Mentan Minta Produk Perkebunan Indonesia Kuasai Pasar Ekspor Dunia di 2022
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan sektor perkebunan telah membuktikan diri menjadi sektor strategis dalam membantu kinerja pertanian di tengah pandemi Covid-19. Dengan hasil yang membanggakan itu, maka di tahun 2022, perkebunan dapat lebih maju, mandiri dan modern agar dapat berperan besar dalam membantu pertumbuhan ekonomi dan tak kalah penting, perkebunan harus dapat menguasai pasar ekspor.
“Ini adalah momentum untuk konsolidasi atas apa yang sudah kita lakukan satu tahun kebelakang, dan apa yang akan kita lakukan di tahun mendatang, maka di 2022 Perkebunan harus menjadi sektor yang makin maju mandiri dan modern” ungkap Syahrul saat membuka Rapat Koordinasi Pembangunan Perkebunan di Bogor, Rabu (29/12/2021).
Menurut Mentan, program unggulan yang dimiliki sektor perkebunan harus dapat menjawab semua tantangan di tahun mendatang. Selain itu, sektor perkebunan juga dinilai mampu membuat akselerasi baik dari sisi hulu hingga hilir, ia meminta agar seluruh pihak yang terlibat di sektor ini berani menampilkan komoditas unggulan baru di sektor perkebunan.
“Tidak hanya sawit, kita punya komoditas unggulan perkebunan lain yang juga memiliki potensi besar bahkan di pasar dunia, ada kopi, kelapa, jambu mete, kakao, karet, lada, pala, dan cengkeh serta komoditas perkebunan lainnya, potensi ini dapat menjadi modal kita untuk melakukan lompatan – lompatan” tegas Syahrul.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, ungkap Syahrul nilai ekspor Pertanian Januari-November 2021 sebesar 569,11 triliun rupiah naik 42,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang hanya mencapai 399,45 triliun, dan sebagian besar dari nilai tersebut merupakan kontribusi dari sektor perkebunan.
“Kinerja ini harus terus di maintain bahkan ditingkatkan, kedepan saya ingin warung – warung kopi di dunia harus ada kopi Indonesia, dan produk – produk perkebunan lainnya harus ada di tempat – tempat strategis di dunia” katanya.
Di Kesempatan yang sama, Ali Jamil, Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, mengatakan Luas areal perkebunan Indonesia mencapai 27,5 juta hektar dan 65 persen diantaranya adalah perkebunan rakyat. Perkebunan rakyat ini lanjut Jamil memerlukan dukungan berbagai pihak untuk menghadapi berbagai tantangan baik dalam aspek produktivitas, skala usaha, kepemilikan lahan, hingga permodalan, pembiayaan maupun inovasi teknologi.
“Pekebun rakyat memerlukan dukungan untuk bangkit dalam menghadapi beberapa tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan pembangunan perkebunan, sehingga perlu ada intervensi pemerintah, kerjasama dan sinergi antara kementerian lembaga dan pemangku kepentingan lainya”, kata Jamil.
Skema anggaran dalam pembangunan perkebunan rakyat, lanjut Jamil mulai diarahkan agar tidak hanya bergantung dengan APBN, tetapi diarahkan pada pemanfaatan KUR, CSR dan sumber pembiayaan lainnya. (Sumber Kementan)


