Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Korlantas Tetap Siaga Antisipasi Arus Balik Kedua
Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho sedang memberikan keterangan pers tentang penutupan Operasi Ketupat 2026 di Simpang Lima, Semarang, 15 Maret 2026, (Foto: Humas Korlantas Polri)
El John Neews, Jakarta-Setelah berjalan selama 12 hari, akhirnya operasi Ketupat 2026 resmi ditutup. Penutupan operasi yang rutin digelar setiap tahun dalam rangka pengamanan perayaan Idulfitri ini, dilakukan oleh Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho di Alun-alun Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Rabu malam (25/3/2026).
Operasi Ketupat tahun ini dinilai berhasil menjaga keselamatan pengguna jalan di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
Dari sisi keselamatan, Operasi Ketupat 2026 mencatat hasil positif. Angka fatalitas kecelakaan mengalami penurunan signifikan sebesar 30,89 persen, sementara jumlah kejadian kecelakaan turun 5,75 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Kakorlantas turut mengapresiasi sinergi antarinstansi serta peran aktif masyarakat dalam menjaga ketertiban berlalu lintas. Menurutnya, keberhasilan pengamanan mudik tahun ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak.
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Negara hadir untuk memastikan perjalanan mudik dan balik berjalan aman, nyaman, dan penuh makna,” pungkasnya
Meskipun operasi resmi dihentikan, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri memastikan pengawasan di lapangan tetap berlanjut melalui skema Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD). Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi lonjakan arus balik susulan.
“Operasi Ketupat sudah ditutup, namun kegiatan rutin yang ditingkatkan tetap berjalan. Anggota masih berada di lapangan untuk mengantisipasi arus balik, termasuk arus balik kedua”
Selama pelaksanaan operasi, pengamanan difokuskan pada lima sektor utama, yakni jalur arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, serta kawasan wisata. Pembagian klaster ini dinilai efektif dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat selama periode Lebaran.
Hingga penutupan operasi, sejumlah wilayah aglomerasi masih mengalami kepadatan lalu lintas. Kawasan seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya tercatat masih ramai akibat aktivitas silaturahmi yang terus berlangsung.
“Operasi Ketupat sendiri memiliki lima klaster pengamanan. Pertama adalah jalan arteri, yang hingga saat ini masih cukup padat di wilayah aglomerasi seperti Bandung, Bali, dan Malang Raya, karena masih banyak masyarakat melakukan silaturahmi lokal,” tutur dia.
Untuk mengatasi kepadatan tersebut, Polri menerapkan berbagai rekayasa lalu lintas, mulai dari sistem one way nasional hingga one way lokal presisi. Selain itu, contraflow juga diberlakukan secara bertahap di sejumlah ruas Tol Trans Jawa guna menjaga kelancaran arus kendaraan.
“Dengan manajemen rekayasa lalu lintas yang terukur, arus mudik dan arus balik dapat dikelola dengan baik meskipun volumenya tinggi,” jelasnya.
