Mengatasi anak yang malas belajar
Cukup banyak anak-anak usia sekolah yang bermalas-malasan jika disuruh belajar, dan tak jarang mereka mendapatkan hasil belajar yang tidak memuaskan. Tak terhitung lagi berapa banyak orang tua yang mengeluh dan kecewa dengan nilai anaknya yang jeblok (jelek) karena anaknya malas belajar, dan sebaliknya seringkali juga anda menemukan anak yang ngambek atau menangis gara-gara selalu disuruh belajar. Ada orang tua yang memarahi anaknya, mengancam si anak untuk tidak akan membelikan ini dan itu kalau si anak tidak belajar, membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain, atau bahkan ada orang tua yang mengunakan kekerasan fisik.
Tentunya semua ini akan sangat berpengaruh pada fisik maupun psikis anak. Hal ini lah yang memperburuk anak untuk belajar, bukannya rajin malah akan makin tambah tidak mau belajar. Mungkin hal ini lah yang biasanya sedikit terlupakan oleh si orang tua, tidak bisa dipungkiri bahwa orangtua memiliki peran yang paling vital dalam proses belajar anak.
Mereka tidak mendapatkan dukungan dari orangtua dalam proses belajarnya. Bentuk dari dukungan ini bisa berupa bertanya tenatang sekolah, guru, mata pelajaran, teman serta kehidupan anak.
Lalainya orangtua memberikan bentuk disiplin yang tepat kepada anak membuat anak lebih memberikan banyak perhatian kepada hal yang tidak penting seperti menonton TV dan bermain game berjam-jam hingga anak lupa waktu untuk belajar. Ketika akan belajar, waktu tidur sudah menanti dan saatnya untuk tidur. Jadinya anak tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan kebablasan tidur. Inilah beberapa alasan dasar mengapa anak memiliki kebiasaan malas belajar. Memang sangat masuk akal bila hal tersebut terjadi dengan alasan di atas. Setalah anda mengetahui penyebab mengapa anak memiliki kebiasaan malas belajar maka saat yang tepat untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi malas belajar pada anak. Untuk itulah perlu anda melakukan beberapa hal berikut ini.
Orang tua sebagai contoh figur bagi anak sangat berpengaruh pada kehidupan anak. Jika orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak sedikit orang tua yang menuntut anak untuk belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan mengajarkan kepada anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar. Akibat dari tuntutan tersebut, tidak sedikit anak yang stress dan sering marah-marah (ngambek) sehingga nilai yang ia peroleh kurang memuaskan. Sayangnya, tidak jarang orang tua marah-marah dan mencela anaknya ketika anak mendapat nilai yang kurang memuaskan. Menurut para pakar psikologi, sebenarnya anak usia Sekolah Dasar jangan terlalu diorientasikan pada nilai (hasil belajar), tetapi bagaimana membiasakan diri untuk belajar, berlatih tanggung jawab, dan berlatih dalam suatu aturan.
Rumah mewah dan megah tidak menjamin anak menjadi rajin belajar, bahkan rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar. Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah rumah yang selalu penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), Game Boy, NDS, maupun Play Stations. Kondisi seperti ini berpotensi besar untuk tidak terciptanya suasana belajar yang baik. Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar, kekurangan ataupun ketiadaan sarana untuk belajar secara langsung telah menciptakan kondisi anak untuk malas belajar.
Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku-buku penunjang (pustaka mini), dan penerangan yang bagus. Selain itu, tidak tersediannya buku-buku pelajaran, buku tulis, dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal. Setelah itu semua anda bisa melaksanakannya, cara terakhir adalah kesepakatan yang dibuat untuk menciptakan keadaan dan tanggung jawab serta memotivasi anak dalam belajar bukan memaksakan kehendak orang tua. Kesepakatan dibuat mulai dari bangun tidur hingga waktu hendak tidur, baik dalam hal rutinitas jam belajar, lama waktu belajar, jam belajar bilamana ada PR atau tidak, jam belajar di waktu libur sekolah, bagaimana bila hasil belajar baik atau buruk, hadiah atau sanksi apa yang harus diterima dan sebagainya. Kalaupun ada sanksi yang harus dibuat atau disepakati, biarlah anak yang menentukannya sebagai bukti tanggungjawabnya terhadap sesuatu yang akan disepakati bersama. (arf)

