Kemenperin Optimis Industri Furnitur di Cirebon Dapat Tarik Investor China

0
201710242

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimis industry furnitur di Cirebon dapat menjadi daya tarik bagi para pelaku industri yang berorientasi di sektor furnitur, khususnya dari luar negeri.  Dirjen Industri Agro Panggah Susanto mengatakan larangan mengekspor  bahan baku furnitur dalam negeri dapat dijadikan kesempatan oleh industry furnitur di Cirebon untuk menarik investasi dari luar negeri seperti China.

“Dengan adanya larangan ekspor bahan baku rotan kita ke luar negeri, kawasan industri yang ada di China akan direlokasi ke Kabupaten Cirebon,” ungkap Dirjen Industri Agro Panggah Susanto ketika menghadiri Cirebon International Furniture Expo (Cifex) 2017, akhir pekan lalu.

Panggah mengatakan perlu ada penyebaran informasi ke China terkait keunggulan industri furnitur di Cirebon. Hal ini penting dilakukan agar investor China yang bergerak di sektor furnitur dapat mendapat secara detail mengenaik industri furnitur di Cirebon.

“Terkait rencana itu, kami akan mengunjungi China bersama Bapak Bupati. Di sana, kami akan melihat dan berbicara langsung dengan pengusaha rotan di China terkait rencana relokasi,” kata Panggah.

Menurut Panggah, industri furnitur harus menjadi sektor kebanggaan nasional karena memiliki kekuatan untuk kompetitif di tingkat global. Apalagi, mayoritas atau hampir 85 persen bahan bakunya seperti rotan dipasok dari dalam negeri. “Oleh karena itu, agar industri ini maju, tidak perlu melakukan ekspor bahan baku. Kami fokus untuk meningkatkan nilai tambahnya melalui program hilirisasi,” tuturnya.

Kemenperin mencatat, penyerapan tenaga kerja di industri furnitur nasional sebanyak 101.346 orang pada tahun 2016 dan diproyeksi akan mencapai 202.692 orang tahun 2018. Sementara itu, nilai ekspor furnitur nasional sebesar USD1,7 miliar dan dalam dua tahun ke depan ditargetkan mencapai USD5 miliar. Tujuan utama ekspor furnitur Indonesia adalah pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menekankan kepada pelaku industri mebel dan kerajinan nasional agar terus kreatif dan berinovasi sehingga bisa meningkatkan nilai tambah produk dan memenuhi selera pasar saat ini. “Tahun 2017, kami menargetkan nilai ekspor bisa mencapai USD2 miliar,” ujarnya.
Bahkan, Kemenperin telah memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Selain untuk menyelenggarakan pendidikan vokasi yang bertujuan menghasilkan para lulusan berkompetensi dan siap kerja, politeknik ini juga dirancang menjadi pusat inovasi teknologi dan pengembangan produk industri furnitur dan pengolahan kayu di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *