DestinationHeadline NewsTourismTravel

Jika Berlarut-larut, Krisis Diplomatik di Timur Tengah Dapat Pukul Pariwisata Tanah Air

Krisis diplomatik yang melibatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah hingga saat ini masih terjadi dan belum ada kejelasan kapan krisis tersebut akan berakhir. Deputi Pengembangan Pariwisata Luar Negeri Kementerian Pariwisata Prof I Gede Pitana mengaku untuk  saat ini krisis diplomatik di Timur Tengah  belum ada pengaruhnya terhadap  sektor pariwisata Indonesia. Berdasarkan pantauannya kedatangan pesawat di 19 pintu masuk di Tanah Air dari luar negeri masih berjalan normal. Jumlah  wisatawan mancanegara (wisman) yang datang  di 19 pintu masuk tersebut belum terlihat adanya  penurunan.

Meski demikian Pitana khawatir jika krisis diplomatik ini  berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan dapat memberikan dampak negatif untuk pariwisata Indonesia.

“Kami prediksi karena Doha adalah ‘hub’ (penghubung) Timur Tengah maka pasti ada pengaruh terutama jika konflik ini berlanjut karena kalau berlanjut ada kekhawatiran bahwa airline dari Eropa juga akan takut menggunakan Timur Tengah sebagai ‘hub’,” kata Deputi Pengembangan Pariwisata Luar Negeri Kementerian Pariwisata Prof I Gede Pitana di Denpasar, Jumat, 9 Juni 2017.

Pintana tidak mengelak ada maskapi dari Timur Tengah yang terlibat dalam krisi diplomatik ini yang menjadi favorit para wisman. Melihat kondisi itu, Piana berharap agar maskapai penerbangan tidak semata menggunakan satu ‘hub’ tetapi juga memanfaatkan jalur lain mencermati kondisi politik Timur Tengah. Kalangan pariwisata, kata Pitana, juga diimbau tidak berpatok kepada satu pasar wisatawan agar dampak krisis diplomatik enam negara di kawasan Arab yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar tidak berdampak lebih besar.

Pitana mempredikasi  hal ini dikarenakan wisatawan dari Eropa terbang langsung ke destinasi di Indonesia atau jumlah wisatawan dari Timur Tengah mengurangi wisata ke luar negeri karena saat ini dalam suasana Bulan Puasa. “Mungkin orang tidak melalui itu (Doha) lagi tapi bisa jadi langsung dari Eropa. Kedua, sekarang ini bulan Ramadhan sehingga wisatawan Timur Tengah sedikit melakukan perjalanan jadi jumlah ‘outbond’ (bepergian ke luar negeri) Timur Tengah saat Ramadhan turun,” ujarnya.

Hari Senin, 5 Juni 2017 lalu, enam  negara Arab yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Mesir, Yaman dan Libya mengumumkan secara resmi pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar. Selain enam negara arab menyusul Maladewa yang ikut memboikot Qatar. Alasan negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi ini memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dikarenakan negara penghasil minyak itu mendukung aksi radikalisme  dengan mengucurkan sejumlah dana. Mereka beranggapan sikap Qatar dapat  membiarkan kelompok radikalisme mengganggu keamanan kawasan Teluk.

Salah satu dampak dari pemutusan hubungan diplomatik itu tertutupnya akses baik darat, laut, dan udara yang menghubungkan Qatar dengan tujuh negara itu. Padahal, baik Qatar (Qatar Airways) dan beberapa negara tersebut seperti Bahrain (Emirates Airlines) dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab (Etihad Airlines) untuk jalur transportasi udara merupakan kota-kota penghubung maskapai penerbangan raksasa yang memiliki jangkauan internasional yang luas termasuk ke Indonesia.

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button