Kawal Libur Nataru, BMKG dan Kemenko Infrawil Perkuat Sinergi Mitigasi Cuaca Ekstrem

0
IMG-20251223-WA0008

Dalam rangka memastikan keselamatan dan kelancaran mobilitas masyarakat selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat sinergi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infrawil). Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem serta koordinasi lintas sektor guna meminimalkan risiko gangguan perjalanan darat, laut, dan udara.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa periode Nataru tahun ini diwarnai oleh sejumlah fenomena atmosfer yang aktif secara bersamaan. Di antaranya Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), berbagai gelombang atmosfer, serta pengaruh La Nina Lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) Negatif. Kombinasi fenomena tersebut berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan, memperkuat angin permukaan, dan memicu gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia.

“BMKG memprakirakan adanya potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, mencapai 300 sampai 500 milimeter per bulan, khususnya di wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan, Papua Selatan, serta Kalimantan yang saat ini berada pada puncak musim hujan,” ujar Faisal dalam Rapat Koordinasi bersama Kemenko Infrawil yang digelar di Gedung Command Center Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG, Senin (22/12/2025).

Selain itu, BMKG juga terus memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 93S di Samudra Hindia. Meski saat ini pergerakannya menjauhi wilayah Indonesia, bibit siklon tersebut berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu 24 jam dan dapat memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan gelombang laut dan pola angin di sejumlah perairan Indonesia.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menegaskan bahwa BMKG berkomitmen penuh mengawal keselamatan perjalanan masyarakat selama periode Nataru melalui penyediaan informasi cuaca yang komprehensif dan terintegrasi. BMKG menyiapkan tiga layanan utama yang mendukung sektor transportasi darat, laut, dan udara.

Untuk transportasi darat, BMKG menghadirkan layanan Digital Weather for Traffic (DWT). Sementara untuk sektor maritim, BMKG mengoperasikan Indonesia Weather Information for Shipping (INAWIS) yang telah terintegrasi dengan Kementerian Perhubungan. Adapun untuk penerbangan, BMKG mengandalkan System of Interactive Aviation Meteorology (INA-SIAM).

“INAWIS dilengkapi dengan sistem safety score. Jika skor keselamatan berada di bawah angka 50, maka operator pelayaran harus meningkatkan kewaspadaan karena kondisi gelombang dan angin berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran,” jelas Guswanto.

Sementara itu, layanan INA-SIAM menyediakan prakiraan cuaca penerbangan (flight forecast) yang memuat peringatan dini terkait potensi bahaya seperti hujan lebat disertai badai petir, abu vulkanik, hingga siklon tropis. Informasi ini memungkinkan pilot melakukan manuver penghindaran atau memilih bandara alternatif demi menjamin keselamatan penerbangan.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko bencana hidrometeorologi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa OMC saat ini dilaksanakan di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Hasil sementara menunjukkan dampak positif dari pelaksanaan OMC. Di Jawa Timur, sejak 5 Desember 2025 telah dilakukan 32 sorti penerbangan yang berhasil menurunkan intensitas curah hujan hingga 26,01 persen. Sementara di Lampung, sejak 15 Desember telah dilakukan 14 sorti dengan penurunan curah hujan mencapai 33,06 persen.

“Operasi Modifikasi Cuaca ini menjadi bagian dari langkah mitigasi dan antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya,” ujar Seto.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh menjamin keamanan, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat selama masa libur Nataru. Ia menekankan pentingnya integrasi data cuaca BMKG secara real-time ke seluruh sektor transportasi, serta kesiapsiagaan alat berat di titik-titik rawan bencana untuk menjaga kelancaran arus mobilitas.

AHY juga menyoroti urgensi sistem peringatan dini bagi sektor transportasi laut dan udara, khususnya terkait potensi gelombang tinggi dan angin kencang dengan kecepatan di atas 20 knot. Hal ini dinilai krusial mengingat tingginya pergerakan penumpang menuju wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur.

“Informasi cuaca dari BMKG harus tersampaikan secara cepat, akurat, dan mudah dipahami. Keselamatan adalah prioritas utama, terlebih sektor maritim yang diperkirakan akan mengalami lonjakan pergerakan penumpang hingga hampir 40 persen ke wilayah Tengah dan Timur Indonesia,” ujar AHY.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi BMKG dalam menyediakan data dan informasi cuaca yang akurat serta dapat diandalkan. Menurutnya, langkah penguatan sinergi lintas sektor ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sesuai arahan Presiden, kita semua diminta untuk memitigasi, mengantisipasi, dan mewaspadai potensi cuaca ekstrem di akhir tahun ini agar perjalanan masyarakat selama Nataru berlangsung aman, nyaman, dan menyenangkan,” pungkas AHY.

Melalui koordinasi lintas sektoral yang semakin solid, BMKG berharap potensi gangguan terhadap transportasi dan logistik selama libur Nataru dapat ditekan seminimal mungkin, sehingga masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan aman dan lancar di seluruh wilayah Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *