Kecintaannya Pada Dunia Pageant Mendorong Maria Sefani Ukir Prestasi di MCI 2021
Kecintaannya terhadap dunia beauty pageant mendorong Maria Sefani untuk ikut ajang kontes kecantikan. Penuh perjuangan harus dilalui wanita cantik kelahiran Kepulauan Babel, 8 September 1995 ini, untuk meraih prestasi di kontes yang dijalaninya tersebut.
Belum berhasil mendapat gelar, tidak dijadikan Maria untuk patah semangat, justru kondisi tersebut membuat Maria semakin termotivasi untuk terus belajar dari kekalahan hingga dapat membanggakan nama keluarga maupun daerah yang diwakilinya.
Kegigihan dan semangat ditanamkan Maria dibuktikannya saat mengikuti pemilihan Miss Chinese Indonesia yang diselenggarakan Yayasan EL JOHN Indonesia pada Agustus 2021 lalu. Di kontes paling bergengsi di Indonesia itu, sarjana ilmu komunikasi itu sukses menyabet gelar Miss Chinese Indonesia Medical 2021.
“Yang menjadi latar belakang saya untuk joint di pemilihan Miss Chinese Indonesia 2021 itu yang pertama adalah kecintaan saya terhadap bidang beauty pageant karena dari SMA, saya di Bangka, saya ikut pemilihan duta wisata lalu naik ke tingkat Provinsi pada saat itu Putri Pariwisata pada saat itu mungkin belum rezeki saya juga, akhirnya saya ikut joint lagi di Miss Chinese Indonesia,” kata Maria saat diwawancarai tim liputan EL JOHN News, belum lama ini.
Ada seorang yang menjadi inspirasi Maria untuk terjun ke dunia beauty pageant, yakni Artika Sari Devi. Artika adalah pemenang kontes Puteri Indonesia 2004 yang mewakili provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia juga sukses menempati posisi 15 besar di ajang Miss Universe 2005.
“Saya melihat sosok beliau yang sampai sekarang pun meskipun sudah tidak menjabat sebagai seorang pemenang atau winner, dia tetap berkarya, tetap menghasilkan sebuah inspirasi, ide dan motivasi untuk anak-anak muda. Nah dia merupakan salah satu inspirasi saya. Kalau ditanya motivasi, terus kenapa sih pengen banget joint, kenapa sih pengen banget ada di Miss Chinese, itu karena saya pengen bisa dibilang menjadi role model untuk generasi-generasi muda, bukan role model di atas panggung saja,” ungkap Maria.
Maria ingin seperti Artika Sari Devi yang dapat menjadi inspirasi semua orang, sehingga jejaknya meraih gelar di kontes pageant dapat ditiru oleh orang-orang yang senang mengikuti kontes-kontes kecantikan.
Namun menurut Maria, seorang pemenang bukan hanya mendapatkan gelar di sebuah kontes pageant, pemenang sesungguhnya adalah seseorang yang dapat melawan dirinya sendiri baik disaat agar tidak terjerumus hal-hal yang negatif baik disaat menjalani kontes atau di saat menyandang gelar prestisius.
“winner dalam konteks atau dalam arti kata saya bisa menang melawan diri saya sendiri, saya tetap percaya diri meskipun saya lihat kalau pengen winner, saingannya kuat-kuat. Meskipun saya punya team sendiri sih untuk prepare ketika miss Chinese kemarin. Tetapi kan saya tidak boleh merendahkan atau melihat teman-teman yang lain, jadi tidak boleh sombong, angkuh , harus jauh dari sifat negatif saat ikut kontes maupun saat menerima gelar,” tutur Maria.
Selain itu, hal lain yang melatarbelakangi Maria ikut di pemilihan Miss Chinese Indonesia 2021 adalah tekad Maria untuk melestarikan akulturasi kebudayaan Tionghoa-Indonesia. Ajang Miss Chinese Indonesia 2021 dijadikan wadah bagi Maria agar dapat menjaga kelestarian dua kebudayaan tersebut.
Sebelumnya Maria juga sudah bergabung dengan sebuah komunitas salah satu suku Tionghoa untuk memperdalam khasanah tentang akulturasi kebudayaan Tionghoa-Indonesia.
“Saya bergabung selama di Jakarta itu dengan salah satu Komunitas Tionghoa yaitu komunitas Hakka, saya joint di situ saya mempelajari budayanya dan di situ saya menemukan yang namanya jiwa saya, di mana saya sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak banyak tau tentang yang namanya kebudayaan Tionghoa. Nah di sini lah saya mengajak teman-teman yang seumuran saya, generasi milenial, untuk lebih tau banyak tentang kebudayaan Tionghoa,” ujar Wanita yang menggeluti bidang content writer ini.
Menyandang gelar Miss Chinese Indonesia Medical 2021, Maria telah menjalani beberapa program bersama sejumlah komunitas, salah satunya dengan memberikan healthy kit kepada pelayan rumah makan agar tetap terjaga kesehatannya di saat melayani pengunjung, apalagi di saat pandemi ini pelayan rumah makan paling banyak berinteraksi dengan pengunjung yang berbeda. Selain itu, usaha rumah makan menjadi salah satu usaha yang terdampak pandemic Covid-19.
“Menurut saya di masa pandemi ini mungkin untuk rakyat yang kurang mampu biarlah pemerintah yang bisa memberikan kontribusinya, yang bisa berbagi, tetapi untuk pelaku-pelaku usaha kita juga tidak bisa melupakan bukan mereka tidak mampu, tapi mungkin disini kita pengusaha F&B banyak sekali yang berdampak. Nah di sini kita gimana caranya sih bisa berkontribusi selain kita beli makan di tempat mereka kita perhatikan juga kesehatan dari karyawannya sendiri,” tutup Maria.