Lanjutkan Program Prioritas Nasional, Kominfo Percepat Pemerataan Akses Internet

0
Telkomsel Bangun BTS Ramah Lingkungan di Sumbagsel

Telkomsel Bangun BTS Ramah Lingkungan di Sumbagsel OPERATOR telekomunikasi, Telkomsel, tercatat telah menggelar sebanyak 22 base transceiver station atau BTS dengan energi ramah lingkungan di wilayah Sumatra Bagian Selatan. General Manager Network Operation and Quality Management Telkomsel Sumatra Bagian Selatan (Sumbagsel), Rowland Silalahi, mengatakan kebutuhan energi yang besar mendorong pihaknya untuk memanfaatkan energi ramah lingkungan, salah satunya lewat teknologi fuel cell. “Fuel cell menjadi sumber energi dengan bahan bakar hydro plus (campuran methanol dan air) yang kami implementasikan di Sumbagsel,” katanya, Selasa (9/2/2021). Adapun BTS tersebut tersebar di Sumatra Selatan (Sumsel), Lampung, Bengkulu dan Jambi. Ia menjelaskan, teknologi fuel cell dapat memproduksi energi listrik dengan gas buang berupa uap air (zero emission). Secara nasional, perusahaan telah menggelar 216 BTS Go Green Fuel Cell. Rowland menjelaskan bahwa pemanfaatan energi ramah lingkungan bukanlah hal baru bagi Telkomsel. “Sebelumnya, Telkomsel memanfaatkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan solar cell (tenaga surya ) dan wind turbin (tenaga angin),” ujarnya. Menurut dia, penggunaan sumber energi alternatif ramah lingkungan ini juga turut menjadi bagian dari upaya perusahaan memastikan ketersediaan jaringan broadband di seluruh penjuru negeri. “Semangat pemanfaatan energi ramah lingkungan ini akan terus kami jaga untuk mewujudkan Industri Telekomunikasi yang ramah lingkungan di Indonesia,” katanya. Diketahui, saat ini Telkomsel membutuhkan sumber energi untuk mengoperasikan 228.000 BTS yang tersebar di Tanah Air. (DW) Teks Foto BTS ramah lingkungan milik Telkomsel yang ada di Sumbagsel.

Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan percepatan pemerataan akses internet di seluruh Indonesia. Sebagai Program Prioritas Nasional, hal itu dilaksanakan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo dengan melanjutkan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) 4G, pemanfaatan jaringan kabel serat optik Palapa Ring, dan pengoperasian Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1.

“Kami berkomitmen mempercepat penyelesaian pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan informasi untuk mendukung transformasi digital Indonesia sesuai amanat  Presiden Republik Indonesia Joko Widodo,” tandas Direktur Utama BAKTI Kementerian Kominfo Fadhilah Mathar dalam Pertemuan dengan Pekerja Media di Kantor BAKTI Kementerian Kominfo, di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Dirut BAKTI Kementerian Kominfo  capaian penyelesaian pembangunan BTS 4G berdasarkan data per 16 Juli 2023 sudah beroperasi 4.343 titik termasuk adanya tambahan 626 lokasi yang sudah siap dan secara fisik sudah terbangun.

“Akumulasi capaian tahap 1 dan 2 adalah 4.341 sudah on-air, dari total 5.618 BTS, dan terdapat 1.277 BTS yang belum on-air. BAKTI berkomitmen untuk menuntaskan pembangunan BTS 4G di daerah 3T tahun ini,” jelasnya.

Meski saat ini proyek BTS 4G BAKTI tengah berproses secara hukum, Dirut Fadhilah Mathar menyatakan Pembangunan Infrastruktur Menara BTS 4G harus terus berjalan dan diselesaikan demi terwujudnya transformasi digital Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya menerapkan perbaikan  tata kelola dengan menekankan prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas dan kepatuhan pada seluruh perundang-undangan.

“Tentu kami menyiapkan perbaikan tata kelola BAKTI. Tata kelola ini kerangkanya ada tiga. Pertama adalah good governance, kemudian kepedulian kami terhadap risiko, dan yang terakhir terkait dengan compliance kami terhadap peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Mengenai Proyek Palapa Ring yang telah selesai dilaksanakan, Dirut BAKTI Kementerian Kominfo menjelaskan salah satu dampak yang bisa dirasakan adalah pemerataan akses dan harga layanan internet cepat (broadband) di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia. 

“Proyek Palapa Ring merupakan proyek backbone infrastruktur telekomunikasi serat optik di seluruh Indonesia sepanjang 36.000 kilometer yang menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia,” tuturnya.

Dirut Fadhilah Mathar juga menjelaskan perkembangan SATRIA-1 yang siap terhubung dengan Remote Terminal Ground Segment (RTGS) di 150 ribu titik layanan publik terutama yang berada di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Kami harapkan sampai tahun 2025, seluruh desa berpemukiman di Indonesia itu sudah tercover teknologi seluler atau tersedia jaringan internet,” ungkapnya.

Ke depan, Dirut BAKTI Kementerian Kominifo menegaskan akan terus meningkatkan penyelesaian program strategis Pemerintah. “Terutama yang menjadi wilayah layanan BAKTI adalah wilayah lokasi prioritas pembangunan yang saat ini memang dikategorikan untuk wilayah-wilayah yang tidak atau belum dibangun oleh pihak swasta,” tandasnya.

Dalam acara itu Dirut BAKTI Kominfo Fadhilah Mathar didampingi Direktur Infrastruktur, Danny Januar Ismawan; Plt. Direktur Layanan Masyarakat dan Pemerintah, Bambang Noegroho; dan Plt. Direktur Sumber Daya dan Adminstrasi, Soedarmato. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *