Kepada ICBC, Investor Dongying Minat Bangun Pabrik Ban dan Transfer Teknologi Kilang di Indonesia
Hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok kembali menunjukkan dinamika positif. Delegasi bisnis dari Kota Dongying, Provinsi Shandong, Tiongkok menyatakan minat besar untuk menjalin kemitraan investasi dengan Indonesia, khususnya dalam bidang industri ban kendaraan dan teknologi kilang minyak.
Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung saat delegasi Dongying melakukan kunjungan resmi ke kantor Indonesia China Business Council (ICBC) yang berlokasi di Plaza Maspion, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2025).
Pertemuan ini, dihadiri oleh sejumlah pengurus penting ICBC, antara lain Ketua Harian ICBC Ali Husein, Wakil Ketua Harian ICBC Hasan Kosasih Ko, serta Ketua Kehormatan ICBC Tamba P. Hutapea
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat kolaboratif tersebut, delegasi dari Dongying mempresentasikan potensi unggulan kota mereka, terutama di sektor manufaktur ban dan pengembangan teknologi pengolahan minyak. Dua sektor ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi Dongying dan dinilai sangat relevan dengan kebutuhan strategis Indonesia ke depan.
Dalam paparan yang disampaikan oleh perwakilan Dongying, disebutkan bahwa produsen ban di wilayah mereka, memiliki kapasitas produksi yang besar dan berorientasi pada pasar global.
Sebagai sentra industri otomotif dan energi, Dongying memiliki infrastruktur produksi yang sangat kuat dan terintegrasi. Kapasitas produksinya mencapai jutaan unit ban setiap tahun, menjadikannya salah satu pusat manufaktur paling produktif di Tiongkok. Pabrik-pabrik di kota ini tidak hanya memproduksi untuk kebutuhan domestik, tetapi juga mendominasi ekspor ke berbagai belahan dunia.

Salah satu daya saing utama industri ban di Dongying adalah kemampuannya dalam menghasilkan produk yang sangat beragam. Kota ini memproduksi berbagai jenis ban, mulai dari ban radial untuk kendaraan penumpang, ban truk dan bus, hingga ban khusus untuk sektor pertanian dan industri berat. Bahkan, dengan perkembangan teknologi otomotif global, Dongying juga telah merambah pasar ban untuk mobil listrik yang menuntut efisiensi energi dan performa tinggi.
ICBC, sebagai jembatan komunikasi bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok, siap memfasilitasi dialog lanjutan dengan pemerintah dan pelaku industri lokal di Tanah Air.
Mewakili ICBC, Ketua Kehormatan ICBC, Tamba P. Hutapea, mengapresiasi ketertarikan para pelaku usaha Dongyong yang ingin berinvestasi di Indonesia.
Menurut Tamba, teknologi yang dipresentasikan oleh pihak Dongying tergolong maju dan sudah digunakan secara luas di Tiongkok. Mereka tidak hanya unggul dalam hal pengolahan minyak dan gas bumi, tapi juga dalam industri hilir seperti konversi karet alam menjadi ban berkualitas tinggi, yang produksinya telah menembus pasar global.
Tamba menjelaskan bahwa para investor ini melihat potensi besar di dua sektor strategis yang ada di Indonesia. Pertama, karena Indonesia merupakan produsen karet terbesar di Asia Tenggara, yang menjadi bahan baku utama dalam industri ban. Kedua, karena pemerintah Indonesia saat ini tengah mendorong aktivasi dan pemulihan sumur-sumur minyak tua yang masih menyimpan potensi produksi, namun memerlukan pendekatan teknologi baru agar dapat dioptimalkan kembali.
“Mereka sangat tertarik untuk berinvestasi di bidang industri ban karena Indonesia terkenal sebagai produsen terbesar karet di Asia Tenggara,” jelasnya.
“Kemudian juga Indonesia, didengar mereka, sedang mendorong aktivasi sumur-sumur minyak lama yang masih bisa diharapkan berproduksi dengan menggunakan teknologi baru,” sambungnya.

Delegasi bisnis dari Kota Dongying, tak hanya datang membawa peluang kerja sama di bidang investasi dan teknologi industri. Mereka juga membawa kabar baik di bidang pendidikan: kesediaan menerima pelajar Indonesia untuk belajar langsung di universitas unggulan Dongying, khususnya dalam disiplin teknologi perminyakan dan teknologi kimia.
Ketua Harian ICBC, Ali Husein, menyambut baik tawaran tersebut. Ia menyebutnya sebagai kesempatan langka yang harus dimanfaatkan dengan serius oleh pemerintah, dunia usaha, dan generasi muda Indonesia yang ingin memperdalam keahlian di sektor-sektor strategis tersebut.
“Mereka bersedia menerima siswa-siswa kita untuk belajar di universitasnya, dalam bidang teknologi perminyakan dan teknologi chemical,” ujar Ali.

Menurutnya, komitmen dari pihak Dongying ini membuka jalan baru untuk kolaborasi jangka panjang, terutama dalam membangun kapasitas sumber daya manusia Indonesia di bidang energi dan industri petrokimia, dua sektor yang saat ini sedang menjadi fokus nasional.
“Nah itu untuk kita baik sekali tuh, kesempatan emas,” tambahnya dengan nada optimis.
Rencananya, setelah pertemuan ini, akan ada tindak lanjut dari pembahasan rencana investasi ini.
