Kementerian PUPR Bangun Empat Jembatan Antisipasi Kepadatan Arus Mudik

0
menteri PU

Padatnya lalu lintas kereta api dan waktu menunggu di pintu perlintasan kereta membuat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURR) membangun empat flyover di atas jalur perlintasan kereta api (KA) Tegal-Purwokerto. Pembangunan flyover ini juga sebagai antisipasi kepadatan arus mudik lebaran tahun ini.

Keempat flyover tersebut adalah flyover Dermoleng-Ketanggungan, Klonengan-Prupuk, Kesambi dan Kretek. Total panjang keempat flyover tersebut mencapai 2,8 km dengan anggaran sebesar Rp 350 miliar.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menjelasakan begitu lamanya antrian mobi di pintu perlintasan di saat kereta lewat. Menurut Basuki pada hari normal terdapat 90 kali perlintasan kereta yang memakan waktu 5 menit setiap kali melintas. Ketika arus mudik, terjadi peningkatan perlintasan kereta hingga 97 kali atau sekitar 8 jam pemberhentian sehingga menimbulkan kemacetan panjang. Hal tersebut dilontarkan Basuki saat meninjau lokasi pembangunan flyover Klonengan

“Pembangunan flyover ini dikerjakan dengan sangat cepat. Dilakukan secara kontinu selama 24 jam karena memang dikhususkan untuk selesai sebelum mudik Lebaran,” kata Menteri Basuki.

Hingga berita ini dibuat, progress pebangunan flyover Dermoleng sepanjang 500 meter cukup memuaskan. Angkanya mencapai 62 persen yang sudah dibangun. Pembangunan tersebut ditangani kontraktor PT Adhi Karya (Persero) Tbk – CDI KSO dengan nilai kontrak Rp 64 miliar.

Adapun, flyover Klonengan mencapai progress 82 persen dengan panjang 1.011 meter dan ditangani oleh PT Hutama Karya dengan nilai kontrak Rp 112 miliar.

Sementara itu, flyover Kesambi mencapai progress 70 persen dengan panjang 470 meter, ditangani oleh PT Brantas Abipraya dengan kontrak senilai Rp 58 miliar.

Terakhir, flyover Kretek sepanjang 700 meter mencapai progress 40 persen dan ditangani juga oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk dengan nilai kontrak Rp 82 miliar.

“Untuk pembangunan flyover Kretek masih 40 persen karena sempat terkendala pembebasan lahan,” tambah Menteri Basuki.

Salah satu teknologi yang digunakan untuk mempercepat penyelesaian flyover adalah teknologi corrugated mortar busa (beton ringan) di flyover Klonengan. Teknologi ini sebelumnya pernah digunakan pada flyover Antapani di Bandung. Selain dapat menghemat waktu penyelesaian pekerjaan hingga 30 – 40 persen, teknologi ini juga lebih efisien dari segi pembiayaan.

Pembangunan flyover ini ditargetkan selesai pada H-10 Lebaran atau sudah dapat digunakan pada 10 – 16 Juni 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *