1

Hotspot atau titik panas sebagai indikasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terpantau di Kalimantan Barat kembali meningkat. Menurut hasil pemantauan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, 22 September 2017 (laporan pukul 20.00 WIB), Satelit NOAA19 terpantau 102 titik hotspot dengan rincian Kalimantan Barat 94 titik (Kabupaten Sanggau, Sintang, Sambas, Ketapang. Sekadau, Melawi). Di provinsi lainnya seperti Lampung 2 titik , dan masing –masing 1 titik di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Bangka Belitung, dan Sumsel.

Sedangkan informasi hotspot berdasarkan Satelit TERRA AQUA (NASA) confidence level >80%, terpantau 57 titik hotspot dengan rincian Kalimantan Barat 43 titik (Kabupaten Kayong Utara, Sanggau, Sintang, Sambas, Ketapang, Sekadau, Melawi). Di provinsi lainnya masing-masing 5 titik di Provinsi Kalimantan Tengah dan NTB; Jawa Barat 2 titik; dan masing-masing 1 titik di Lampung dan Jawa Timur.

Menurut informasi BMKG wilayah Kalimantan Barat, banyaknya jumlah hotspot yang terpantau pada 22 September 2017 di Kalimantan Barat dipicu oleh berkurangnya hujan di Kalimantan Barat dan bertambahnya nilai suhu udara. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain Kelembaban udara pada lapisan 850 mb hingga 700 mb mulai berkurang di sekitar wilayah Kalimantan Barat. Selain itu adanya pusat tekanan rendah di sebelah timur Philipina, sehinga masa udara di Kalimantan Barat tertarik menuju timur Philipina. Suhu terasa panas karena memang matahari sedang berada tepat di ekuator, tak heran maka panas terasa begitu menyengat. Beberapa hal tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya hotspot di banyak lokasi di Provinsi Kalimantan Barat. Jumlah titik api (firespot) juga meningkat diduga diakibatkan banyaknya aktivitas masyarakat yang sedang membersihkan lahan untuk penyiapan lahan pertanian/perkebunan.

 

 

 

Mengantisipasi hal ini Brigade Dalkarhutla KLHK – Manggala Agni, bersama dengan TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus menggiatkan patroli terpadu, tidak hanya di Kalimantan Barat namun juga di 7 (tujuh) provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan lainnya. Patroli terpadu disertai dengan  mengaktifkan posko-posko desa, antara lain di Kalimantan Barat (60 posko desa), Kalimantan Tengah (55 posko desa), Kalimantan Selatan (20 posko desa), Kalimantan Timur (15 posko desa), Sumatera Utara (15 posko desa), Riau (20 posko desa), Jambi (20 posko desa), Sumatera Selatan (60 posko desa).

Patroli terpadu yang digagas dan difasilitasi oleh KLHK ini sudah memasuki periode IV yang dimulai serentak pada Jumat (22/09/2017) sampai dengan 21 Oktober 2017. Pada periode ini akan diaktifkan sebanyak 300 posko desa yang menjangkau sebanyak 1.203 desa rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber Kementerian LHK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *