Menangguk Untung Dengan Kerudung
Kumala Dewi, (Produsen Jilbab)
Bisnis bisa bermula ketika kesempatan, jeli melihat peluang dan keterampilan dipertemukan. Dewi yang asal Bandung ini melaju dnegan bisnis yang ditekuninya dari hobi.
Sejak awal Dewi memang menyukai bidang fashion. Ide kreatifnya muncul lantaran ia sendiri hobi menjahit dan menyulam. `Aku bikin sendiri jilbab yang nggak ada di pasaran. Waktu aku pakai, eh, teman-teman banyak yang ketarik. Mereka lalu memesan agar dibuatkan. Itu awal aku berjualan jilbab, “ ungkap wanita kelahiran Bandung 4 Juni 1974 ini.
Melihat animo yang besar dari rekan-rekannya, tahun 2006 Dewi mencoba mengembangkan usahanya. Ia membuka workshop kecil-kecilan di ITC Bandung. Namun toko kecilnya terpaksa tutup, ‘’Aku bangkrut karena biaya operasionalnya nggak mampu ditutupi dari keuntungan yang didapat. Lagian, banyak sekali kompetitor kalau pas aku ikutan pameran. Kalau hari itu aku keluarin satu model, besoknya sudah ada yang bikin persis sama di pameran tersebut. Kalau hari ini aku buka layanan desain aksesoris di situ, besoknya, tempat-tempat lain juga menawarkan hal yang serupa. Wah sulit banget rasanya nembus pasar. Itu yang bikin aku frustasi,’’ kenangnya.
Jeli Menangkap Peluang
Toh hal itu tak berlangsung lama. Peruntungan Dewi berubah di tahun 2009, ‘‘Aku ketemu teman di Facebook. Ia kerja di bagian purchasing di sebuah penyedia perlengkapan haji dan umroh terbesar di kota Bandung. Dari obrolan ringan, dia mengeluhkan tentang sulitnya mencari distributor kerudung dengan hiasan sulam tangan. Aku nggak sia-siakan peluang ini. Aku langsung bilang kalau aku bisa bikin jilbab dengan hiasan sulam, ‚‘ kenang Dewi.
Untuk awal, Dewi menerima pesanan 10 buah kerudung sulam. Rupanya hasil buatan tangan Dewi berkenan sekali untuk si pemesan. “Setelah itu datang pesanan sampai ratusan buah. Aku sampai kelabakan. Dan akhirnya meminta tolong ibu–ibu sekitar rumah,“ bebernya.
Ketika tren peniti kerudung marak di Bandung, Dewi kecipratan rejeki ini. “Aku mulai serius menjalani bisnis ini. Dan modal awalku cuma Rp.20 juta. Yang separuhnya untuk biaya operasional, mulai membeli bahan kain dan batu-batu kristal dan manik-manik untuk aksesoris. Aku juga mengangkat 7 orang karyawan tetap, serta karyawan harian,” tuturnya.
Dewi mengaku tidak kesulitan untuk mencari bahan baku. Ia biasa mendapatkan dari toko-toko di sekitar Bandung dan Jakarta saja.
Tahun 2011, saat pasaran peniti kerudung mulai surut, bisnis Dewi tidak terguncang. ‘‘Karena pengalaman masa lalu, jadi aku sudah siap. Aku selalu rajin browsing mengenai mode yang lagi ngetren. Ketika Lebaran 2011, model baju kaftan mulai muncul dengan ikon Syahrini, aku justru nggak membuat bajunya. Karena pasti banyak di toko-toko. Justru yang kubidik adalah pasar aksesorinya, yaitu bros-bros besar buat padanan kaftan tersebut. Alhamdulillah, pesanan meningkat lagi,“ ujarnya sambil tersenyum manis.
Berkah Hijabers
Awal tahun 2012, ketika trend hijabers mulai muncul, Dewi mengambil peluang itu. Lagi-lagi hanya aksesorisnya. ‚‘Aku sengaja menawarkan konsep girlie, bahan yang dipakai kebanyakan berbahan dasar kain, renda renda dan manik-manik.‘‘Aku buat bahan baku tersebut menjadi bros-bros yang keren,“ ujarnya.
Namun, satu hal yang jusru membuka wawasan baru, “Ternyata brosku itu nggak hanya dikenakan di baju, tapi di kerudung. Aku sempat terkaget-kaget ketika konsumenku meminta bantuan meletakkan bros di kepala. Padahal saat membuat model tersebut, yang kubayangkan di semat di dada, hehe …,“ seru Dewi.
Saat ini Dewi memroduksi jilbab pashmina bolak balik dan jilbab segi empat bolak balik. Kedua jenis model ini adalah inovasi terbaru dari jilbab. “Walaupun tren ini sudah ada sejak beberapa bulan yang lalu model jilbab biasa masih terus diminati sampai sekarang,“ jelasnya,
Untuk bahan, Dewi menggunakan bahan kaos, katun, sifon yang tidak panas ketika dikenakan. ‘‘Alhamdulillah, selama bulan puasa ikut pameran di Bandung, pashmina menjadi primadona di stand kami. Terimakasih para hijabers,“ serunya.
Dalam menjual produk, Dewi melayani eceran hingga grosiran dengan harga yang miring. ‘‘Sekarang kami melayani jualan dengan sistem online juga, demi memenuhi permintaan pelanggan. Sistem reseller juga saya siapkan agar kami bisa berkembang bersama,“ tuturnya.
Harga bersahabat
Dewi kini fokus menyasar target remaja dan ibu muda, ’’Karena harga kami bersahabat, pelanggan senakin banyak. Banyak juga yang pesan dari luar Jawa. Mulai dari Sumatra, Sulawesi, sampai Singapura. Omset perbulan juga variatif. Jika tidak ada kegiatan pameran, sekitar 30-75 juta perbulannya. Tapi jika situasi lebaran dan banyak mengikuti pameran, bisa sampai 300-400 jutaan,” jelasnya,

Harga sebuah pashmina berbahan sifon, ukuran 180 x 75 cm, dibandrol Rp. 35ribu, Bahan kaos dijual mulai 30ribuan. Model lain yang lebih banyak hiasan renda dan sebagainya berkisar dnegna harga di atasnya. “Kalau belinya banyak, tentu ada potongan harga lagi. Untuk jenis aksesoris, harga variatif dari mulai eceran Rp.5ribu sampai Rp.150ribu per setnya,” kata Dewi.
Memang tak ada usaha yang sia-sia meskipun pengalaman pahit pernah menghalang. Dewi tak menyerah kalah. ”Jalankan dan wujudkan saja dulu jika kamu punya mimpi berbisnis. Rugi itu biasa. Yang penting jangan menyerah, dan harus pandai menangkap peluang,” tutup Dewi.



