Naiknya Harga Bahan Makanan Dorong Inflasi Sulsel
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan merilis Inflasi Sulsel pada Juli 2018 sebesar 0,56 persen. Ada 10 komoditas yang mendorong inflasi dan di peringkat pertama atau tertinggi adalah ayam ras.
10 komoditas yang menjadi pendorong inflasi diantaranya ayam ras broiler, tarif paket data dan pulsa telepon genggam (HP), cabai rawit, tomat buah, tomat sayur, beras, kangkung, asam, ikan kembung dan ikan cakalang.
Kepala Bidang Startistik Distribusi BPS Sulawesi Selatan Akmal mengatakan pada Juli 2018 ini tingkat inflasi masih cukup moderat di angka 0,56 persen dan posisi Provinsi Sulawesi Selatan itu berada di tengah-tengah.
Sedangkan 10 komoditas deflasi yang turun harga mengimbangi 10 komoditas inflasi itu yakni, angkutan udara, ikan bandeng, cabai merah, bawang merah, angkutan antarkota, emas perhiasan, baju kaus berkerah, wortel, kentang dan jagung manis.
“Kenapa inflasi di Sulsel itu selalu moderat karena selalu ada yang menjadi pengimbang inflasi. Deflasi menjadi penyeimbang supaya inflasi tidak terlalu tinggi,” katanya.
Akmal menyatakan inflasi pada Juli itu juga disebabkan oleh naiknya harga pada enam kelompok pengeluaran yang ditunjukkan dengan naiknya indeks harga.
Enam kelompok pengeluaran diantaranya, kelompok bahan makanan sebesar 1,77 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,46 persen).
Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,18 persen), serta kelompok kesehatan (0,11 persen), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,06 persen).
Sedangkan untuk satu kelompok lainnya yakni sandang justru sebaliknya mengalami penurunan sebesar -0,52 persen.
Akmal menyatakan dari lima kota besar di Sulsel, Kota Parepare adalah penyumbang inflasi tertinggi Sulsel yakni sebesar 1,02 persen. Sementara kota Makassar menyumbang inflasi sebesar 0,48 persen.