Kemendag Fokus Dorong Ekspor Barang Industri dan Industri Berteknologi Tinggi

0
WhatsApp-Image-2021-01-29-at-15.37.23

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan transformasi menjadi salah satu upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara penghasil dan pengekspor barang industri dan industri berteknologi tinggi. Oleh karena itu, di tahun 2021 ini, Kemendag akan mengoptimalkan upaya untuk bertransformasi agar target yang dipasang dapat tercapai.

Jika upaya dapat berhasil maka nilai ekspor Indonesia untuk barang jadi akan bertambah dan tidak lagi sekedar ekspor barang mentah atau setengah jadi. Komitmen tersebut disampaikan Mendag Lutfi dalam Konferensi Pers “Trade Outlook 2021” secara virtual, belum lama ini.

 Sebenarnya sudah ada sektor yang bertransformasi seperti ekspor komoditas besi baja, kendaraan bermotor, dan perhiasan, namun hal tersebut perlu didorong atau diperkuat agar target perdagangan 2021 dapat terwujud.

Target perdagangan 2021 telah ditetapkan dalam rencana strategis Kemendag, yaitu pertumbuhan ekspor nonmigas 6,3 persen, serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) subsektor perdagangan besar dan eceran, bukan mobil dan sepeda motor sebesar 4,8 persen

“Sepuluh produk utama ekspor nonmigas Indonesia telah berkontribusi sebesar 59,8 persen terhadap kinerja ekspor nonmigas pada 2020. Di antara kesepuluh produk tersebut, ada tiga produk yang telah bertransformasi menjadi barang industri dan industri berteknologi tinggi, yaitu besi baja, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, dan perhiasan. Kami berkomitmen terus mendorong transformasi ini,” tegas Mendag Lutfi.

Untuk besi dan baja, Indonesia terbilang sukses karena berada di posisi kedua sebagai negara terbesar di dunia penghasilan dua komoditas tersebut, setelah Tiongkok. Bahkan Tiongkok pun  mengandalkan besi dan baja dari Indonesia. Tercatat sudah lebih dari 70 persen besi dan baja Indonesia diekspor ke Tiongkok.

Komoditas besi dan baja juga memiliki kontribusi besar untuk devisa negara. Pada tahun 2020 kedua komoditas itu bertengger di posisi ke-3 ekspor nonmigas Indonesia dan kontribusinya sebesar 7 persen atau senilai USD 10,85 miliar. Pertumbuhan ekspor besi baja juga cukup signifikan mencapai 46,84 persen (YoY).

 “Capaian ini cukup membanggakan mengingat sebelumnya Indonesia merupakan negara pengimpor besi dan baja,” kata Lutfi.

Sementara itu, produk kendaraan bermotor dan suku cadangnya pada 2020 menempati urutan ke-6 pada ekspor nonmigas Indonesia dengan kontribusi sebesar 4,3 persen atau senilai USD 6,6 miliar.

“Walaupun terjadi penurunan pada sektor otomotif akibat kondisi perekonomian global yang tengah lesu terimbas dampak Covid-19, potensi ekspor kendaraan bermotor dan suku cadangnya masih sangat besar,” imbuh Lutfi.

Selain itu, komoditas perhiasan juga menjadi andalan ekspor Indonesia. Produk perhiasan pada 2020 menempati urutan ke-5 pada ekspor nonmigas Indonesia dengan kontribusi sebesar 5,3 persen dengan nilai USD 8,2 miliar. Hampir 80 persen produk perhiasan diekspor ke Singapura, Swiss, dan Jepang. Pertumbuhan ekspornya juga positif, yakni mencapai 24,21 persen (YoY).

“Perhiasan menjadi sektor penting karena merupakan sektor padat karya yang melibatkan banyak pengrajin dan usaha kecil menengah (UKM). Ekspor perhiasan yang maju menunjukkan besarnya kreativitas pengrajin Indonesia, termasuk juga dalam hal pemasarannya,” jelas Mendag Lutfi.

Perjanjian Perdagangan di Era Kolaborasi

Untuk mengoptimalkan transformasi menuju negara penghasil dan pengekspor barang industri dan industri berteknologi tinggi, perlu didukung melalui perjanjian perdagangan internasional. Perjanjian perdagangan sangat penting karena untuk mengekspor produk lebih banyak, perlu membuka pasar yang lebih luas.

“Saat ini merupakan era kolaborasi, bukan lagi era persaingan. Untuk memajukan ekspor di era ini, kita harus membuka pasar Indonesia juga. Untuk itu, diperlukan kesiapan ekspor yang optimal agar kita mampu berkolaborasi dengan berbagai negara melalui perjanjian dagang yang sudah ada untuk saling membuka pasar, sekaligus berupaya meningkatkan nilai tambah masing-masing produk yang diekspor. Kemendag juga menargetkan penyelesaian perundingan perjanjian dagang yang masih berlangsung secepatnya,” terang Mendag.

Selain itu, peluang peningkatan ekspor ke negara-negara non tradisional juga terus digali. Ini sebagai langkah antisipatif menghadapi kondisi perekonomian di negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia yang tertekan akibat pandemi Covid-19. Ekspor Indonesia pada 2020 ke sejumlah kawasan nontradisional tumbuh cukup tinggi di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, yaitu ke Eropa Barat (meningkat 17,07 persen), Australia (14,52 persen), dan Eropa Timur (99,9 persen).

“Dengan terjalinnya perdagangan yang lebih luas, diharapkan menjadi pemantik datangnya investasi yang mendorong industrialisasi. Dengan demikian, kolaborasi yang menghasilakn barang bernilai tambah dapat terwujud,” lanjut Mendag Lutfi.

Sejumlah strategi lain yang akan dilakukan untuk meningkatkan ekspor, yaitu promosi dagang di dalam dan luar negeri, seperti penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2021 di Indonesia dan keikutsertaan pada Expo 2020 Dubai, Uni Emirat Arab.

Selain itu, juga ada penguatan misi dagang yang meliputi forum bisnis, business matching, dan dialog bisnis. Pemanfaatan teknologi digital akan menjadi salah satu solusi dalam menggerakkan perekonomian di tengah kondisi pandemi Covid-19 dengan masih terbatasnya mobilitas antar negara. Adapun untuk meningkatkan daya saing produk ekspor, Kemendag juga menguatkan program Indonesia Design Development Center (IDDC), termasuk penyelenggaraan Good Design Indonesia (GDI), dan Designer Dispatch Services (DDS) untuk eksportir Indonesia dan UKM.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *