“Kutukan” Bisnis Keluarga, Benarkah ?
Bisnis keluarga adalah salah satu kekuatan ekonomi yang tidak bisa dipandang enteng. Sebuah usaha bisnis yang dibangun awalnya oleh keluarga telah terbukti banyak sukses bahkan menjadi sebuah perusahaan raksasa.
Ada 3 permasalahan yang sering timbul dalam family business dan semuanya harus dapat diselesaikan. Hal yang pertama adalah persoalan suksesi dalam perusahaan, yang kedua bagaimana menggunakan topi yang tepat; kapan sebagai pemilik perusahaan kapan memakai topi seorang manajer. Permasalahan yang ketiga adalah perusahaan keluarga sering diatur dengan tidak terstruktur.
Suksesi dalam perusahaan
Permasalah pertama, ketika perusahaan memikirkan siapa generasi penerus selanjutnya, sering timbul konflik antara apakah akan dilanjutkan dari pihak keluarga atau pihak luar. Kapan dan bagaimana rencananya, apakah pada saat sang ayah masih ada atau nanti saja sesudahnya, apakah langsung saja digantikan atau menunggu sang anak berpengalaman lebih dahulu. Saat melakukan suksesi pertimbangan kepentingan manajemen dan kepemilikan merupakan hal yang perlu diperhatikan. Lebih kompleks bila perusahaan keluarga memiliki generasi penerus yang berjumlah banyak.
Topi yang tepat
Penggunaan peran yang tepat sebagai manajer dan sebagai pemilik, merupakan persoalan yang sering timbul. Perusahaan keluarga biasanya tidak memiliki struktur yang sudah terdefinisi dengan baik, seorang manajer yang sekaligus pemilik bisa memiliki pekerjaan yang tidak terbatas, apa saja dikerjakan. Kondisi ini membuat karyawan sering bertindak pasif karena tidak memiliki wewenang dan merasa tidak dipercaya. Manajer yang sekaligus pemilik sering sulit memimpin perusahaan karena sikap karyawan yang anggota keluarga bisa lebih sulit untuk diatur daripada mereka yang bukan anggota keluarga. Sebab itu memang membutuhkan anggota keluarga yang memiliki kedisplinan sendiri, sehingga bertindak sesuai batas wewenang yang diberikan dalam organisasi.
Pengaturan yang tidak terstruktur
Perusahaan keluarga umumnya didirikan oleh satu orang dengan ide yang besar. Mereka biasanya sangat enerjik, kreatif, sangat punya dorongan untuk maju, namun persoalannya sering bekerja tidak terstruktur. Perkenalan saya dengan para pemilik bisnis keluarga, umumnya mereka akan bergerak cepat menangkap kesempatan yang ada. Prinsipnya mereka akan mengerjakan segala hal untuk mengejar keuntungan yang didapat, sehingga bekerja dengan organisasi yang terstruktur sering ditinggalkan karena dianggap menghalangi.
Persoalan akan timbul pada saat perusahaan semakin besar, biasanya karena bekerja tidak terstruktur, kecepatan pelayanan akan menurun, tidak mampu melayani untuk kuantitas yang lebih besar, terjadinya kesalahan di sana-sini dan kemungkinan adanya korupsi atau kerugian keuangan lainnya akan timbul juga.
Permasalahan ini perlu diatasi dengan penataan struktur organisasi yang lebih sesuai dengan perusahaan. Penetapan fungsi, jabatan, peran, tugas, dan tanggung jawab merupakan rangkaian setelah struktur dibentuk. Setelah itu penataan pekerjaan administrative perlu dilakukan dengan menyusun proses-proses kerja yang standar.
Mengatasi timbulnya tiga permasalahan yang umum terjadi ini perlu dimulai sejak dini. Saat perusahaan mulai berdiri, maka suksesi, wewenang yang jelas dan manajemen yang terstruktur sudah mulai disiapkan. Beberapa perusahaan keluarga yang dikelola oleh professional, menempatkan sistem manajemen yang terbukti lebih baik, sekalipun kepemilikan perusahaan tetap tidak terkurangi.
KELEMAHAN BISNIS KELUARGA
Selain memiliki beberapa kelebihan, bukan berarti bisnis keluarga tidak memiliki kelemahan. Setidaknya ada 5 kelemahan yang mungkin terjadi dalam bisnis keluarga. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) Ketergantungan terhadap keluarga, (2) munculnya agency cost sebab dari altruism, (3) tantangan dalam menyiapkan suksesor, (4) pembatasan sumber daya, (5) peran yang ambigu.
- Ketergantungan terhadap keluarga menjadi kelemahan dari bisnis keluarga karena kendali anggota keluarga baik secara formal maupun informal menentukan takdir perusahaan menjadi lebih baik atau lebih buruk. Hal ini mungkin terjadi apabila perusahaan dikuasai oleh anggota keluarga yang tidak kompeten ataupun kurang beretika.
Kelemahan selanjutnya adalah (2) munculnya agency cost sebab dari altruism, meskipun dalam kelebihan bisnis keluarga salah satunya adalah minimnya konflik antara pemilik dengan manajer bukan berarti tidak timbul konflik. Salah satu potensi konflik adalah adanya nepotisme dalam penunjukkan manajer, bukan karena seseorang tersebut ahli dan memang dibutuhkan perusahaan melainkan karena orang tersebut memiliki faktor kekerabatan dengan pemilik perusahaan.
Kelemahan selanjutnya adalah (3) tantangan dalam menyiapkan suksesor, sejalan dengan kelemahan kedua maka bisnis keluarga akan dihadapkan pada dilemma dalam menyiapkan penerus. Perusahaan akan menghadapi pertanyaan: Apakah ada seseorang dalam keluarga yang mau mengambil alih? Jika ada, apakah dia mampu menjalankan perusahaan tersebut?
Bertolak belakang dengan salah satu kekuatan bisnis keluarga yaitu keunggulan sumberdaya, salah satu kelemahan bisnis keluarga adalah (4) pembatasan sumber daya. Contohnya adalah jajaran manajemen tingkat atas hanya akan bisa diisi oleh anggota keluarga, sedangkan karyawan berprestasi yang bukan anggota keluarga tidak akan bisa mencapai posisi yang tinggi dalam manajemen perusahaan. Hal ini menyebabkan karyawan-karyawan yang berpotensi dan memiliki kompetensi lebih akan cenderung meninggalkan perusahaan keluarga tersebut.
Kelemahan selanjutnya adalah (5) adanya ketidakjelasan peran, anggota keluarga dalam sebuah bisnis keluarga seringkali memainkan beberapa peran dalam bisnis yaitu sebagai pemilik, manajemen, dan keluarga; hal ini menyebabkan anggota keluarga salah memposisikan diri terkait perannya dalam mengambil keputusan bisnis.
4 Solusi Permasalahan dalam Bisnis Keluarga
Membangun bisnis bersama keluarga, baik orangtua, saudara kandung, atau keluarga dekat lainnya, tidak selalu mudah. Akan ada banyak tantangan yang Anda temui.
Supaya hubungan keluarga dan bisnis tetap terjalin baik, coba dulu ikuti beberapa tips dalam mengatasi permasalahan dalam bisnis keluarga berikut ini ;
- Ketahui setiap kekuatan anggota keluarga. Dalam membangun bisnis bersama keluarga, Anda harus tahu peran masing-masing anggota keluarga dalam bisnis tersebut. Setiap orang harus tahu perannya, tanggung jawabnya dan siapa pemimpin yang bisa mengatur itu semua agar tetap berada di jalur yang tepat. Pastikan juga peran setiap anggota keluarga juga sesuai dengan minat dan kemampuannya. Jangan sampai bisnis keluarga menjadi berantakan karena kesalahan pengaturan peran.
- Jauhkan masalah personal. Karena punya kedekatan hubungan, maka sering kali masalah personal ikut masuk ke dalam masalah bisnis. Sebisa mungkin jauhkan emosi yang berkaitan dengan pribadi dalam bisnis keluarga Anda. Bagaimanapun ini adalah bisnis, sehingga Anda harus tetap bekerja seprofesional mungkin.
- Pahami perbedaan generasi. Tidak jarang pula perbedaan generasi dan kebiasaan menjadi masalah dalam bisnis, namun Anda harus bisa saling memahami. Misalnya, jika berbisnis dengan orang yang lebih tua, mereka cenderung melakukan pembukuan keuangan dengan cara lama, yaitu menggunakan buku. Sementara Anda lebih suka menggunakan komputer. Meski berbeda, Anda tetap bisa menyatukan keduanya karena cara lama bisa juga menjadi pendukung cara yang lebih modern.
- Pisahkan waktu pribadi dengan profesional. Anda harus ingat bahwa ketika Anda berbisnis bersama keluarga, Anda sebaiknya tetap punya waktu untuk menikmati saat-saat menyenangkan bersama keluarga tanpa berpikir soal bisnis. Misalnya, jangan sekali-sekali membicarakan bisnis saat makan malam keluarga. Dengan cara ini, Anda tetap memiliki waktu keluarga dan beristirahat sejenak dari pekerjaan.
A – Z Mengenai Bisnis Keluarga
Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan bahwa kekayaan suatu keluarga tidak akan bertahan hingga generasi ketiga. Pepatah ini ternyata ada benarnya bila kita melihat statistik mengenai bisnis keluarga dari berbagai negara yang menunjukkan hanya sedikit bisnis keluarga yang bisa bertahan mulus hingga generasi ketiga, keempat bahkan lebih.
Salah satu permasalahannya adalah kerangka bisnis yang bersifat “monarki” di mana pemilihan pemimpin atau pun manajemen ditunjuk berdasarkan garis keturunan, bukan berdasarkan keahlian. Bisnis keluarga memang menjadi penggerak perekonomian di suatu negara, namun sayangnya hanya sedikit yang melakukan penelitian mengenai eksistensi bisnis model ini di tengah era globalisasi.
Mengapa sekolah bisnis tidak mengeksplorasi dinamika bisnis keluarga dan mengajarkan siswa cara mengelolanya? Apakah bisnis keluarga dianggap kecil atau tidak signifikan dalam jangka panjang? Faktanya ada banyak bisnis keluarga di berbagai belahan dunia yang bisa sukses. Hermes, Heineken, Ford Motor dan Marriot International adalah beberapa contohnya. Di Indonesia ada beberapa bisnis keluarga yang juga sukses seperti Sampoerna dan Indofood.
Berikut adalah A-Z mengenai bisnis keluarga yang akan menjelaskan secara singkat keunikan dari bisnis model ini :
Alignment of goals (Keselarasan tujuan)
Penelitian menunjukkan faktor kunci atas gagalnya banyak bisnis keluarga adalah karena ketidakmampuannya untuk menyelaraskan kebutuhan dan keinginan dari para stakeholder dalam bisnis.
Branding
Banyak bisnis keluarga memandang remeh nilai dan manfaat dari branding suatu bisnis keluarga. Ekuitas brand telah lama dianggap sebagai aset berharga yang sangat diinginkan oleh bisnis mana pun.
Communication (Komunikasi)
Pada banyak bisnis keluarga, kemampuan melakukan komunikasi yang baik antar generasi adalah faktor penting dalam kesuksesan dan keberlanjutan suatu bisnis.
Directorship (Kepemimpinan)
Salah satu permasalahan dalam suatu bisnis keluarga adalah menentukan direktur. Permasalahan ini semakin besar ketika faktor emosi dan sosial turut terlibat. Salah satu kunci dari jajaran pemimpin yang sukses adalah menunjuk direktur independen di luar lingkup keluarga.
Estate planning (Perencanaan waris)
Perencanaan waris yang efektif untuk suatu bisnis keluarga juga berpengaruh pada keberlanjutan bisnis, likuiditas dan kebutuhan keluarga masa depan dari para stakeholder-nya.

Family context (Konteks keluarga)
Termasuk di dalamnya adalah dinamika keluarga seperti hubungan, kepercayaan, rasa hormat, peran anggotanya dan alat penggerak kepemimpinan seperti dewan keluarga dan konstitusi keluarga.
Governance (Pimpinan)
Struktur pimpinan perusahaan dari suatu bisnis keluarga sering kali tidak tersusun dengan jelas dibandingkan dengan perusaan publik.
Human resources (Sumber daya manusia)
Perusahaan keluarga yang bijak sebaiknya merekrut dua generasi karyawan. (1). Pemuda: untuk menunjukkan daya saing. (2). Karyawan Berpengalaman: Untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman.
Inflexibilty (Kaku)
Masuk ke dalam bisnis keluarga seakan sedang masuk ke terowongan waktu. Komentar seperti “Segala sesuatu selalu dilakukan seperti ini karena Ayah melakukannya seperti ini” sering kali terdengar. Banyak bisnis keluarga yang terikat dengan cara-cara lama dan enggan untuk berubah.
Joining the family business (Masuk ke dalam bisnis keluarga)
Generasi selanjutnya yang masuk ke dalam bisnis keluarga menemukan diri mereka dalam posisi yang unik dan menjanjikan, dimana mereka memiliki peluang untuk membangun karier yang menantang bagi diri mereka. Namun, jika generasi selanjutnya masuk dengan alasan yang salah mencari perlidungan yang aman atau karena mereka ditekan untuk masuk oleh orang tua mereka – ini mungkin menjadi keputusan yang akan mereka sesali.
Knowledge (Pengetahuan)
Bisnis keluarga dibedakan dari caranya menjalankan bisnis. Mereka mungkin memiliki teknologi atau gagasan yang tidak dimiliki rivalnya. Hal ini akan terus hanya diketahui oleh pihak internal dari suatu bisnis keluarga dan tidak akan diketahui oleh masyarakat umum.
Leadership (Kepemimpinan)
Gaya kepemimpinan sering mempengaruhi karakteristik operasional dari suatu bisnis dan ini sangat nyata terlihat dalam bisnis keluarga.
Matriarchs (Perempuan sebagai pemimpin)
Sering kali seorang pasangan (istri) tidak sadar jika dirinya memiliki peran penting terhadap kesuksesan suatu bisnis, meskipun dia tidak memiliki posisi formal dalam bisnis tersebut. Matriarchs sering menjadi penghubung yang menyokong kebersamaan bisnis keluarga dari sisi perasaan.
Nepotism (Nepotisme)
Banyak bisnis keluarga dikenal sering memasukkan anggota keluarga atau teman ke dalam bisnis. Sebagai contoh, banyak anggota dewan dalam suatu bisnis berasal dari kerabat dekat yang secara langsung atau tidak langsung mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan sang pemiliki bisnis.
Ownership (Kepemilikan)
Sering kali ditemukan bahwa bisnis keluarga dicirikan dengan banyaknya orang yang menjadi pemilik. Ketika bisnis telah berjalan hingga generasi 3 atau 4, mungkin saja ditemukan 20 atau lebih anggota keluarga yang memiliki bagian dari bisnis tersebut.
Philanthropy (Dermawan)
Sifat kedermawanan dari suatu bisnis keluarga merupakan hasil dari nilai dalam keluarga, kebutuhan untuk mempererat keluarga dan tetap terhubung dengan sejarah panjang pencapaian keluarga.
Quibble (Berdalih)
Konflik dalam bisnis keluarga sering terjadi karena perselisihan yang terjadi terus menerus, dimana aktivitas perdebatan lebih penting dibanding topik yang diperdebatkan.
Roles (Peran)
Perbedaan penting antara bekerja untuk bisnis keluarga dengan bekerja di perusahaan terbuka terletak pada dua peran yang harus dijalankan dalam perusahaan dan dalam keluarga. Perbedaan tujuan antara peran sebagai seorang anak dan manajer yang memberikan laporan kepada seorang ayah sekaligus seorang direktur sering kali terjadi, sehingga menimbulkan stress dan konflik.
Succession planning (Perencanaan penerus)
Di Asia, kata perencanaan penerus sering dikaitkan dengan kematian, cacat dan hal negatif lainnya. Perencanaan penerus yang baik harus dilakukan jauh sebelum sang pemimpin pensiun. Pepatah Tiongkok mengatakan “Untuk menuai buah di masa depan, benih harus ditanam hari ini.”
Transgenerational (Antargenerasi)
Disetiap generasi, pandangan mengenai apa yang “diterima” atau “wajar” tentu berbeda, sehingga menyebabkan jarak antargenerasi. Akibatnya terjadilah konflik dan ketegangan yang membawa penurunan pada bisnis.
Undermanned (Kekurangan karyawan)
Kekurangan tenaga kerja atau keengganan untuk mendukung sumber daya manusia sering berakibat pada anggota keluarga yang berperan dan bertanggung jawab tidaklah kompeten.
Value of the family business (Nilai dari bisnis keluarga)
Nilai sejati dari suatu bisnis keluarga lebih dari sekadar nilai yang ditetapkan oleh laporan keuangan. Nilai, kepercayaan, pesan moral, pengalaman dari kehidupan adalah nilai sejati dari suatu bisnis keluarga.
Women (Perempuan)
Perempuan memiliki peran penting dalam bisnis keluarga yaitu menentukan kesuksesan dan kegagalan serta eksistensinya di masa depan. Perempuan bisa berkontribusi di banyak posisi dalam bisnis modern saat ini, berperan sebagai istri sang pendiri perusahaan, ibu dari penerus bisnis selanjutnya, saudara perempuan dari pemimpin perusahaan, serta peran lainnya. Hal ini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam bisnis keluarga.
Xenophobia (Takut terhadap orang asing)
Dinamika bisnis keluarga tidak akan selesai tanpa menyebutkan xenophobia yang menghinggapi para pemilik bisnis, sehingga peran karyawan yang bukan bagian dari keluarga umumnya terbatas dan di jabatan bawah. Hal ini terjadi umumnya karena ketidakpercayaan dan keenganan untuk membagikan cara menjalankan bisnis dengan orang lain di luar keluarga.
Yardstick of performance (Tolok ukur kinerja)
Banyak pemilik bisnis keluarga yang enggan menjalankan evaluasi kinerja terhadap anggota keluarga yang terlibat dalam bisnis karena hanya akan mengakibatkan tekanan psikologis. Akhirnya penetapan tolok ukur kinerja untuk melihat performanya dari orang-orang yang terlibat hampir tidak ada dalam bisnis keluarga.
Zeal of the family members (Semangat dalam bisnis keluarga)
Dengan semakin banyaknya stakeholder di setiap generasi dalam bisnis keluarga, perlu adanya manajemen terhadap semangat dari setiap bagian bisnis keluarga, khususnya ketika fase pemilihan pemimpin selanjutnya, promosi dalam setiap generasi, dan melakukan review terhadap setiap anggota keluarga yang terlibat.
Konsep dalam memahami suatu bisnis keluarga merupakan fenomena yang masih baru. Namun, konsep ini dikenal dengan cepat di seluruh belahan dunia karena menawarkan pengetahuan dan wawasan yang berasal dari penelitian dan studi kasus. Melalui pemahaman yang mendalam dan penghargaan terhadap A – Z terkait bisnis keluarga, seseorang bisa berharap adanya sinergi yang luar biasa dari kerja sama antar generasi, pembelajaran dan performa.
Family Business : Blessing or Curse?
Seperti kita tahu bahwa ada jargon yang sangat terkenal mengenai kemampuan bertahan perusahaan keluarga, yakni : generasi pertama membangun – generasi kedua menikmati – generasi ketiga menghancurkan. Jargon ini sering disebut dengan dale stale syndrome.
Jargon ini sudah menjadi kutukan bisnis keluarga selama ribuan tahun. Kutukan yang seolah-olah tidak mampu dihindari oleh sebagian besar perusahaan keluaga di dunia. Bahkan hasil penelitian mendapatkan fakta bahwa hanya sekitar 5% sampai dengan 10% perusahaan keluarga sampai pada tingkat tahap sibling ownership, yaitu tahap di mana perusahaan keluarga dikelola oleh keturunan pertama dari pendiri perusahaan.
Benarkah tidak ada perusahaan keluarga yang sanggup hidup lebih lama dari pada sekedar hanya bertahan di tiga generasi? Jawabnya tidaklah selalu demikian. Tidak perlu berkecil hati, dunia masih menyisakan banyak perusahaan yang dapat hidup ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Perusahaan-perusahaan yang bisa dijadikan contoh bagi kita semua, kita jadikan acuan bagaimana mereka dapat bertahan demikian lama dengan melewati belasan bahkan puluhan generasi.
Oleh sebab itu, perusahaan keluarga harus mampu merencanakan secara matang dan memastikan proses peralihan dari satu generasi ke generasi berikutnya berjalan dengan baik. Perusahaan keluarga juga harus memiliki perencanaan pendistribusian kekayaan dan kemakmuran terhadap seluruh anggota keluarga berjalan dengan adil, baik bagi anggota keluarga yang terlibat, maupun yang tidak terlibat di dalam pengelolaan perusahaan.
Kuatnya Rasa Persatuan dalam Keluarga
Keluarga yang bersatu padu jauh lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan biasanya menempatkan kepentingan bisnis dan keluarga di atas kepentingan diri sendiri. Biasanya keluarga membangun persatuan dengan mengutamakan komunikasi di antara mereka. Tanpa rencana suksesi yang cermat, meneruskan obor dari satu generasi ke generasi berikutnya terasa seperti menyerahkan kotak Pandora yang penuh dengan masalah yang kompleks. Perencanaan suksesi jauh lebih rumit dari sekedar mencari tahu siapa yang akan menjadi CEO berikutnya.
Persiapan dalam generasi berikutnya adalah suatu keharusan. Sayangnya, persiapan digenerasi berikutnya sering disalahartikan sebagai menemukan CEO berikutnya. Ini perangkap umum untuk bisnis keluarga yang mengalami kebangkrutan sebelum jatuh ke generasi berikutnya.
Dalam berbagai kasus, keturunan berikutnya yang bergabung dalam bisnis keluarga hanya untuk menyenangkan orang tua akan menjadi penerus dengan performa buruk dan harga diri yang rendah. Di bawah kepemimpinan mereka, bisnis, lebih sering daripada tidak, pasti akan gagal. Mereka menjadi rentan terhadap apa yang disebut ‘penerus terkutuk’. Generasi ‘terkutuk’ ini terlalu meniru orang tua mereka dan tidak beradaptasi dengan tuntutan perubahan model bisnis yang ada. Jika mereka mampu beradaptasi, maka penerus terkutuk akan menjadi penerus berkat bagi stakeholders.
Data dirangkum dan diolah dari berbagai sumber oleh :
Dr. Andy Kurniawan Bong, SE, MBA (Dosen Senior)

