harus terus-menerus diberi edukasi dan sosialisasi oleh segenap pemangku kepentingan (stakeholders) pasar modal. Misalnya uang untuk berinvestasi saham harus benar-benar uang nganggur (idle), di luar kebutuhan primer. Berinvestasi di pasar modal juga harus dibekali pengetahuan teknikal dan fundamental.

Generasi Z dan Milenial harus paham bahwa berivestasi di pasar saham harus punya bekal ilmu dan pemahaman yang cukup agar tidak terjebak atau termakan oleh ulah para pompomer yang kini marak.

Emtrade selalu tekankan kepada mereka bahwa kalau kita rugi di pasar saham bukan salah yang pompom atau pihak-pihak lainnya, tetapi salah kita. Sebab pada ahirnya, yang mengambil keputusan jual atau beli adalah kita sendiri. Kalau kita belajar, kita tidak akan terkena pompom.

8 PRINSIP INVESTASI
Penambahan investor di pasar modal diharapkan sejalan dengan pembekalan informasi yang cukup mengenai pasar modal. Soalnya, kini marak aksi pump and dump (goreng saham). Banyak di antara investor pemula ini yang yang ingin cepat kaya. Mereka tidak dibekali pemahaman yang cukup, langsung masuk ke pasar modal. Apalagi di medsos banyak pompomer yang memengaruhi mereka, sehingga mereka tanpa sadar ikut terpengaruh.

Perihal komunitas saham ritel, ada sisi positifnya karena komunitas tersebut bisa bersatu melawan bandar yang kerap menimbulkan distorsi di pasar. Sebetulnya investor pemula tidak perlu panik dengan menjual harga saham terlalu murah, sebab ada bandar yang sengaja menjatuhkan harga karena ingin menguasai saham tersebut.

Atas maraknya pompom saham, ada delapan prinsip dasar berinvestasi agar investor tidak terjebak bandar dan pihak-pihak yang ingin mengeduk keuntungan saat harga saham turun atau naik.

Pertama, tekankan bahwa kita berinvestasi saham, bukan main saham. Jika ‘main’ berarti tidak perlu persiapan matang. Sebelum berinvestasi saham, belajarlah terlebih dahulu.

Kedua, investasi saham adalah investasi jangka panjang. Ketiga, lakukan perencanaan keuangan terlebih dahulu. Dana yang diinvestasikan ke saham harus benar-benar dana ‘dingin’ atau dana nganggur (idle), bukan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi dana pinjaman.

Keempat, kenali emitennya, dari mulai bisnisnya, produknya, hingga manajemennya. Jika tidak kenal emitennya, jangan beli sahamnya, karena sama saja dengan ‘membeli kucing dalam karung.

Kelima, lebih baik salah waktu atau salah harga, daripada salah saham. Tidak masalah membeli saham yang harganya agak tinggi, yang penting fundamentalnya bagus. Sebab dalam jangka panjang, harga saham tersebut akan naik sepanjang fundamentalnya kuat.

Keenam, jangan ‘menangkap pisau jatuh’. Jika saham itu berkali-kali terkena auto rejection bawah (ARB), jangan dibeli dulu. Tindakan seperti itu ibarat menangkap pisau jatuh, tangan pasti terluka. Tunggu dulu sampai harganya memantul (rebound).

Ketujuh, jangan ‘mengejar layang-layang putus’. “Jika membeli saham yang harganya sedang naik terus, jangan-jangan Anda masuk perangkap bandar. Begitu dapat, ‘layang-layang’ itu jatuh.

Terakhir, kedelapan, fokus saja pada target, jangan terpengaruh pompom. Rekomendasi dari analis saham pun hanya sebagai referensi saja.

GENERASI KE GENERASI
Setiap generasi memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini umumnya dipengaruhi oleh lingkungan yang dihadapi semasa hidup mereka. Tak ayal, setiap generasi akhirnya memiliki perbedaan tabiat yang turut menghadirkan pola adaptasi dan pendekatan yang juga berbeda.

Dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, setidaknya ada 6 kelompok generasi manusia berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall. Berikut adalah berbagai kelompok generasi mulai dari tradisionalis sampai generasi Alpha. termasuk yang manakah Anda ?

1. Tradisionalis (1922-1945)
Mereka yang tergolong generasi tradisionalis, terlahir pada zaman The Great Depression. Akibat krisis ekonomi global tadi, nenek moyang kita pun harus merasakan hidup dengan kondisi serba kekurangan. Selain itu, generasi tradisionalis juga merupakan saksi dari berbagai kejadian terbesar di muka bumi. Misalnya ketika awal terjadi Perang Dunia II.

Sebagian besar veteran ini berjiwa patriotisme tinggi, lantaran terbiasa dengan masa penjajahan dan perang. Berbekal pengalaman tersebut, mereka punya kemampuan memimpin yang tak diragukan lagi di dunia kerja. Ada sekitar 50 juta Silent Generation yang masih hidup sampai sekarang, dengan rata-rata usia yang sudah mencapai 80 tahun.

2. Baby Boomers (1946-1964)
Lalu yang kedua ada generasi baby boomers. Kebanyakan dari orangtua kita mungkin termasuk dalam kelompok ini. Di rentang waktu tersebut, orang-orang sudah mengalami pertumbuhan kelahiran secara pesat setelah berangsur pulih dari kesulitan-kesulitan masa perang.

Para baby boomers hidupnya cenderung berorientasi pada pencapaian dalam karier secara konsisten. Hal ini dilakukan tak lain untuk kesejahteraan anak cucu mereka kelak. Kendati dulunya jauh dari era digital, generasi baby boomer rata-rata lebih mengandalkan sesuatu dengan cara konvensional. Namun tak sedikit juga dari mereka yang kini mulai akrab mengunakan gadget.

Generasi Baby Boomers lahir pada masa-masa mempertahankan kemerdekaan dan berbagai perang yang telah berakhir sehingga perlu menata kehidupan bernegara. Alih-alih bergantung pada orang tua, generasi ini cenderung hidup mandiri. Mereka memegang teguh adat istiadat sehingga cenderung kolot, namun sangat matang dalam pengambilan keputusan karena pengalaman kehidupan yang pernah dilalui.

Generasi ini cenderung tidak suka menerima kritik, sedangkan uang dan pengakuan dari lingkungan adalah target mereka. Umumnya, gengsi menjadi urutan pertama dalam kehidupan sosial. Meskipun begitu mereka mencari uang untuk keluarga, yaitu bekerja keras untuk mensejahterahkan anak-anak. loyalitas dan dedikasi dalam bekerja menjadi poin positif bagi Baby Boomers.

Generasi Baby Boomers sangat peduli terhadap keturunannya, mereka tidak ingin anak-anaknya merasakan kesusahan yang dirasakannya saat masa-masa kemerdekaan. Oleh karena itu, mereka cenderung menghabiskan penghasilannya untuk membeli tanah, rumah, kendaraan dan sisanya ditabung sebagai warisan untuk anaknya nanti.

Beruntunglah, jika orang tua Anda termasuk generasi Baby Boomers yang sukses dan berpikiran ke depan sehingga sudah dipersiapkan oleh mereka rencana untuk warisan. Ingatlah, untuk selalu menggunakan dengan bijak harta warisan dari orang tua, supaya anak cucu Anda nantinya juga bisa menikmatinya.

3. Generasi X (1965-1980)
Kata X pada generasi ini dipopulerkan novel yang berjudul Generation X: Tales for an Accelerated Culture yang ditulis Douglas Coupland. Melihat pola asuh kedua orang tuanya yang banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, generasi X pun mengikuti jejak tersebut. Akan tetapi, kehidupan antara pekerjaan, pribadi, dan keluarga mereka jauh lebih seimbang. Generasi ini juga sudah mulai mengenal yang namanya komputer dan video game dengan versi sederhana.

Di Indonesia, generasi X dibesarkan dalam situasi serta event politis yang cukup panas dan bergejolak di era pemerintahan Orde Baru. Secara internasional, mereka juga menyaksikan cukup banyak konflik atau kejadian politik global seperti Perang Vietnam, jatuhnya Tembok Berlin, serta berakhirnya Perang Dingin.

Berkat warisan dan didikan generasi sebelumnya, generasi X mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pemikiran mereka sedikit lebih maju. Mereka cenderung suka akan risiko dengan pengambilan keputusan yang matang.

Dibanding Generasi sebelumnya, Generasi X sangat terbuka dengan kritik dan saran demi terwujudnya efisiensi dalam bekerja. Kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga cenderung seimbang karena pemikiran bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja.

Generasi X masih mengadopsi karakter dari orang tuanya yang mencari uang demi keluarga, bedanya mereka mulai akrab dengan investasi. Berkat didikan generasi Baby Boomers, generasi ini memiliki ketekunan dalam bekerja, mereka ingin lebih sukses dari sehingga sebagian dari mereka juga mulai memiliki jiwa pengusaha. Apalagi, generasi ini mulai mengenal yang namanya komputer sehingga mulai berpikir secara inovatif untuk mempermudah kehidupan manusia.

Orang yang terlahir di generasi X, mulai sadar akan pentingnya dana pensiun untuk masa depan sehingga mereka cenderung menggunakan uang yang dimiliki untuk modal usaha, biaya anak, membeli kendaraan dan membeli properti.

4. Generasi Y = Milenial (1981-1994)
Work life balance, itulah motto sebagian besar generasi milenial. Tidak melulu mengejar harta, tapi milenial lebih mengejar solidaritas, kebahagiaan bersama, dan eksistensi diri agar dihargai secara sosial. Selain mengalami transisi dari segala hal yang bersifat analog ke digital, milenial atau generasi Y juga ini tumbuh seiring dengan semakin matangnya nilai-nilai persamaan dan hak asasi manusia, sehingga mempengaruhi pembawaan mereka yang bisa dinilai lebih demokratis.

Meski hidupnya tampak selalu bersenang-senang, justru ini generasi yang digadang-gadang tengah memberi banyak pengaruh baik untuk masa depan bangsa. Para milenial lebih jeli dalam melihat suatu peluang, terutama bisnis dengan konsep yang lebih inovatif. Contoh yang paling nyata adalah keberhasilan startup unicorn milik salah seorang milenial Indonesia, yakni Bukalapak.

Generasi Y atau yang lebih akrab dengan sebutan generasi millenial adalah generasi yang lahir di saat teknologi sedang berkembang pesat. Kehadiran komputer, video games, gadget, dan smartphone yang tersambung dengan kecanggihan internet membuat generasi ini mudah mendapatkan informasi secara cepat dan sebagainya.

Dengan pendidikan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya, generasi ini bisa dikatakan penuh ide-ide visioner, inovatif untuk melahirkan pengetahuan dan penguasaan IPTEK. Mereka cenderung ambisius dalam bekerja. Di samping kerja kantoran, sebagian juga membuka bisnis sendiri untuk menuju kesuksesan. Mereka memiliki jiwa entrepreneur yang tinggi.
Keseimbangan gaya hidup dan pekerjaan menjadi hal yang paling penting bagi mereka Generasi Y. Karenanya, mereka cenderung mencari pekerjaan yang dapat menunjang gaya hidup. Jika tidak, mereka cenderung berhenti dari pekerjaan tersebut.

Karena terlahir di era globalisasi, generasi milenial cenderung bersifat konsumtif. Mereka banyak menghabiskan uang yang dimiliki untuk membeli gadget keluaran terbaru, membeli kendaraan, jalan-jalan dan kuliner. Namun, mereka mulai sadar akan pentingnya properti untuk keluarga, oleh karena itu banyak juga dari mereka yang mengambil KPR atau KTA untuk rumah maupun apartemen.

5. Generasi Z (1995-2010)
Dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang pesat di generasi Z, mereka seolah tak bisa lepas dari gadget dan aktivitas media sosial. 44 persen dari Gen Z memeriksa media sosial setidaknya setiap jam sekali. Alhasil, mereka lebih cepat memperoleh informasi dari pada generasi-generasi sebelumnya. Meski suka dengan hal yang bersifat instan, generasi ini tetap memilik kelebihan tak jauh berbeda hampir seperti ‘kakak-kakaknya’ terdahulu.

Teknologi bagi mereka dapat melakukan apa saja termasuk belajar dan bekerja, bukan sekadar bersenang-senang. Maka tak sedikit dari Gen Z yang kini menjadikan media sosial sebagai lahan mereka untuk mencari penghasilan. Seperti membuka online shop atau menjadi influencer muda.

Generasi Z sudah sangat mengenal teknologi. Sejak kecil, mereka lebih gemar bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di era sebelumnya. Jadi, jangan heran kalau generasi Z cenderung menyukai sesuatu serba yang instant.

Begitu akrabnya dengan internet, generasi Z suka mencari popularitas dengan aktif di berbagai sosial media dengan style masing-masing. Jadi jangan heran mereka cenderung menghabiskan uangnya untuk keperluan fashion, makan di restoran terkenal dan jalan-jalan. Selain media sosial, Generasi ini sangat gemar melakukan transaksi belanja secara online karena dinilai praktis dan bisa dilakukan di mana saja.

Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, membuat generasi ini juga mudah untuk mendapatkan uang secara instan. Bukan hanya dari pemberian orang tua tapi hasil berselancar internet dengan media social dan kreativitas mereka masing-masing. Tak heran banyak anak yang belum kerja formal sudah memiliki penghasilan sendiri.

6. Alpha (>2010)
Sekitar 2,5 juta generasi alpha lahir di setiap minggu. Fakta ini membuat prediksi jumlahnya akan sangat membengkak dengan jumlah sekitar 2 miliar pada 2025.

Seperti dua generasi sebelumnya, mereka yang lahir setelah tahun 2010 sudah familiar dengan teknologi bahkan sejak usia yang sangat belia. Generasi alpha lebih tertarik bermain gadget dibandingkan permainan tradisional anak di era sebelumnya. Watak mereka dalam bekerja dan bagaimana kecenderungannya menghabiskan uang, sementara belum dapat diprediksi. Mengingat untuk saat ini, umur paling tua dari generasi alpha adalah Sembilan tahun

Generasi ini terlahir dengan teknologi yang semakin berkembang pesat. Di usia mereka yang sangat dini, mereka sudah mengenal dan menggunakan gadget, smartphone dan kecanggihan teknologi yang ada. Terlahir dari keluarga dengan masa Generasi Y yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi maka pola pikir mereka juga terbuka dengan perkembangan teknologi.

Saat ini, umur paling tua dari mereka adalah 7 tahun. Jadi, belum bisa diprediksi watak mereka dalam bekerja dan bagaimana kecenderungannya menghabiskan uang. Meskipun begitu, tidak sedikit dari mereka sudah bisa menjadi sumber penghasilan bagi orang tuanya berkat kemajuan media sosial. Dulu hanya anak artis dan publik figur saja yang bisa terkenal, kini anak kecil siapa saja yang lucu dan menarik bisa menjadi sorotan dan bintang.

Belajar dari generasi ke generasi dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang yang bijak dan dewasa dalam mengatur keuangan yang baik adalah mendahulukan kebutuhan dibanding keinginan. Untuk menatap masa depan yang lebih baik, Anda juga perlu menabung dan berinvestasi.

Data dirangkum dan diolah dari berbagai sumber oleh :
Dr. Andy Kurniawan Bong, SE, MBA.
Dosen Senior.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close