Makam Pangeran Diponegoro di Makassar Ramai Peziarah dan Wisatawan di Akhir Pekan

0
dsc_7384_makassarmakamdiponegoro

Makassar tak hanya dikenal dengan wisata baharinya yang eksotis,  di kota yang berjuluk Anging Mamiri ini terdapat destinasi wisata sejarah dan spiritual yang tersohor hingga luar domestik.

Di kota ini dimakamkan tubuh pahlawan nasional Pangeran Diponegoro bersama istri, anak dan cucunya.

Lokasi kompleks makam Pangeran Diponegoro dan keluarganya ini terletak di pusat kota Makassar, di dekat pusat perbelanjaan Pasar Sentral Makassar. Nama Pangeran Diponegoro diabadikan menjadi nama jalan di depan makam sejak tahun 1970-an, yang sebelumnya bernama Jalan Maccini Ayo, di daerah Kampung Melayu, Makassar.

Makam Pangeran Diponegoro merupakan bangunan sederhana yang terdiri dari pintu gerbang, pendopo dan 66 bangunan makam. Yakni, 2 makam ukuran besar, 25 makam ukuran sedang, dan 39 makam ukuran kecil. Makam-makam tersebut adalah makam Diponegoro dan istrinya, 6 orang anaknya, 30 orang cucu, 19 orang cicit dan 9 orang pengikutnya.

Kompleks makam ini ramai dikunjungi oleh mayoritas turis domestik asal pulau Jawa. RM Saleh yang merupakan cicit Pangeran Diponegoro ini menjaga makam eyang kakung-nya setiap hari, dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita.

Makassar adalah tempat pengasingan terakhir sang putra mahkota Sri Sultan Hamengkubuwono III ini. Usai melakukan perang gerilya selama sekitar lima tahun terhadap Belanda dan sekaligus pemerintahan Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda.

Belanda kemudian membuangnya ke Manado. Terakhir ia hidup dalam wilayah perasingan di Makassar selama 21 tahun bersama salah satu istri, RA.Ratu Ratna Ningsih dan beberapa anak cucunya. Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta 11 November 1785 dan meninggal di Benteng Rotterdam Sulsel pada 8 Januari 1885.

Dahulu makam Pangeran Diponegoro belum sebagus ini. Hanya berupa batu nisan biasa. Pemerintah kemudian memugar dan membangun kompleks pemakaman pada tahun 1970-an usai beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *