Lima Wisata Religi Ramadhan 2019

0
masjid kubah mas

Wisata religi dimaksudkan untuk memperkaya wawasan keagamaan dan memperdalam rasa spiritual kita. Karena bagaimanapun, ini adalah perjalanan keagamaan yang ditujukan untuk memenuhi dahaga spiritual, agar jiwa yang kering kembali basah oleh hikmah-hikmah religi. Jadi ini bukan wisata biasa yang hanya dimaksudkan untuk bersenang-senang, menghilangkan kepenatan pikiran, semacam dengan pergi ke tempat hiburan.

Dengan demikian, maka semestinya tujuan wisata religi tidaklah sempit, namun memiliki cakupan yang sangat luas, dan sifatnya cukup personal. Artinya tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata religi tidak terbatas pada makam-makam para wali saja, namun mencakup setiap tempat yang bisa menggairahkan cita rasa religiusitas kita, atau bisa menyegarkan dahaga spiritual kita, baik itu pemakaman para wali, museum-museum kesejarahan Islam, tempat-tempat bersejarah, atau tempat apapun yang bisa menyampaikan kita pada tujuan yang dikehendaki dalam wisata religi itu. Tergantung kecendrungan kejiwaan masing-masing orang.

Namun sebagaimana diketahui secara umum, bahwa pada tataran praktis, masyarakat memahami dan menjalani wisata religi ini hanya dengan cara berziarah dan mengunjungi makam-makam para wali saja, baik wali songo maupun yang lain. Tentu saja ini telalu sempit untuk menjelaskan wisata religi dalam tataran praktis.

Mengisi Ramadhan dengan berwisata? Berikut lokasi wisata religi yang mungkin bisa jadi pilihan Anda:

  1. Masjid Raya Al-Mashun, Medan

Kota Medan kaya akan tempat wisata yang juga memiliki nilai-nilai sejarah di dalamnya, salah satunya wisata religi. Salah satu ikon wisata religi di Kota Medan adalah Masjid Raya Al-Mashun atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Medan.

Masjid Raya Al-Mashun merupakan salah satu peninggalan seorang Sultan Deli di Sumatera Utara yang bernama Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam (1873-1924) yang sangat monumental dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Masjid Raya Al-Mashun terletak di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 18.000 meter persegi ini berada di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Masjid Raya Medan. Bangunan dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India dan Eropa di abad 18 tersebut, penuh arsitektur dan ornamen-ornamen kaligrafi di setiap sudutnya. Masjid Raya Al-Mashun ini tidak pernah sepi dari pengunjung, terlebih saat memasuki Ramadan.

Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam sebagai pemimpin Kesultanan Deli memulai pembangunan Masjid Raya Al-Mashun pada tanggal 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H). Keseluruhan pembangunan rampung pada tanggal 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H) sekaligus digunakan yang ditandai dengan pelaksanaan sholat Jum’at pertama di masjid ini. Keseluruhan pembangunannya menghabiskan dana sebesar satu juta Gulden. Sultan memang sengaja membangun masjid kerajaan ini dengan megah, karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri, Istana Maimun. Pendanaan pembangunan masjid ini ditanggung sendiri oleh Sultan, namun konon Tjong A Fie, tokoh kota Medan dari etnis Tionghoa yang sezaman dengan Sultan Ma’moen Al Rasyid turut berkontribusi mendanai pembangunan masjid ini.

Sebagian dari bahan bangunan untuk mendekorasi masjid ini dibuat di negara Italia. Masjid Agung ini adalah masjid yang paling indah dan Masjid terbesar di Sumatera Utara. Masjid ini begitu megah serta mengagumkan dan dikagumi orang lantaran memiliki bentuk tidak sama dengan masjid biasanya.

Masjid Raya Medan berupa persegi delapan dengan empat serambi paling utama dibagian depan, belakang serta samping kiri kanan. Ke empat serambi itu menjadi pintu masuk ke Masjid Raya Medan. Dibagian dalam, ada delapan pilar berdiameter 0, 60 m yang menyokong kubah paling utama di bagian tengah. Sedang empat kubah yang lain ada diatas ke empat serambi. Ada juga dua menara di samping kiri kanan sisi belakang Masjid Al-Mahsun.

Sejak dibangun sampai saat ini, Masjid Raya Medan belum pernah direnovasi. Menurut salah seorang pengelola masjid, pemerintah daerah Sumatera Utara pernah merencanakan renovasi bagian-bagian Masjid Raya Al-Mashun yang telah rusak dimakan usia dan perluasan agar dapat menampung Jama’ah lebih banyak.

Namun, karena ditentang dari berbagai pihak  yang khawatir nilai-nilai seni dari gaya arsitektur asli bangunan ini hilang, akhirnya pemerintah daerah hanya menambah sarana penunjang masjid, seperti penambahan tempat wudhu wanita tanpa mengutak-atik bangunan utamanya. itulah sebabnya, bangunan masjid ini masih tetap utuh seperti bentuk aslinya ketika dibangun lebih dari seabad.

Apalagi, setiap Ramadan jumlah pengunjung yang melakukan wisata dan beribadah di masjid ini bisa mencapai ribuan orang. Mulai dari pagi sampai pagi hari kemudian. Masjid ini juga sering didatangi wisatawan asing. Selain melihat keindahan eksotik ruangan di dalam gedung, pengunjung juga akan disuguhkan sejarah peninggalan, termasuk Alquran berusia ratusan tahun.

Setiap Ramadan, Masjid Raya Al-Mashun juga mempunyai tradisi lama peninggalan Sultan Ma’moen. Masjid ini menyajikan hidangan khusus yang mungkin tidak ditemukan di daerah lain. Hidangan buka puasa secara gratis ini disuguhkan kepada jemaah, fakir miskin, dan anak yatim piatu.

Masjid yang mampu menampung jemaah sekitar 1.500 orang tersebut menyuguhkan hidangan sop pedas dengan cita rasa rempah-rempah. Konon katanya, Sultan Ma’moen, saat menjadi raja melakukan hal itu di saat Ramadan.

  1. Makam Sunan Ampel, Jawa Timur

Salah satu wisata religi di Jawa Timur yang terkenal adalah Makam Sunan Ampel yang berada di kawasan kota Surabaya. Makam Sunan Ampel ini berada di daerah belakang kawasan Masjid Ampel tepatnya di Jalan KH Mas Mansyur Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, Jawa Timur.

Sunan Ampel atau yang bernama asli Rahmatulloh atau Raden Rahmat merupakan pria kelahiran 1401 di Champa. Ia merupakan anak dari Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dengan putri Raja Champa, Dewi Chandrawulan. Penyebaran agam Islam yang dilakukan Rahmatulloh diawali kala ia mengunjungi bibinya, Dwarawati, yang menikah dengan Raja Majapahit, Prabu Sri Kertawijaya. Dalam kunjungannya, Raden Rahamt diminta untuk mendidik rakyat Majapahit yang kala itu mengalami degadrasi moral. Kurang lebih ada 300 keluarga yang ia didik dan mendirikan pemukiman di tanah Ampeldenta, Surabaya. Karena lokasi tempat ia tinggal pula, Rahmatulloh juga disebut dengan Sunan Ampel.

Selama bertugas di tanah Majapahit, Rahmatulloh juga dinikahkan dengan puteri Bupati Tuban Tumenggung Arya, Nyai Ageng Manila. Di sinilah Rahmatulloh mendapat gelar Raden yang akhirnya dipanggil Raden Rahmat. Ketika menginjakkan kaki pertama kali ke tanah Ampel, Raden Rahmat mendirikan sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Ia juga mendirikan pesantren dengan konsep yang sama dengan pesantren milik ayahnya di Gresik.

Sunan Ampel juga memiliki ajaran yang sangat memperhatikan kebiasaan masyarakatnya agar ajarannya bisa diterima dengan baik oleh mereka, seperti penyebutan kata musholla dengan ”langgar” yang mirip dengan kata langgar, sholat dengan kata “sembahyang”, dan para muridnya yang disebut dengan santri mirip dengan kata shastri yang dalam Hindu berarti orang yang tahu buku suci agama Hindu.

Sunan Ampel cukup terkenal karena kebijaksanaannya hingga ketika ayahnya meninggal, ia yang menggantikan sebagai sesepuh Wali Songo dan menjadi juru fatwa di tanah Jawa. Di tahun 1478, Sunan Ampel meninggal dan dimakamkan di samping masjid Ampel. Kini makamnya ramai dikunjungi para peziarah terutama jelang bulan Ramadhan. Bahkan pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan, peziarah yang bertandang bisa mencapai 20.000 orang.

Kawasan yang telah ditetapkan sebagai wisata religi oleh Pemkot Surabaya di tahun 1972 ini juga dikunjungi sejumlah wisatawan mancanegara, seperti China, Belanda, Saudi Arabia, Malaysia, dan masih banyak lagi. Bahkan sejumlah turis asing yang tidak beragama Islam pun kerap mendatangi makam wali ini. Mereka juga menghormati peraturan yang ditetapkan pengelola dengan menggunakan sarung sebagai penutup kepala sebagai pengganti pakaian muslim.

Mengunjungi makam Sunan Ampel memang bukan hanya sekedar berwisata religi. Di sini pengunjung bisa menikmati arsitektur masjid yang dibangun dengan gaya arsitektur perpaduan Jawa Kuno dan Arab. Masjid ini juga dipercaya memiliki karomah tersendiri karena meski diserang penjajah berkali-kali namun tidak mengalami kerusakan.

Beberapa keunikan dari Masjid Sunan Ampel ini bisa dilihat dari 16 tiang penyangga terbuat dari kayu jati dengan panjang kurang lebih 17 meter tanpa menggunakan sambungan. Konon usia dari kayu penyangga tersebut berumur lebih dari 600 tahun dan masih tetap kokoh hingga saat ini. Tidak berhenti sampai disitu saja, pada tiang penyangga terdapat ukiran kuno yang menjadi peninggalan dari zaman Majapahit. Ukiran tersebut ternyata memiliki makna yakni Keesaan Tuhan atau Kuasa Tuhan. Jumlah pintu di Masjid Sunan Ampel ini ada 48 pintu berdiameter 1,30 meter dan tinggi 2 meter.

Ada bangunan lain yang menjadi ciri khas Masjid Sunan Ampel ini yakni menara setinggi 50 meter. Dahulu kala, menara ini berfungsi sebagai pengeras suara Adzan. Tepat disebelah menara ada sebuah kubah berbentuk pendopo Jawa berlambang ukiran mahkota berbentuk matahari. Bentuk ukiran matahari tersebut melambangkan kejayaan dari kerajaan Majapahit. 

  1. Makam Sunan Gunung Jati, Jawa Barat

 Cirebon merupakan kota di Jawa Barat yang cukup terkenal berkat adanya makam Syarif Hidayatullah, seorang mubaligh, pemimpin spiritual, dan sufi yang juga dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Ia dilahirkan tahun 1448 Masehi dari pasangan Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alim dan Nyai Rara Santang.

Sunan Gunung Jati sampai di Cirebon pada tahun 1470 Masehi, yang kemudian dengan dukungan Kasultanan Demak dan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana (Raja Cirebon pertama sekaligus uwak Syarif Hidayatullah dari pihak ibu), ia dinobatkan menjadi Raja Cirebon ke-2 pada tahun 1479 dengan gelar Maulana Jati.

Sunan Gunung Jati berpulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi. Tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa tahun 1491 Saka, meninggal dalam usia 120 tahun.

Makam Sunan Gunung Jati terletak di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati dan keluarganya ini disebut dengan nama Wukir Sapta Rengga. Makam ini terdiri dari sembilan tingkat, dan pada tingkat kesembilan inilah Sunan Gunung Jati dimakamkan. Sedangkan tingkat kedelapan ke bawah adalah makam keluarga dan para keturunannya, baik keturunan yang dari Keraton Kanoman maupun keturunan dari Keraton Kasepuhan.

Makam yang menempati lahan seluas 4 hektar ini merupakan obyek wisata ziarah yang banyak dikunjungi oleh para peziarah baik dari Cirebon maupun dari daerah lainnya. Makam gunung Jati menurut masyarakat selain sebagai tempat komunikasi dengan Pencipta juga dianggap sebagai tempat untuk ngalap berkah, sehingga setiap hari tidak pernah sepi, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti Jumat Kliwon, peringatan maulud Nabi Muhammad SAW, ritual Grebeg Syawal, ritual Grebeg Rayagung, dan ritual pencucian jimat.

Bangunan makam Sunan Gunung Jati memiliki gaya arsitektur yang unik, yaitu kombinasi gaya arsitektur Jawa, Arab, dan Cina. Arsitektur Jawa terdapat pada atap bangunan yang berbentuk limasan. Arsitektur Cina tampak pada desain interior dinding makam yang penuh dengan hiasan keramik dan porselen. Selain menempel pada dinding makam, benda-benda antik tersebut juga terpajang di sepanjang jalan makam. Semua benda itu sudah berusia ratusan tahun dan kondisinya masih terawat. Benda-benda tersebut dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Ratu Rara Sumandeng dari Cina sekitar abad ke-13 M. Sedangkan arsitektur Timur Tengah terletak pada hiasan kaligrafi yang terukir indah pada dinding dan bangunan makam itu.

Komplek makam ini juga dilengkapi dengan dua buah ruangan yang disebut dengan Balaimangu Majapahit dan Balaimangu Padjadjaran. Balaimangu Majapahit merupakan bangunan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit untuk dihadiahkan kepada Sunan Gunung Jati sewaktu ia menikah dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari salah seorang pembesar Majapahit yang bernama Ki Ageng Tepasan. Sedangkan Balaimangu Padjadjaran merupakan bangunan yang dibuat oleh Prabu Siliwangi untuk dihadiahkan kepada Sunan Gunung Jati sewaktu ia dinobatkan sebagai Sultan Kasultanan Pakungwati (kasultanan yang merupakan cikal bakal berdirinya Kasultanan Cirebon).

Di area makam Sunan Gunung Jati terdapat fasilitas seperti penginapan, warung makan, masjid, pendopo, Paseban Besar (pendopo tempat penerimaan tamu), Paseban Soko (tempat untuk bermusyawarah), parkir luas, dan alun-alun. Di lokasi ini juga terdapat pedagang kaki lima, kios cenderamata, kios buah-buahan, dan lain-lain.

Makam Sunan Gunung Jati berjarak kurang lebih 6 km ke arah utara dari Kota Cirebon. Untuk menuju lokasi makam ini pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau naik angkutan umum dari Terminal Cirebon. Dari terminal ini, pengunjung naik bus jurusan Cirebon-Indramayu dan turun di lokasi. Perjalanan dari Cirebon menuju lokasi makam ini biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.

  1. Masjid Agung Demak, Jawa Tengah

 Masjid Agung Demak merupakan tempat ibadah sekaligus objek wisata religi andalan Kabupaten Demak. Selain fungsinya sebagai rumah ibadah, masjid tersebut juga ramai dikunjungi pelancong untuk berwisata menikmati perpaduan antara wisata religi dan wisata sejarah.

Terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo.

Sejarah berdirinya Masjid Agung Demak dibangun atas perintah Raden Patah pada abad ke-15 Masehi, yang kala itu juga sebagai raja pertama Kerajaan Demak. Masjid ini juga menjadi simbol akan berdirinya kerajaan -kerajaan Islam di Pulau Jawa. Hal tersebut dikarenakan Kerajaan Demak merupakan salah satu kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu).

Karena memang sebagai tempat berkumpul, masjid ini meninggalkan nilai-nilai kehidupan lainnya yang masih berada di komplek masjid seperti museum, makam para raja, dan peninggalan bersejarah lainnya.

Para pengunjung yang datang ke masjid ini biasanya menyempatkan diri untuk shalat atau sekadar berdiam diri di dalam masjid. Selain itu, pengunjung juga biasanya mengamati indahnya arsitektur Masjid Agung Demak.

Selain beribadah, banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Demak, Jateng itu. Di lokasi ini pengunjung juga bisa berziarah ke makam-makam raja Kesultanan Demak yang terletak di belakang masjid. Beberapa makam raja Kesultanan Demak yang ada di lokasi itu, yakni Raden Patah yang merupakan Raja I Kesultanan Demak, Pati Unus, dan Sultan Trenggono.

Habis berwisata religi dengan beribadah dan berziarah, pengunjung juga bisa menikmati wisata sejarah di Masjid Agung Demak. Para pengunjung bisa melihat beberapa benda pusaka yang tersimpan di museum yang terletak di sebelah selatan Masjid Agung Demak.

Beberapa benda yang tersimpan di museum itu antara lain, bagian-bagian sakaguru yang rusak milik Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, dan Sunan Ampel. Selain sakaguru, di museum itu juga terdapat kentongan dan beduk peninggalan para wali, dua buah tempayan besar dari Dinasti Ming yang merupakan hadiah dari Putri Campa pada abad ke-14, serta kosen dan Pintu Bledeg buatan Ki Ageng Selo pada 1466.

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Masjid Agung Demak pernah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

  1. Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Berdirinya Masjid Menara Kudus tidak lepas dari peran Sunan Kudus sebagai pendiri dan pemrakarsa. Sebagaimana para walisongo yang lainnya, Sunan Kudus memiliki cara yang amat bijaksana dalam dakwahnya. Di antaranya, beliau mampu melakukan adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya mapan dengan mayoritas beragama Hindu dan Budha. Pencampuran budaya Hindu dan Budha dalam dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, salah satunya dapat kita lihat pada masjid Menara Kudus ini.

Sehari-hari, pengunjung datang ke masjid ini untuk beribadah sekaligus berziarah ke makam Sunan Kudus yang terletak di sisi barat kompleks masjid. Selain itu, masjid ini menjadi pusat keramaian pada Festival Dhandhangan yang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab. Memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah.

Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai “Lawang Kembar”. Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.

Menara Masjid Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma.

Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Ada keunikan dari masjid ini karena memiliki menara yang serupa bangunan candi serta pola arsitektur yang memadukan konsep budaya Islam dengan budaya Hindu-Budha sehingga menunjukkan terjadinya proses akulturasi dalam pengislaman Jawa. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada tahun 1895 M. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: 1 kaki, 2 badan, dan 3 puncak bangunan.

Menara ini dihiasi pula antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil). Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.

Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.

Di sekitar lokasi masjid pun kita dapat membeli cinderamata atau makanan khas daerah Kudus, dengan harga yang cukup terjangkau. Toko-toko cinderamata dan oleh-oleh biasanya selalu penuh dikunjungi orang yang telah selesai beribadah di Masjid Menara dan berziarah ke makam Sunan Kudus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *