Jejak Pangeran Diponegoro di Makassar, Makamnya Selalu Ramai Wisatawan
Kota Makassar tak hanya identik dengan Pantai Losari atau kuliner khasnya Coto Makassar. Kota Anging Mamiri juga punya sejumlah wisata sejarah dan spiritual yang tersohor hingga luar domestik.
Di kota ini dimakamkan tubuh pahlawan nasional Pangeran Diponegoro bersama istri, anak dan cucunya.
Lokasi kompleks makam Pangeran Diponegoro dan keluarganya ini terletak di pusat kota Makassar, di dekat pusat perbelanjaan Pasar Sentral Makassar. Nama Pangeran Diponegoro diabadikan menjadi nama jalan di depan makam sejak tahun 1970-an, yang sebelumnya bernama Jalan Maccini Ayo, di daerah Kampung Melayu, Makassar.
Di dalamnya terdapat sekitar 100 kuburan yang terdiri dari kuburan Pangeran Diponegoro dan sang istri R.A Ratu Ratna Ningsih, anak-anaknya cucu-cucunya beserta beberapa pengikut dan kerabatnya. Adapula bangunan musolah kecil dan sebuah pendopo yang memuat tempat duduk dan beberapa lukisan Pangeran Diponegoro.
Juru kunci makam, Raden Hamsyah Diponegoro menyatakan kompleks makam ini ramai dikunjungi oleh mayoritas turis domestik asal pulau Jawa. RM Saleh yang merupakan cicit Pangeran Diponegoro ini menjaga makam eyang kakung-nya setiap hari, dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Makassar adalah tempat pengasingan terakhir sang putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwono III ini. Usai melakukan perang gerilya selama sekitar lima tahun terhadap Belanda dan sekaligus pemerintahan Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda.
Belanda kemudian membuangnya ke Manado. Terakhir ia hidup dalam wilayah perasingan di Makassar selama 21 tahun bersama salah satu istri, RA.Ratu Ratna Ningsih dan beberapa anak cucunya. Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta 11 November 1785 dan meninggal di Benteng Rotterdam Sulsel pada 8 Januari 1885.
Dahulu makam Pangeran Diponegoro belum sebagus ini. Hanya berupa batu nisan biasa. Pemerintah kemudian memugar dan membangun kompleks pemakaman pada tahun 1970-an usai beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Hamsyah mengatakan, Pangeran Diponegoro bukan hanya pahlawan bagi orang Jawa, namun juga bagi orang Bugis dan Makassar dan seluruh suku di Indonesia.
