Menteri PPPA Tinjau Pengungsian Banjir di Padang, Fokus Lindungi Perempuan dan Anak

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, melakukan kunjungan langsung ke posko pengungsian banjir di SDN 02 Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (1/12/2025). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan kelompok rentan—khususnya perempuan, anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas, mendapat perhatian penuh selama masa darurat.
Arifah menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau kondisi wilayah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kami sangat prihatin atas bencana yang menimpa masyarakat di berbagai daerah. Hari ini kami hadir di Kota Padang untuk menyapa para penyintas, terutama perempuan dan anak yang merupakan kelompok paling rentan. Sejak awal, kementerian telah berkoordinasi dengan dinas terkait di provinsi dan kabupaten/kota untuk memastikan pemenuhan kebutuhan spesifik mereka,” ungkapnya.
Posko SDN 02 Cupak Tangah saat ini menampung 1.973 jiwa dari 481 KK, termasuk 6 ibu hamil, 36 bayi dan balita, 171 anak, 71 lansia, dan 1 penyandang disabilitas. Arifah menegaskan bahwa kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam penanganan tanggap darurat.
“Negara hadir dan memastikan setiap perempuan, anak, lansia, maupun penyandang disabilitas memperoleh perlindungan serta hak-hak dasar mereka, baik selama masa darurat maupun nanti dalam fase pemulihan,” tegasnya.
Di berbagai titik bencana, termasuk Kota Padang, layanan dukungan psikososial telah mulai digelar oleh dinas terkait bersama elemen masyarakat. Bantuan khusus seperti hygiene kit, kebutuhan ibu hamil dan balita, obat-obatan, serta layanan psikologis terus diprioritaskan dalam pendistribusian. Dalam kunjungannya, Menteri PPPA juga turut membagikan susu kepada anak-anak sebagai dukungan pemenuhan gizi.
Arifah memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penanganan bencana.
“Kami berterima kasih kepada tim SAR, BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, tenaga medis, dan relawan yang bekerja tanpa henti dalam evakuasi, pencarian korban, serta pengiriman bantuan, termasuk ke wilayah yang masih sulit dijangkau. Solidaritas masyarakat Sumatera Barat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi masa sulit ini,” pungkasnya.
